UA-89306807-1

Dear, Macho Girl

Dear, 28 Desember 2010

Assalamu`alaikum, kasihku.
Kasihku, ini tulisanku untukmu. Selamat membaca. Semoga Dia meridhai hubungan kita sampai kapan pun. Amin.

Dia. Dia seseorang yang kukenal ± 4 tahun silam. Melalui hari-hari remaja bersamanya adalah hari yang paling berkesan. Menyebut namanya adalah cinta dari dalam hati. Memikirkan rencana hari esok bersamanya adalah buaian yang indah. Dan ketika bersamanya, enggan aku berpisah. Dialah seorang yang pernah aku sayang dan tetap aku sayang hingga tulisan ini dibaca pembaca.

Hai yang sedang aku perbincangkan malam ini. Apa kabarmu?
Hai yang ingin kurahasiakan sosokmu dari mereka, bagaimana kabar hatimu?
Hai yang dari sana tersungging senyuman dan canda, apa kabar pikiranmu?
Hai yang aku sayang, bolehkah kusebut namamu untuk mereka?
Aku disini tersipu malu mengenang kisah lembayu masa remaja kita, simana kasih bertepuk dari kedua tangan kita. Aku disini dengan hati-hati membisikkan namamu dalam relung sang jiwa, agar kutemukan sosokmu yang pernah terhilangkan. Aku menemukanmu, dan aku mengenangmu sejauh ini, aku merindukanmu.

Merindukan masa kenakalan kita.
Merindukan dercak tawa ngakak kita sambil ngebut di jalan.
Merindukan kemachoan kita yang punya hobi gila manjat pohon jambu nenekku dan nangkring di atas genteng. Mereka tidak menemukan kita disana, kita aman.
Merindukan mandi hujan dan memelukmu dari belakang punggungmu, menunggu sang hujan mereda hanya satu tujuan utama, kau ingat? Ya! Kita ke kebun rambutan kakekku dan kita berencana memanjat si pohon itu. Ahaa… rencana yang sangat indah tapi sayangnya si semut mengerubungi kita yang tampaknya lebih manis dari madu. Ah, itu pertualangan yang indah, kita berhasil membawa pulang sekarung 15 kg dan seplastik besar rambutan. Biar basah kuyup tapi puas. Aku tersenyum disini. Bagaimana dengan kamu?
Merindukan lalapan buatanmu, merindukan ngerujak di belakang rumah sambil ngerujak kates pakai lalapan asam jawa. Ah, aku disini jadi ngiler ngebayanginya. Bagaimana dengan kamu?

Hai sosok yang belum kusebutkan siapa kamu. Apakah kamu ikhlas mereka tahu siapa kamu?
Hai sosok yang begitu gokil jika bersamamu. Sedih, resah, dan tangis berujung jadi senyuman dan bergejolak dalam tawa. Ah, kamu paling jitu membuat aku tertawa ngakak.
Hai seseorang disana yang sedang membaca isi tulisan ini, ini secarik surat untukmu kasih. Ini secarik tulisan yang tak mungkin memuat begitu banyak kisah kita. Ini secarik surat yang kupersembahkan hanya untukmu.
Hai seseorang yang sedang apakah kamu disana—sambil membaca isi tulisan ini? Tersenyum, tertawa, atau kamu tersinggung dengan tulisanku atau kamu ingin marah? Maafkan aku seseorang. Aku bahagia menulis ini, mengenangnya sebagai kisah terindah, walau ada terselip salah dari aku yang kini berada antara layak atau tidak layak menerima hari indah episode selanjutnya. Aku memeluk kasihmu disini, memenggal rindu namun percuma.
Ah, jangan terlalu melankolis.
Say, aku disini masih mengeja berapa huruf namamu.
Say, aku menuainya dalam tulisan. Jangan marah ya?
Say, aku menunggu jawabanmu. Ingat? Sepekan lalu aku mengajakmu berkencan, Berkencan menikmati sapaan angin laut di akhir tahun ini, 2010. Apa jawabanmu? Aku masih berharap kamu menyatakan. ‘Iya!’.

Wahai seseorang yang masih kurahasiakan siapa namamu, bolehkah aku kerumahmu. Sekadar membesukmu sakit atau menemanimu mencuci piring sampai azan menyuruhku pulang?

Wahai yang masih kutulis tentang kita, hanya kita. Aku tidak lagi mampu menahan gelagat indah dari namamu, izinkan aku mengukirnya dalam surat ini.
Seseorang yang mengikat 13 huruf dalam namamu. Seseorang yang tampil macho. Seseorang yang setiap kita bersama aku pasti menggunakan celana—agar kita tampil sosok yang Macho Girls.
Seseorang yang aku tunggu tiap pagi hanya untuk berangkat ke sekolah bersama—walau sekolah kita berbeda jauh. Aku bisa turun dari motormu dan naik labi-labi, asalkan setiap pagi kita bisa bercerita tentang pagi yang lalu.
Namun, keakraban pun butuh jeda. Maafkan aku yang masih dalam ketidaktahuanku. Kamu salah satu sahabatku yang pernah aku sayang dan tetap aku sayangi sampai kapan pun. Tapi kamu sahabat yang paling macho yang pernah aku kenal.

Hhhuuft… dan seseorang itu kamu.
Seseorang yang memiliki nama Syahri Akmalia.
Seseorang yang kusapa Maya.
Seseorang yang kuanggap Macho Girl.
Seseorang yang sedang kupikirkan, bersamamu selalu indah.
Seseorang yang gila bola, sedangkan aku sendiri gagal (nggak tahu, nggak ngerti) permainan bola.
Seseorang yang kenal betul pribadi pemain idola dari tiap klub bola, sedangkan aku hanya mengenal sosok Kaka dari si Abangku, dan mengenal si CR7 yang kamu bilang itu suamimu sedangkan istri si CR7 itu selingkuhannya. Ahaaaiii, parah!
Seorang sahabat yang rumah kita hanya dipisahkan jarak 500 meter.

Maya, maafin aku atas tulisan ini.
Tidak ada yang layak jadi hakim di dunia ini. Kamu juga aku bukan sang hakim. Dialah sang hakim. Maka kukembalikan kasih rindu ini kepada-Nya, kepada sang Penggenggam Jiwa. Agar selalu tetap terjaga kasih juga rindu ini, untukmu sahabatku karena-Nya. Peluklah kasih ini, terimalah tawaranku. Kali ini kamu yang menungguku di depan teras rumahmu. Aku siap! Siap berpetualang kembali. Tapi kembali kukembalikan pada Sang Hakim. Dia Yang Maha Adil tempat aku mengadu sejauh ini.

Salam kasih, Maya.
Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatu

Dari makhluk tak bernyali jika tanpa-Nya

_Isni wardaton_
****
Ini tulisan terakhir dari beberapa seleksi tulisanku yang berhasil kutuangkan, tentang si Macho girls. Ah, yang paling dalam memang susah untuk dituangkan walau dalam goresan tinta keyboard.
Selamat membaca. Mohon teguran, kritik juga saran.
Syukran.
^_^

2 komentar:

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers