UA-89306807-1

Pemuda Yang Dirindukan Surga

Add caption
Buku yang bersampul teduh dengan warna biru dongker-putih mengingatkanku pada seragam MTs. Buku yang sengaja kupinjam dari Paman Hurie ini bukanlah untukku baca sendiri, melainkan untuk uji kelayakkan bacaan seorang Raja Keikhlasan dalam istanaku selama ini, (Amir Khalis).

Lucu memang, tiba-tiba aku berpikir kalau satu-satunya adik laki-laki dalam rumah hijauku harus mencintai membaca. Walau pada kenyataannya dia tidak suka membaca. Tapi apa salahnya jika kupicu saja, *masih untung kupicu pakai buku, kalau kusetrum pakai arus?? Tuing tuing tuing, tegggaa…! Lam hate si adek, ‘tumben si Uning geut akai,’ aikh…! :D

Begitulah awalnya niat, siangnya kusuruh ia membaca buku dengan judul ‘Pemuda yang Dirindukan Surga’. Saat itu aku sedang menyetrika baju terakhir dan azan ashar berkumandang jelas. Setrikaanku siap, dan sebuah buku yang kukenal melayang (nggak Nampak tangan sia Alis sih, :D) dihadapan mukaku perlahan menurun dan mendarat di atas meja yang beralas kain setrikaan.

Nyoh buku droen neu cok pulang.” Hanya kalimat itu yang kutangkap dan si pengembala sapi itu lalu keluar kamar tanpa pamit. Aku melongo mendapatinya. Beberapa detik kemudian aku ketawa ngakak sambil cemberut. Aku gagaaal!

Aku memang gagal mengajaknya membaca kisah dan hikmah para pemuda dasyat di negeri awal Islam. Tapi biarlah, mungkin bukan buku ini kriteria bacaannya.

Sllrrp. Sllrp. Aku membuka laman demi laman buku tersebut. *kok jadi gua yang baca yah? Ckck

Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan buku karya Dr. Sulaiman bin Qasim Al-`Ied. Tapi kuturuti saja kebiasaanku membaca halaman cover dan halaman pembuka, merasuk ke pokok pembahasan pertama dan selanjutnya, aku terbawa arus. Aku suka. Aku suka cerita Thalhah dalam buku ini.

Sebelumnya aku dahulu diperkenalkan pada sosok tokoh yang begitu bersemangat dalam menghafal Al-Qur`an, pemuda itu mampu mengkhatamkan Al-Qur`an dalam waktu semalaman. Ketika Rasulullah mengetahuinya, dengan rasa iba Rasulullah sallahu`alaiwasallam berkata, “Sungguh aku khawatir panjangnya masa yang akan engkau lalui, hingga membuat dirimu merasa bosan, bacalah (Al-Qur`an) itu dalam waktu sebulan.”

Pemuda itu sadar usianya yang sangat muda, ia sadar kesanggupannya, apalagi dengan anjuran Rasulullah. Tapi apa yang ia katakana? “Wahai Rasulullah, biarkan aku menikmati masa kuat dan mudaku ini.”

Begitulah sang pemuda berkali-kali memintanya hingga takaran akhir Rasulullah memberinya, “(khatamkan) pada setiap tujuh hari.” Tapi sang pemuda tetap kekeh meminta waktu yang lebih sedikit. Rasulullah menolaknya, rasa kasihan dan khawatir akan berhentinya amal mulia tersebut karena terlanjur bosan membaca lantunan suci tersebut. Sebab, amal yang paling dicintai Allah Ta`ala adalah yang dikerjakan terus menerus kendati (amal itu) sedikit.

Kau mau tahu siapa nama indah pemuda itu? Tenang, akan kuberi tahu, namanya Abdullah bin Amr bin Al-ash. Ah, aku baru berkenalan dengannya. Apa ia sedang menungguku di pintu surga? Hhmn, *senyum-senyum

Sekarang akan kuceritakan seorang pemuda yang dijamin masuk Surga. Kalian tentu sudah dahulu mengetahui siapa pemuda itu, namanya terlantun indah dalam sebuah Qasidah Hasan bin Tsabit ra;


Dan Thalhah pada hari tercerai berai tetap menemani Muhammad

Pada saat terjepit dan penuh kesukaran
Ia melindungi dengan tangannya hingga beliau selamat
Sedang jari-jarinya di bawah pedang telah lumpuh
Beliau bersama Muhammad berada di barisan paling depan
Menegakkan panji islam hingga terbebas.


Ialah Thalhah bin Ubaidillah bin Sa`ad bin Taim bin Luay bin Ghalib al-Qurasy al-Tamimy. *cie nyoe nan lon meunan meusandeng binti meu binti, ken cukup indah meusandeng ngeun –tiiiit- :D

Semoga kita tetap dalam limpahan hidayahnya, lewat kisah-kisah yang masih layak kita konsumsi, kenapa tidak kita amalkan? Salam semangat. ^^

Kalau mau pinjam, atau mau tahu lebih jelas ceritanya, kudu deh hunting ini buku. :D

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers