UA-89306807-1

Liang-nya Mak Nyak dan Cak Bang

Matahari nampak enggan menarik selimut, hawa sejuk melamunkan dirinya untuk terus mengantuk, maka ruahlah sudah anugrah di pagi penuh barokah itu.

Mak Nyak membuka tirai ruang tengah, dinding kaca di penuhi bulir air hujan. Pintu kayu tertutup rapat, tidak ada seorang pun yang dibolehkannya pergi, setiap kali hujan turun deras terperangkaplah kami di dalamnya. Tidak perlu merancang alasan untuk bisa keluar, karena Mak Nyakku akan murka seketika. Itu pernah terjadi ketika Cak Bang (sapaanku untuk Abangku) keluar menuju mushala untuk mengumandangkan azan. Ketika ia pulang, Mak Nyak sudah menunggunya di depan pintu, wajahnya suram durja, ada guratan kecewa melingkar di sudut matanya, guratan khawatir kejadian dua tahun lalu kembali menuruni langkah cerita Mak Nyak.

"Kau punya kuping, hah?" terkam Mak ketika Cak Bang mencapai muka pintu dengan basah kuyup, daun pisang saja meleleh kena timpa butiran air hujan yang deras. Cak Bangku pucat menerima tanya Mak, juga karena kelamaan mandi air hujan.


"Punya, Mak" jawabnya mencoba menghilangkan suara gergetan giginya saling beradu.

"Lantas, apa pulak Kau membangkang? Mau Kau copot jantung Mak? Kalau mau ambil sana rencong, Kau belah saja ini dada Mak, Kau ambil jantung Mak, Mak lebih senang, Mak bisa segera bertemu Ayah." serbu Mak tak tahan menemukan ulang anak pertamanya yang tidak patuh, binar kristal melurai dari mata kecoklatannya. Aku berdiri di samping Mak dan memeluk bahunya, aku cukup mengerti kekhawatiran Mak kali ini.

Cak Bang menggapai tangan Mak, pelan-pelan lututnya mencium tanah, ia membungkuk layu menciumi penghujung menuju surga. "Mak, maaf Mak, Mak tak boleh bicara begitu, Abang cuma ke Mushala, Abang tau salah tidak patuh, Mak, maaf Mak... Abang janji tidak akan keluar lagi, tidak Mak, Mak maafin Abang." isak tangisnya tidak reda, berkali-kali ucap maaf keluar dari bibirnya masih menciumi kaki Mak. Aku menepuk pundak Mak, dan memeluknya dengan binar yang sama, aku sayang sekali pada Mak Nyak.

Mak Nyak membungkuk meninggalkan tanganku tidak lagi di bahunya, tangan cintanya mulai meraba pundak Cak Bang dan menyuruhnya bangkit. Peluk cinta Mak Nyak menciptakan roma cemburu sang hujan, aku ikut nimbrung memeluk mereka berdua, karena hanya mereka yang kupunya setelah kepergian Ayah karena di sambar petir dalam hujan deras.
****

Aku bernama Lianglang Nuhra, penduduk desa Meu Arang memanggilku Liang. Pagi ini cacing tanah enggan merangkak keluar rumah, ruang lembab kian susah di cari. Sesang aku dengan jeli menitikan jarum pada sehelai selendang segi empat berwarna kuning, sulamanku hampir jadi.
"Liang, ikot Cak Bang ke kebun yok..." ajak Cak Bang tiba-tiba melongo di balik tirai hijau muda.
"Lha, tumben ajak Liang? Oggah ah, panas cuacanya Cak Bang pergi saja sehendiri," aku langsung memberi jawaban tanpa melihat raut wajahnya.
"Tumben, Liang aja tiap kali Cak Bang ajak tak pernah mau, awas tu kalau Liang perlu, Cak Bang juga nggak mau. Uggh..." balasnya kesal karena benar, lagi-lagi aku yang menolak pintanya.
"Ihhhc, sikit-sikit ngambek... Iya iya... Liang pakai selendang ini sudah jadi, cantik Cak Bang?" tanyaku padanya yang memunculkan senyum senang, kupotong ujung benang dan memakainya segera.
"Wah, cantik tuh Liang, motif anggrek depan rumah ya?"
Aku mengangguk, dan menggait tangan Cak bang keluar kamar menuju kebun.
****bersambung****

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers