UA-89306807-1

Hukum dia!

Dia adalah wanita yang telah mewarnai kanvas kehidupan banyak orang. Dia adalah neraca yang berat sebelah.
***

Aku dalam balutan mukena putih. Aku meniduri diri di atas lantai yang beralaskan sajadah. Aku disini seorang diri. Mencumbui sajadah dalam satu tujuan. Aku telah dipermalukan waktu, aku telah dipermalukan rasa, aku telah dipermalukan kenyataan. Maka disinilah, di penghujung malam aku ingin menyurati sang Penabuh cinta.

Aku dalam bingkaian sang malam, potret sunyi. Aku ingin meramaikan diri, menyerang, menuding. Walau ini yang pertama dan yang terakhir kali, kupantas meminta, “Hukum dia, hukum dia, hukum dia, hukum dia…!”

Aku tak lagi kuasa memberi jeda, tak lagi kuasa menjedakan diri. Blis telah berkedip, sedang aku malah terjatuh. Memeluk sajadah, menggigit jemari, meremas pipi, dan aku semakin larut dalam potret sunyi.

Jujur pita suaraku seakan kering, pekik suaraku telah memecahkan lensa potret sunyi. Aku merasa ramai, merasa menang, merasa tenang. Karena aku pantas meminta, “Hukum dia, hukum dia, hukum dia, hukum dia, hukum saja.. dia..! Hukum dia, walau dia itu aku”.

2 komentar:

  1. welwh-weleh...
    cup.. lantang banget bray..
    tak perlu ada komentar lah,,

    BalasHapus
  2. Wuiiic, kurang lantang tu cuy... ckckck

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers