UA-89306807-1

Si Bule Naya

“Mbak, ayahnya Bule ya?”

Gubraaaak. Aku mendapati pertanyaan itu terkejut dan campur malu luar biasa. Pasangan muda-mudi yang bertanya itu tersenyum kagum memandangi bocah berambut pirang berkulit kuning langsat cerah, matanya sayu tapi tidak sipit. Namanya Naya, gadis kecil berusia empat tahun itu memang cantik. Dan ini bukan kali pertama kalau Naya diduga sebagai anakku, padahal aku sendiri baru berusia 19 tahun kurang dua bulan.

“Iya..” jawabanku membuat mereka manggut-manggut tersenyum manis. Kuyakin mereka memimpikan anak seperti Naya.

Lain lagi ketika aku diajaknya bermain. Taman Sari adalah tempat yang ia tawarkan, dan aku tidak berkewajiban menjawab dengan kata tidak oleh semua kemauannya. Maka sampailah aku di tempat bermain itu, Naya sedang tertawa riang naik turun prosotan, dan keceriaannya diperhatikan oleh orang sekitar. Begitu Naya berlari kepangkuanku sambil berkata, “Bunda… Bunda, ayuuk ikut Naya main.. Bunda nggak seru ah masa duduk aja..”


Si pemerhati lingkungan itu langsung mengajukan pertanyaan, “Mbak, anaknya ya? Masih muda padahal.. ayahnya pasti Bule ya?” Oh Tuhan, mendengarnya ingin sekali aku pergi dari tempat itu, tapi Naya malah menarikku ke ayunan.

Aku anak sulung dari enam bersaudara. Naya adalah keponakan yang paling dekat denganku. Manjanya sebagai cucu Mamaku membuat ia beruntung, rengek tangisnya selalu mampu memenuhi keinginannya. Tak heran kalau aku sebagai sang Bunda paling dekat dengan bocah bawel itu, selain karena aku tahu kelemahannya dan aku juga senang bersama anak kecil, jadi beruntunglah Papanya (Abangku) dan Mamanya mempunyai adik seperti aku.

Kalau lagi kebagian jatah baby sisternya si Naya, aku cuma bisa menghela nafas. Cerewetan dari mulut si Naya jangan di tanya, umur sangat labil tapi otak menjalar lurus. Nakalnya makhluk ciptaan Allah ini pun luar biasa hebat, dan mulutnya luar dalam tajam. Jadi perlu kesabaran penuh jika ingin berteman dengannya.

Cerewet sih iya, nakal sih iya, mentel sih iya, genit sih iya, gaul sih iya, tapi lembut hatinya juga iya! Itulah Naya Ghina Athiya Kalau ia sedang merengek ini itu, perlu kesabaran ekstra untuk berbicara, dan hati ke hati disertai cara penyampaian yang meresap ke hati, Naya pun akan luluh dan kalaupun tidak luluh ya terpaksa tetap penuhi pintanya itu.

Satu permintaannya pasca menikmati makan-makan bersama Mama Papanya di KFC, kala itu lantai dua tempat biasa mereka makan sedang di pakai.
“Ada acara ulang tahun Bu…” jelas pelayan. Langsunglah keluar pinta dari Naya, “Papa kan sayang sama Naya.. kalau gitu ulang tahun Naya nanti dirayakan ya Pa, tapi di lantai atas juga Pa?”

Tidak hanya tempat lantai dua KFC isi pintanya, pinta demi pinta terus berlanjut hingga setelan baju untuk pestanya itu. Maka dua hari sebelum pesta berlangsung pergilah si Naya dengan Mama dan Papanya ke pusat berbelanja di Suzuya, di sebuah toko pakaian anak, pilihan Mamanya tertuju pada gaun cantik berwarna merah. Tapi pilihan Naya jatuh pada gaun warna ungu dengan model yang sama, dan mau tak mau terpaksa pasangan suami istri yang tidak bule itu membelikannya untuk anak kandung tercintanya.

Kau tahu? Malamnya ketika sang Mama menampakkan gaun merah yang sengaja di ganti kembali tadi sore.

“Nggak mau. Naya mau warna ungu.” Naya menangis sejadi-jadinya.

“Baju itu sudah robek sayang… ini kan cantik.” bujuk Mama agar Naya menerima, tapi malah Naya kekeh pada apa yang dia mau. Maka terpaksalah besoknya sang Mama kembali menukar dengan warna pinta si Naya. Masih syukur empunya toko berbaik hati membolehkan transaksi tukar menukar itu.

Kalau kebagian jalan-jalan sih itu hobynya aku, jadi aku serasa menikmati ketika mengendarai motor yang keluar dari mulut Nanya, “Bunda Ina, ngebutlah ngebut..” ‘Nih, anak bukannya takut udah segini cepat.. busyeeet dah!’ batinku sambil menambah kecepatan laju dan Naya malah menikmati pelukan erat.

Belanja sih oke, itu juga hobynya aku. Tapi kalau belanjanya bareng Naya?
Sabar-sabar ajalah, dan siap-siap tertawa cekikikan dengan ulah bocah bukan anak bule itu berbelanja. Hari minggunya kami berbelanja bersama Naya dan Mamanya Naya di Suzuya, semenjak naik escalator hingga sampai lantai tiga pusat swalayan, Naya sengaja memilih jarak denganku dan Mamanya, paling tidak suka di pegang.

Mama Naya menitip Naya padaku karena ia hendak ke rak deterjen, sedang aku di ikuti Naya memilih menuju rak parfum.

Aku mulai mencari parfum terbaru karena aku mulai bosan dengan wangi engle heart. Satu persatu kuperhatikan sederetan rak itu yang dipenuhi dengan beragam jenis parfum, kuambil salah satu dan aku mulai mencium wanginya, merasa kurang cocok kucoba dengan jenis parfum lain. Ketika akhir pemilihan aku dihadapkan dengan dua pilihan jenis parfum, aku mulai bingung ingin membeli yang mana. Kuulangi cara mencium wanginya, dan kali ini lebih kuhayati aromanya untuk tubuhku. Seketika aku teringat akan Naya. Kulirik Naya yang masih di sampingku sedang mempraktik apa yang kulakukan semenjak berhadapan dengan sederetan jenis parfum di rak tengah, dan rak tingkat dua dari bawah itu adalah jenis parfum anak.

Kau tahu? Praktik si bocah ingusan itu sama persis dengan apa yang barusan kulakukan, lagaknya yang seperti orang dewasa sedang mencari pilihan.

“Yang mana ya? Yang mana ya?” kata itulah yang keluar dari mulut kecil gadis bernama Naya, Naya masih mencium mencari wangi yang paling cocok untuknya. Dua jenis parfum silih berganti ia cium membandingkan mana yang layak ia beli. Aku tercengang mendapati tingkah polah Naya hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Ah, yang ini aja lah” putusnya sambil mengambil satu jenis parfum anak.


------------------------
“Hayyoo Naya lagi makan apa tuh..” kataku suatu pagi saat menemui Naya duduk manis di depan teras rumahku, ketika menyadari kehadiranku ia langsung menyembunyikan cemilan Nyam-Nyam. “Hayyo.. Nyam-Nyam dari siapa tu.. Bunda bilang sama Mama ya Naya beli jajanan luar..” Aku membututi pertanyaan dan pernyataan membuat ia takut. Naya terdiam, “Hayoo Naya beli jajanan di mana tu? Dah pandai yaa pergi warung sendiri..”

“Bukan pergi sendiri Bunda..” jawabnya memburu.

“Jadi?” tudingku lagi. Orang tuanya yang bukan bule itu adalah dokter, jadi perihal kesehatan makanan anak sangat mereka jaga, dan Naya tidak diizinkan menikmati jajanan warung.

“Tadi Naya pergi ke warung sama Bunda Arni” Nah, kalau sudah sampai di sini aku jadi tahu arah kejadian ini, pasti dan tidak bukan Naya yang minta Kakakku Arni untuk membelikannya.

Susunan produk bedak membuatku mengasingkan diri dari Naya untuk sesaat, ketika barang yang kucari telah kutemukan aku memutuskan kembali ke posisi semula, tapi yang kutemukan rak belanja berisi biscuit sepi. Aku gelagapan mencari Naya, tapi gelagapanku terbalas cekikikan saat kumengintip sisi rak parfum. Naya sedang memperhatikan parfum anak-anak, aku saat itu cukup berdiri memperhatikannya saja kiranya apa yang akan ia lakukan. Tapi ulahnya buatku tak tahan, lagaknya persis
*******

Cerita ini berasal dari sahabatku, 'Suspina'.
^^

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers