UA-89306807-1

Birrul Walidain

Aku hanya sedih. Untuk menemani, awalnya kau sering tiada. Aku hanya benci. Untuk menyayangi, akhirnya kau mendua. Hingga akhirnya terjadilah kisah dua batang kara. Kau mau mendengarnya? Ah, rasanya tak perlu. Karena ini bukan dongeng pengantar tidur.

Sungguh, aku pun terluka. Mengertilah. Semestinya kau memang tak peduli. Seharusnya kau memang tak peduli. Berpisah.
Sayangnya, pengertian itu berbeda wadah.
Sayangnya, luka ini tak membutuhkan wadah.

Untaian kata. Hanya itu yang kupunya. Dekapan kudekap. Menjaga kujaga. Memberi kuberi. Mencinta kucinta. Menyayangi dan seluruhnya kumenyayangi. Tak peduli mentari cenderung panas. Tak peduli hujan beriring badai. Tak peduli, aku mengerti dan cukup untuk kita konsumsi bersama tiap tiga kali sehari, sepanjang nafas masih berhembus. Kisah dua batang kara telah lahir, penulis mulai siapkan pena, actor mulai tampil pentas, dan aku dengan kisahku siapalah yang tahu kebenarannya.

Tak usahlah kubenarkan segala fakta di depan pembaca. Urung juga kumenipumu wahai pembaca. Tapi simaklah siapa aku dan siapa mereka di atasku.

Mereka menamaiku ‘Birrul Walidain’. Kau tahu arti namaku? Tenang akan kuberi tahu. Sebelumnya biarlah kita berpetualang sedikit.
***


Kemarin, ya… tepatnya lima bulan lalu rumahku kemalingan. Seluruh barang berharga hilang tanpa sisa. Penghuni rumah tiada tersisa. Rumah pun minta surat cerai.
***

Prrrraaangggg!!
Hatinya jatuh. Pecah. Berserakan. Tak ada yang memungut kala itu, aku tidak tahu apa-apa.

Kala aku harus kembali setelah kepergian lima bulan dan atas ketidaktahuan apa-apaku. Kudapati rumah telah berbeda. Bongkahan yang berserakan tetap kutemui belingnya dimana-mana. Aku jadi tak kuasa menginjaknya. Aku tak kuasa meliriknya. Penuh hati-hati aku tetap melangkah. Mengetuk satu ruang yang dahulu kurasakan hawa tidak menyenangkan.

Pintu terbuka, dan salukis senyuman mengembang penuh riang. Sinar matanya cerah, menyentuh bahuku seakan bahu ini adalah bahunya. Kurasa, memang iya. Wanita itu sungguh beda kala pamit pergiku lima bulan lalu. Ia terlalu muda kembali kala menyambutku kini. Tapi itu cukup membuat beling-beling yang kulihat fatamorgana tadi menyingkir di terpa angin. Terbang menghilang entah kemana. Itu tak penting. Mungkin saja telah menggumpal, mengumpul jadi bongkahan hati yang lebih kuat, sangking kuatnya mampu lahirkan kisah dua batang kara yang sedari tadi kubahas. Wanita itu adalah ibuku. Ya! Wanita yang paling kusayang.

Sekarang aku dapat melirik kecacatan sebelah mata. ‘Ah, open kali!’ kataku berkali-kali coba kuatkan diri.

Hingga detik ini, aku masih membawanya. Walau terasa lebih berat berkilo-kilo. Aku masih membopongnya kemanaku pergi. Terkadang kupakasa diri menyeret kasar hingga kakiku lecet. Aku tak peduli karena aku memang harus membawanya utuh.
***

Dan di suatu petang dengan rona jingga mencak-mencak menempel di pipiku. Aku terkejut dan tersipu malu. Sekilas rupa kutemui di tengah jalan berlalu mendahului. Wajah rupawannya telah ringankan berat pundakku dua kilo. Itu sangat berarti walau hanya kurasa lima detik saja lamanya. Aku bersyukur menemukannya kala yang tepat. Siapa dia? Tak usah kuceritakan wanita shaleha itu padamu. Aku akan sangat malu jika kau tahu, pembaca.

Dan dilain waktu, aku duduk di meja antara teman-temanku. Pada meja di sampingku. Kutemukan ketenangan, kenyamanan dari canda ceria satu gadis muslimah. Siapa lagi dia? Tak usah kau tanyakan. Aku sendiri tak kenal. Tapi itu nggak penting. Aku malah merasa berhutang pada ceria tawanya dalam tiap simpul kebersamaan bersahabat antar temannya. Lalu bagaimana aku melunaskannya? Catat! Aku punya hutang!

Lalu berapa hutang lagi yang harus kutumpuk agar pelan-pelan kiloan di pundakku runtuh? Aku tak tahu.
***

Sebatang pena kugenggam erat sedari tadi, tapi urung jua kumulai menulis. Secarik kertas telah menanti sambut tangan pena. Aku enggan mengabulkannya, biarkan kalian tak bersatu dulu dan aku melepaskan genggaman pena.

Aku tak punya waktu banyak untuk hal bodoh ini. Aku pun kembali melirik secarik kertas dan sebatang pena. ‘Ah kau Pena, apakah kau merasa sedih? Mereka dapat menyebutmu Sebatang Pena, ya! Kau Sebatang Kara, wahai Pena!’

Tak ada jawaban, yang ada hanya angin menggerak-gerakkan ujung kertas seakan berkata, ‘Mau kau ikhlaskan atau nggak? Kalau nggak, sini kertasnya!’
Aku malah menekan tangan kiri, dengan tangan kanan pelan-pelan meraih pena yang tadi kulepas.

Rasanya seperti aku berumur lima tahun saja. Yang sedang belajar memegang pinsil lalu susah payah belajar menulis huruf demi huruf, tapi sayangnya masa itu telah berlalu 17 tahun yang lalu.

Aku terus menarik urutan huruf yang sudah kuhafal lama. Setiap sudut dari huruf itu tak pernah silap kutulis rapi, menuliskannya dengan cinta dan semangat tinggi, lalu aku bahagia kala membaca ulang sederet kumpulan huruf itu. Tapi itu dulu.
Setiap huruf itu tak pernah salah urutannya. Tapi kini kuheja satu demi satu. Susah payah seakan tanganku dipukul palu. Tapi aku harus mampu. Aku harus bisa menuliskannya lebih banyak lagi, lebih rapi lagi dan indah terpampang pada tiap baju seragam kerjaku.
‘Birrul Walidain’. Akhirnya aku berhasil menuliskannya. Dan tanganku semakin ringan saja menuliskan kolom biodata selanjutnya.

‘Huft!’ hela nafasku serasa berat. ‘Kenapa dulu kalian begitu bangga menamaiku Birrul Walidain? Berbakti pada dua orang tua. Ah, dua? Yang ada hanya dua batang kara! Ingaaat, pejamkan itu, yang ada sekarang hanya dua batang kara!’ hatiku berapi-api.
***

Tetap menjadi lebih baik, walau walau dan walau.






















Hingga suatu hari, aku ingin bisa seperti ini. Tulus. Ikhlas. Bersama saling menepuk bahu.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers