UA-89306807-1

Dek, Peng Rhot Jeh!

Kumulai menulis kisah ini dengan istigfar sebanyak tiga kali, ‘Astagfirullahal`azim, astagfirulllahal`azim, astagfitullahal`azim.’

Di malam yang singkat, tanpa terasa shalat tarawih sudah siap. Aku dahulu digusur sama nenek-nenek yang sajadahnya rupanya tertindih oleh sajadahku. Alhasil aku ogah-ogahan langsung pamit turun tangga dan rupanya dicegat si adekku Nuzul. Seperti malam-malam sebelumnya, bak ratu ia suka menyuruh ini itu. ‘Ning, mat!’ katanya menyuruhku memegang gulungan sajadahnya.

Aku pun meneruskan berjalan kaki seorang diri, seakan pulang memimpin gerak jalan sambil memikirkan ‘ternyata keinginan dan kebutuhan aku banyak sekali, betul-betul pengorbanan nih. Cammana bisa kuluruskan?’

Hingga di tengah perjalanan bunyi suara klakson motor. Tak kuhiraukan apa maunya si klakson. Motor dan pemilik mulai mendekat dan ternyata pengemudinya itu Lakik. Ah, open sekali sama klakson motor barunya itu dan siapalah kamu aku tak kenallah ya. Aku melanjutkan kerja pikiranku berharap menemukan solusi, ‘kalau ini digeser bulan depan, nggak bisa! Itu bisa menghalangi target no berapa yah? Ah lupa. Kalau… kalauu kalau…’


Tiiiit tiiiiiit… tiiiit tiiiiit…
Suara klakson mengganggu sekali.
Dek, telekom rhot jeh!’ suara si Abang Nggak Kenal Siapa Dia. Aku tetap berjalan ke depan, masih memimpin gerak jalan., maklum masih berdarah merdeka. Lagi pula, apa-apaan itu taktik pasti penipuan di tengah jalan. Biasanya sih penipuannya begini yang ada, aku mulai mengalihkan pikiranku kalau kalau nggak salah, ‘Dek, peng rhot jeh!’

Tiit tiiiiit.
Klakson nggak lelahnya menggodaku. Sihhhy gayyyaaa lie… :D
Dek, telekom rhot!” suara si Lakik berbaju koko. Kayaknya tu anak nggak punya tampang usillah ya!
Aku pun mulai mngecek apa katanya, mukena? Lha, mukena masih di badan lengkap dengan rok, dan dua sajadah. Jadiiii? Ah, nipuuu!
Aku pun terus berjalan cuek.

Tiba-tiba.

Ning, telekom lon rhot…!” kejar si Nuzul sambil berteriak mengejarku dari belakang. Aku terdiam bengong mendengar suara si Nuzul, dan si Lakik itu masih melajukan motor dan melihat rupaku yang kesel binti begok. Pasukan gerak jalanku padahal sudah tertawa sedari tadi, lho? Apa-apaan ini? Kok aku nggak sadar yah?

Hahaha, Abang nyan ka hek di klakson saree. Hahaha’ ledek Mamakku yang diikuti canda kakakku, dan dua tetanggaku.
Lha, lon hek kupike pane na telekom rhot, telekom lon bak badan.’ jelasku sambil tertawa. Rupanya dalam gulungan sajadah Nuzul ada rok mukenanya yang terjatuh. Aikh aikh, kau bikin aku malu Nak. Besok-besok lagi ya!
:D
 ________________________________________
Note:
* Ning, mat: Uning, pegang.
  Uning adalah panggilan untuk kakak. :)

* Dek, telekom rhot jeh : Dek, mukenanya itu jatuh.

* Abang nyan ka hek di klakson saree: Abang itu sudah capek klakson.

* Dek, peng rhot jeh!: Dek, uang jatuh tu...!

* Lha, lon hek kupike pane na telekom rhot, telekom lon bak badan : Lha, aku pikir mana ada mukenaku jatuh, kan mukenaku di tubuh.

5 komentar:

  1. hahahaha... lon ka meuphom :D

    BalasHapus
  2. duh banyak bahasa daerah. gak ngerti nih

    BalasHapus
  3. wakakaka... ni truestory.. asik neeh... jadi inspirasi.. haha... keren karyanya... senang ada yag dah komen spt sang cerpenis bercerita.!
    tabik

    BalasHapus
  4. Cerpenis: Aduuh maaf aku lupa. :D
    Ini ya...
    Note:
    * Ning, mat: Uning, pegang.
    Uning adalah panggilan untuk kakak. :)
    * Dek, telekom rhot jeh : Dek, mukenanya itu jatuh.
    * Abang nyan ka hek di klakson saree: Abang itu sudah capek klakson.
    * Dek, peng rhot jeh!: Dek, uang jatuh tu...!
    * Lha, lon hek kupike pane na telekom rhot, telekom lon bak badan : Lha, aku pikir mana ada mukenaku jatuh, kan mukenaku di tubuh.

    Bang Nasry: Hehe, aku aja masih suka ngakak kalau ingat-ingat ini. :D

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers