UA-89306807-1

Kau Bisa… Ayu.

Namamu Ayu. Kau tumbuh persis namamu itu. Sayangnya polah tingkahmu nyaris menyingkir dari gen persilangan antar ibu dan ayahmu.

Minggu pagi kau terbangun dari tidur, dengan mata sembab kau terus mencoba membuka mata yang serasa berat. Bukan karena mascara yang menempel, bukan, melainkan karena selama sepekan kerjaanmu terus saja menangis. Menangisi kehilangan.

Kau menarik selimut tebal. Kasur empukmu memberi tekanan ke atas tiap kali kau coba bangkit. Dengan sedikit usaha, kau pun dapat memakai sandal. Tapi kau tak kunjung bangkit mencuci muka, kau malah duduk menatap jendela kaca yang tirainya telah terbuka.

Kau menggeleng dua kali. Menunduk menatap keramik. Hatimu hampa, kosong, dan kesepian. Bukan, bukan karena kekasih hatimu pergi, bukan, bukan itu.

Pagi-pagi sebelumnya kau tinggal memalingkan wajah 2 cm. dan kecupan menyemat manis pada pipi kanan kirimu. Kau tinggal mengambil sambutannya dan memeluk hangat tubuhnya. Ya, ialah ibumu yang sukses menurunkan rupamu seayu ini.

Kau pun mengaplikasikan gerakan yang sama. Sedetik kemudian hanya desahan yang melongo dari mulut hidungmu. Lagi-lagi kau menggeleng kepala berusaha membenarkan kalau itulah kecupan terakhir ibu.

Kau masih mencari-cari sesuatu yang dapat menguatkanmu. Kau menatap langit-langit kamar. Lalu beranjak bangkit menuju kamar mandi. Tapi ketukan dari pintu mengusik hatimu yang telah kosong sedikit berisi, senyuman mengembang. Tapi kujung kempis kala yang kau temui adalah seorang pembantu membawakan nampan berisikan sarapan pagi dan segelas susu hangat.

Lagi-lagi kau menghela nafas. Pembantumu berdiri membeku di muka pintu. Tidak beranjak dan ia hanya menunduk ketakutan pada ekspresimu sebelumnya.

Kedua tanganmu mencubit pipimu sendiri. Pipimu yang halus dan putih bersih itu merasakan kesakitan yang sangat, hingga rona merah menjamu.

“Non, jangan!” teriak pembantumu yang bahkan dalam menunduknya masih mencuri pemandangan keadaanmu yang amburadur.

Kau menghentikan sikap gerammu. Sekelebat bayangan lalu mengusik diri diammu. Ibumu akan membelai rambutmu yang lurus, mengajarimu cara tersenyum dua centi kiri dua centi kanan. Tapi kau selalu tidak mempraktiknya.

Pembantumu masih di muka pintu. “Mianda, letakkan sarapan itu di sana.” Katamu akhirnya sambil menunjuk sebuah meja rias. Mianda langsung mengangkat muka dan mencari asal suara. Tapi yang ia temukan hanya seorang gadis belia bernama Ayu. Kau pun memberi senyuman yang diajari ibumu. Rona merah pada pipimu tadi semakin menambah keayuanmu. Tapi hanya Mianda yang melihatnya, betapa ayunya kau pagi dan detik itu.

Mianda keluar. Kau pun kembali sediakala. Wajah suram akhirnya mengusirmu masuk kamar mandi. Tidak ada yang boleh mengusikku kali ini.

Kau sudah menyelesaikan acara mandimu dan sekarang sedang duduk di meja rias. Mendapati sarapan pagi dan segelas susu malah membuat selera makanmu hilang. Kau menyisir rambut. Memberi bedak pada pipimu. Cermin di depanmu seharusnya memantulkan wajah yang ayu. Tapi malah terputar sebuah film. Kau mundur bangkit dari kursi rias dan menjauhi gambar itu. Kau semakin terkejut mendapati gambar di dalamnya adalah rupamu.

“Ayu, habiskan makanan itu. Ayah capek tahu mencarinya, kamu kira duduk di rumah sebesar ini tidak perlu kerja? Ayoo… habiskan nasi dan lauk. Susu juga.” pinta ayahmu suatu pagi, dan kau ingat itu pagi terakhir kau makan pagi bersamanya. Sayangnya dari pemutaran film itu kau juga melihat polahmu yang menggeleng dan meletakkan sendok dan garpu. Meneguk susu, lalu memakan buah apel dua gigitan dan meletakkannya sembarangan saja.

“Ayuu… jangan begitu sayang, makanlah yang habis.” suara ayahmu mulai letih menasehatimu yang itu-itu saja.

“Sudah kenyang ayahku sayang…” jawabmu saat itu.

“Kan sudah ayah bilang, kalau makan sesuai porsi. Jangan kayak gini, kan mubazir. Coba kamu cari sebutir beras saja. Bawakan di depan mata ayah!” tegas ayahmu. Kau memeluk guling. Menangis tersedu dan pemutaran film pun berhenti. Karena kau tak akan pernah bisa mengabulkan pinta terakhirnya itu. Tidak akan ada sebutir beras yang dapat kau persembahkan untuknya sebagai pertanda kau telah mensyukuri nikmatNya.

Sejam kemudian. Kau menyentuh gelas susu yang telah dingin. Meneguknya dan memaksa lidah membantumu memakan sepiring nasi goreng. Dan kau ternyata bisa! Kau bisa menghabiskannya.

Kau membuka pintu kamar hendak keluar. Tahun lalu, di pagi dengan tanggal ini. kau mendapati sebuah kue tar dan kau di soraki ibu ayahmu untuk segera meniup lilin. Api pun padam.

Hanya ada angin. Tanpa tar, lilin, api, apalagi ibu dan ayah. Kau menebas angin dan tak mengubris apa pun yang sedang mengusik pikiranmu.

Di dapur, kau tak mendapati siapa-siapa, tidak Mianda, tidak ada juga Suriana. Kau menaruh piring kotor. Lalu mengubek-ubek sebuah lemari. Dan kau menemukan sebatang lilin. Kau menyalakannya sendiri. Lalu meniupnya. “Selamat hilang tahun, Ibu, Ayah, dan Ayu.” suara serak-serakmu turut memadamkan api.



*****

Rumah Hijau, 04 Juni 2011
Sepotong cerita ini terinspirasi dari gaya menulis Bang Alimuddin yang berjudul “Kau dan Si cantik”. Syukran Bang, inspirasi baru. :D

Sepotong cerita ini kutujukan terutama untuk diriku sendiri yang terkadang masih menyisakan nasi di piring. Diam-diam, aku sendiri seperti tidak mensyukuri nikmatNya. Semoga tulisan ini menohok hatiku untuk lebih peka pada setiap butir rahmatNya.

Sepotong cerita ini semoga mengantarkan pembaca ke jalan yang di ridhai Allah.
Syukran telah membacanya.

-Selamat hilang satu dari tumpukan tahun yang telah membersamaiku dan membersamaimu selama ini-

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers