UA-89306807-1

Tiga Puluh Menit

Miruek Taman tertinggal sudah empat kilometer. Tidak untuk pergi jauh, hanya menuju suatu tempat dalam perencanaan kami. Entah dari mana asal semangat menggebu-gebu lalu menyeruak dalam jiwaku, pagi itu aku seakan melewati pagi tanpa mendengar suara rengek si adik bungsuku.

Pagi telah mengantarkanku menemui jalan raya bersama si Revo yang diiklankan oleh si Giring grup Band Nidji. Revo kupacu pelan ke sebuah tempat dimana penuh dengan ilmu yang berserakan. Di sana aku dan seorang teman berniat memungut sebanyak-banyaknya, hingga puas dari dahaga seminggu tanpa lahapan gratis.

Sinar matahari menyentuh kulit telapak tanganku lembut, pagi yang barakah. Pagar-pagar pohon kutinggal pergi tanpa pamit. Menindas polisi sudah tak mungkin kuhindari kemana pun kupacu si Revo, sudah takdirmu Pak Polisi, Salahmu, kenapa tidur di jalan!


Awan biru menyatakan cinta pada satu-satunya si Tulo yang sedang berteger ayu pada kabel listrik, sayangnya ladang di Tanjung yang selalu Selamat—Tanjung Selamat— itu sedang tidak panen padi. Tikungan tidak tajam sisi kiri sawah itu mengingatkanku pada suatu kejadian naas. Begini ceritanya, suatu pagi aku hendak mengejar laju motor sahabatku, tapi apalah tak terduga dibalik kendali motor sang teman menyisakan hewan haram yang menyapaku tanpa klakson. Ah, aku ditanduknya keras setelah tertindih Revo, tapi masih untung—orang Aceh kalau kena musibah, selalu saja masih ada untungnya, tidak pernah merasa rugi, syukur pada Tuhan—aku mengenakan helm jadi najis air liur si Gung-Gung (Anjing) tidak menetes pada wajah manisku hari naas itu.

Empat menit kemudian aku sudah mendarat dari Revo, pandanganku hampa, sangking riangnya hati aku sampai lupa kondisi jalan raya, sepi. Ruko dan warung makan sepi. Bengkel depan pemberhentian sementaraku juga tutup, dan diseberang jalan raya sana adalah tujuan perencanaan kami juga sepi. Tanganku gatal ingin memanggil sang teman, kupencet tombol dari ponselku dan terdengar suara becek-becek dari balik sinyal kalau aku harus menunggunya.

Panggilan singkat berakhir, deruman asap motor sama sekali tidak menodai wajahku pagi itu. Helm terbuka lebar dan dapat jelas terlihat kalau gedung ilmu tersebut tetap sepi. Dua pintu yang terdiri dari pintu masuk dan pintu keluar sama-sama tidak bisa kumasuki dan tentu tidak akan pernah ada cara keluar.

“Hhhhuufft…! Alah hai, pakoen teuh lhee teunget ngen jaga Isni ee Isni…!” Kenapa banyak kali tidur dari pada bangun—sindiran kalau kami sedang lupa atau salah dalam sikap—aku pun menuruti titah sang teman untuk menunggunya di seberang jalan, halte biru.

Revo kuletakkan depan pagar masuk yang tergembok, aku merasa kalau si Pagar sedang menertawakan ketololanku. Tapi aku merasa tidak seorang diri, karena disisi pintu keluar seorang gadis menyandang tas lempang berdiri linglung sambil memencet ponselnya berkali-kali. Ahaaaii, dia pasti senasib denganku!
Helm kutenteng menuruni si Revo menuju halte biru. Halte yang penuh dengan tempelan brosur basi itu dihuni lebih dahuli oleh seorang bapak tua, si Bapak duduk suduk kanan sedangkan aku duduk di sudut kiri. Helm kuletakkan sisi kanan sambil melirik si Bapak yang sama sekali tidak merasa kehadiranku. Tangan kanannya melingkar pada penyangga halte, baju lusuhnya tidak terkancing, celananya lebih lusuh dari bajunya. Ah, open sekali aku!

Kakiku berayun-ayun tidak sebanding dengan kecepatan ayunan Taman Kanak-Kanak. Kalau si bapak melingkarkan tangan pada penyangga halte, aku lebih nyaman memeluk helm kesayanganku sambil mengelap kacanya dari debu. Ayunan kakiku terhenti, tepat di depan posisi dudukku berhenti seorang bapak lagi. Bapak itu tidak memakai baju lusuh, tidak pula celana yang lebih lusuh, tapi tetap saja aku ragu meliriknya lebih lama. Maka pura-pura tak melihatlah aku saat itu karena ada rasa takut menjalar dalam hatiku, karena Plat motor King milik si Bapak itu menyatakan ia seorang polisi.

“Dek..” suara pengemudi motor King yang tidak berseragam polisi. Aku memandangnya dan memberi seulas senyum dengan rasa takut menggoda jantungku.
Rasa tak sopan akhirnya mengundang kakiku untuk bangun dari duduk untuk mendekatinya. “Kalau mau ke Ulee Lhee, kemana ya Dek?” tanya si Bapak akhirnya membuat godaan tak lagi mempan.

“Ulee Lhee ke arah sana Pak…” Aku menunjuk arah belakan dari punggung beliau. “Arah mau ke kota” sambungku.

“Oh, kesana ya Dek, kata orang pas saya bertanya tadi, Ulee Lhee itu ke sana lho.. Bukan ya Dek?? Kalau ke sana apa juga? Saya mau jemput teman yang baru sampai dari Sabang ni… maklum karena saya baru tadi siang keluar dari rumah sakit, jadi lupa juga kemana arahnya…hehe..” cerita si Bapak mengalir begitu saja dari suara bersahajanya itu.

Aku melirik si Bapak berbaju lusuh itu untuk kedua kalinya, ia tidak melihat arah pandangku ternyata. Ia sama sekali tidak menyadari kalau ada pria sebayanya sedang bernasib kesasar lepas dari rumah sakit. “Iya Pak, kalau arah yang Bapak bilang itu pelabuhan Malahayati, kalau yang Bapak cari adalah pelabuhan Ulee Lhe, yak e Ulee Lhee Pak…” jawabku mencoba menjelaskan.

“Jadi saya harus mutar balik dan ke arah kota Dek?”

“Ya, Bapak lurus aja, Bapak ikutin jalan sampai Simpang Lampineung, terus jumpa Simpang Jambotape, tahu kan Pak?” Untuk ketiga kalinya aku melirik si Bapak tua tanpa reaksi ingin membantuku, aku takut salah memberi info, ingin berniat baik malah menyesatkan si Bapak ini. Tapi si Bapak keburu mengangguk, “Nanti jumpa Simpang Lima, ikutin saja sampai jumpa Mesjid raya, Lapangan Blang Padang tahu kan?” Aku sumringah melihat reaksi si Bapak yang mulai terarah.

“Oh ke situ ya Dek? Kalau ke situ saya tau, yayaya saya ingat sekarang. Maklumlah Dek, Bapak baru keluar dari rumah sakit, ini mau jemput teman dulu.” Ujar sumringah si Bapak menghilangkan keraguaku akan arahan jalan yang menyesatkan. Maka baru kusadari kepergian si Bapak kembali membuat langkahku mundur ke belakang, kembali duduk di halte biru sambil memeluk helm.

Jenuh mulai mengintai jalur kemudi sel saraf di otakku. Tangan kanan lagi-lagi gatal membuat panggilan kedua kepada teman yang kutunggu terjadi, dan jawaban yang sama masih keluar dari suara becek-beceknya. Aku merunduk lesu, menatap lantai keramik halted an pelan-pelan kuangkat berat kepalaku ke arah Labi-labi (angkutan umum) yang berdiri di depan halte mengajakmu naik, balasan yang mampu kuberikan hanyalah gelengan kepala dengan lesu. Tap heeeii! Aku telah melirik si Bapak tua itu keempat kalinya, dan kali ini kakinya mengayun pelan. Kuperhatikan lekat siapa si Bapak yang sedari tadi sehalte denganku, tidak naik Labi-labi dan tidak pula beranjak dari duduk bisunya. Kaki tak beralas itu akhirnya terdiam dan kualihkan segera pandanganku pada gedung yang tertera indah sebuah tulisan megah, “Ibuku adalah perpustakaan pertamaku”. Aku tidak memandang sebuah baliho bsesar yang terpampang wajah Pak Tantowi Yahya, betapa bersahajanya ia tersenyum manis dan pembaca pun berdatangan, termasuk aku. Malang binti cengo, aku lupa kalau hari ini tanggal di kalender di cat merah karena natal. Padahal kejadian ini sudah pernah kualami pada 25 Desember 2009, malah terulang kembali setahun kemudian.

“Dek, nggak takut duduk sama Bapak itu?" tanya gadis yang sedari tadi berdiri di pintu keluar. Aku malah tidak menyadari derap langkahnya hingga tiba-tiba menyodorkan pertanyaan aneh itu. Aku terheran dengan pertanyaan itu, si gadis menunjuk ke seberang jalan, si Bapak tadi sedang berjalan yang di tangan kanannya ada sebuah parang (golok).

"Nggak, biasa aja. Kenapa emangnya?" tanyaku polos tidak merasa berdosa apalagi di hadang gejala MM (malu-malu).

"Lhaa.. itu kan orang gila."

Gedubraaaaaaaaaaaaaak. Aku melotot seketika, berpaling dari wajah si cewek itu dan berpaling lagi ke seberang jalan, aku bahkan tidak menyangka melakukan polah itu sampai tiga kali.

“Orang gila??” tanyaku lagi di sertai anggukan dari wajah si gadis. Aku masih bengong, tapi getar dari ponselku menyadarkanku, ada sebuah panggilan dari teman yang sedari tadi kutunggu.

******

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers