UA-89306807-1

Mozaik Masa MANDEL-ku ^Eky... Oh Eky....^

Asal Muasal ‘Eky’

Muhammad Tirta berteman dengan bla bla bla...
Brruuuuk!
Waddddooow! Aku garuk-garuk kepala karena ketimpa buah ingatan. Aku ingaaat sesuatu tentang nama aneh itu. Ya! Aku pernah berjanji secara tak langsung untuk menulis tentang laki-laki berkulit mulus nan putih asal Takengon itu.

Hhmn, dia menggunakan nama Muhammad Tirta di akun fesbuknya itu kenapa ya? Berburuk sangka yook (ada pulak ngajak-ngajak, hihi)

Hhmn, mungkin dia malu kali kalau di panggil Eky. Ckck… tau laah sejarah namanya jadi Eky. Hoho, gara-gara aku sih yang bocor. (sumpal mulut pakai apel dulu dooong Ky… hihi)

Jadi nama aseuli sahabatku yang tidak biseeu bawa motor bergigi taring apalagi bergigi runcing ini naaah kan, adalaaah jgreeeng jgreeengg…. (Peace Ky! Salah Qhe pake acara minta-minta aku nulis. :p )

Adalaaaah REZEKI AKBAR. Waaaaaaaaaah banyak rezeki dia, :D


Berhubung guru (TK apa SD sih Ky? Lupa-lupa ingat aku sama cerita Qhe, hehe…) sangat baik hati dengan mengubah namanya itu menjadiiiii Muhammad Tirta? Lha, kecakepan kali kalau kujawab iya! Hihi, bukaaaan bukaaan, itu guru cuma buangin huruf E ke dalam sambal lado biar jadi sambel lado (Lho, lho apa hubungannya?) jadi berubahlah dari segi aromanya, rupanya dan gelagat sebuah nama tersebut menjadi ‘Rezki Akbar’.
“Wkwkwkwkwk, oh gitu Ky? Terus??” buruku tika itu kita masih kelas satu terbontot di Mandel, X8.
“Rezeki, ya keluarga aku pangilnya Eki.”

Cihuuuy, itu toh. Ekkheem kheem… sejak saat itulah aku jadi punya nama panggilan tersingkat ‘Eky’. Awalnya sih masih susah dapat restu dari si dia, tapi namanya anak keshil makin dilarang makin melawan. Haha… Tersebarlah nama Eky hingga detik ini. (berterimakasih lu, dah beken Qhe. Hoho…)



Muda Muda Kok…??

Lelaki putih ini punya uban lho…
Pletaaaaak!
Terasa ada yang menjitak kepala gua.

Aku pernah narik ubannya lhoo…
Pletaaaak!
*celingak-celinguk cari asal penjitak.

Tapi nggak sampe kecabut kok, bisa marah si Eky ntar kalau mantra yang bikin dia pande itu hilang. (gilee ni sii Isni, minta di jambak kayanya! Hihi, menerka suara si Eky. :D )


Serius! Seriusss!

Masa putih abu-abu itu tak akan pernah kulupakan. Walau di sekolah kami bernama Man 1 Banda Aceh mendadak dangdut berubah nama menjadi Man Model Banda Aceh, menyungguhkan kami seragam baru, yakni baju kurung putih dan rok biru laut.

Seketika kami menjadi tampil cihuuuy pada tahun ajaran masuk, mulai di ospekin sama kakak letting menggunakan topi terompet warna merah dan kantong kresek berwarna biru sebagai baju daaan kardus Indo*** sebagai rok. Aduhai kami cantik-cantik dan tampan-tampan. Tiga hari diospekin gua belum jumpa sama makhluk yang kubahas sedari tadi, nah hariberikutnya baru kita kenalan di kelas X8.

Maklum lah anak baru, masih malu-malu tapi mau. Mau apaaa? Mau kenaaal laaah, mau punya temaan. Masa dieeem aja. Ogaaah deh gua! :D

Aku rada lupa bagaimana kami jadi dekat, bagaimana awalnya kami bisa saling berbicara dan saling bertukar pendapat (kadang-kadang tukar contekan, hahaha). Tapi yang jelas karena kita sama-sama mendapat tugas dari guru untuk belajar, mengerjakan tugas, mengumpulkan tugas. Satuuu lagi, mungkin karena kami sering satu Labi-Labi (baca: angkutan umum) pulang pergi. Mulai dari saling menyapa, kita saling mengenal.
Banyak yang seharusnya bisa kuceritakan di sini, walau seragam putih-biru tidak lagi kami kenakan 4x sepekan, ya itu karena kami kompaaaaaaaaaak minta sama guru untuk mengizinkan kami mengenakan seragam putih-abu-abu (biar serasa anak SMA gitu lho… hihi). Sampe-sampe kita-kita tu menandatangani surat pernyataan meminta untuk pakai rok biru itu dua hari aja, dua hari lagi pakai rok abu-abu dan dua hari lagi pakai rok pramuka. Daaan yeees! Kita merasakan bagaimana menjadi anak SMA. Cihhuuuy…! (loncat-loncat).

Jadikan sambung balek lu penggalan cerita serius tadi, hehe… tadi tu ada lalat loncat-loncat.
:(

Ada satu kejadian yang tak akan pernah kulupakan dari laki-laki ini. biar dia sudah terbang ke Jogja, ‘Eky tetap bagian dari hidupku. Eky, kata-kata pengantarmu 5th silam telah sukses merayu jariku untuk terus menulis.’
Dan saat Eky baca tulisan amburadur ini. Tidak akan pernah sebanding dengan apa yang pernah terjadi di suatu jam istirahat.

Pada jam istirahat. Kelas seharusnya kosong seperti biasanya. Tapi tidak bagi Eky. Ia selalu saja mengisi kelas kami dengan dirinya. Sesekali aku menemaninya. Sekedar berbincang-bincang sambil bersandar pada tembok (Eeeh, kami bicaranya kalau berdua tu di depan kelas lho, jangan cemburuaan, plis deh! :O ).
Saat awal aku mengenalinya, sependiam-pendiamnya aku sebagai anak baru, tidaklah sependiamnya kawan aku yang satu ini. Eky tu suka nulis, dia sukaaa sekali menulis puisi. Bahkan buku puisinya itu sudah setebal papan tulis. Terakhir kali aku bertanya padanya, ‘Ky? Buku puisi Qhe uda berapa?’
Jawabnya, ‘Lima Ni.’ (Betul kan Ky, atau aku salah dengar? Hehe)

Waah, pokoknya buku puisinya itu sudaah sangat banyak. ‘Gilaaa, lakik suka nulis puisi!’ kata hatiku saat itu yang masih kuper dan tak percaya ‘sama cowok PUITIS’, hihi...

Aku sendiri suka membacanya di sela-sela jam istirahat. Puisinya mengalir saja. Tapi tak satu pun puisi tentangku di sana. 

Hingga suatu hari, ketika aku masuk kelas setelah membeli jajanan di kantin. Aku terkejut bukan main mendapatinya sedang membolak-balikkan binderku. Bagaimana mungkin ia bisa mengambil binderku?

Kudekati ia. Dengan sedikit tergagu malu-malu ia menjawab, ‘Hehe, aku liat tadi ada dalam laci Qhe, ya kuambil. Sorry…’
‘Oh, kirain dalam tas. Sinii!’ aku meminta binder tadi yang terbuka pada lembaran bertinta warna pink dan kuning.
Eky mengembalikan, ‘Siapa tu?’ tanyanya siapa sahabatku dalam puisi itu.
‘Afni, alaah puisi jelek pun Qhe baca.’
‘Jeh, bagus hai.’ katanya secepat kilat menikung kataku sebelumnya.

Dan aku ingat sekali katanya itu, ‘Jeh, bagus hai!’
Kalimatnya itu yang telah memberanikanku untuk bergabung dengan FLP Go To School, hingga berkecimpung di dunia menulis FLP Aceh dan alhamdulillah Ky, aku sudah punya dua antologi. Keduanya dalam proses penerbitan. Mohon doanya agar diberi kesempatan untuk menerbitkan novel. Amin. ^_^

Begitu super kata-kata pendorong seorang sahabat. Begitu pula ingin sekali rasanya tika Eky mengeluh dua bulan lalu, Eky bilang kalau ide-ide berterbangan begitu saja sebelum Eky tangkap. Tapi adakah sepatah dua patah kataku hari itu membangkitkan kembali semangat menulismu, Ky?

Menulislah. ‘Tulisan Qhe tu bagus!’

Menulislah, karena jarak tak lagi mengizinkan kita untuk sekedar berbincang-bincang sambil bersandar pada tembok. Labi-labi tidak lagi menampung celoteh-celoteh kita. Dan trotoar, sudah lelah menjadi perantara kisah kita.
Walau suatu hari, aku masih memohon pada Tuhan, agar kita bisa berada di satu tempat yang sama, duduk, berdiri dan selangkah yang sama, aku tetap ingin mendengar cerita-cerita Jogja sebagai kunjungan ke duamu, Ky. Really.

Salam menulis, Eky. Sahabatku yang diam-diam menjadi juara umum, diam-diam menang menulis karya ilmiah, diam-diam telah memutar setir dari cita-cita menjadi dokter telah beralih ke agen penerbangan. Hehe, apa pun itu, tetap semangaaaaaaaat!!

^_^

2 komentar:

  1. the best written...

    bangus banget tau!! jadi makin semangat aku dengan kisah nyata yang tertuang dalam tulisan mu ini de'.

    tak perlu ku komentari tulisanmu ya de'... terharu aku.

    BalasHapus
  2. Lebaaaay qe bang. wkwkwkw...

    Thanks uda mampir. hehe, nantikan kisah-kisahku selanjutnya. Kali aja Anda yang didalamnya. :O

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers