UA-89306807-1

Rahasia Orang Dewasa

Entah kenapa di malam yang sangau tanpa terlintas pikiran tentang bangau atau pun main di danau. Aku malah berestafet ria dalam jebakan kata yang kuciptakan sendiri. Mungkin ini memang lagi-lagi adalah naluri sosok anak keshil yang ingin dewasa. Kau tahu kawan? Aku selalu suka bertanya, tentang ini dan tentang itu, dan semua pertanyaanku itu, konyol. Kenapa kukatakan konyol? Karena aku sendiri suka bertanya pada orang terdekat, tak segan mereka enggan merespon. Ya, apa lagi kalau bukan itu adalah pertanyaan yang ‘konyol’.

Jadi, di malam yang tidak sangau itu aku sedang merebahkan diri sejenak untuk merehatkan jiwa dan raga. Tak sempat masa rehatku beradaptasi dengan dunia mimpi, aku dahulu diganggu dengan sekelebab pikiran. Aku terpikir tentang kesempurnaan hidup. Ya, kesempurnaan hidup!
Aku langsung menghubungi orang dewasa. Menyatakan tentang filsafat (ecek-ecek aku berfilsafatlah dalam menemukan pemikiran baru, :D ).

Anak keshil : kesempurnaan hitup itu, tidak hanya cantik, baik, dan pandai kan?
Orang dewasa : hhmmn, satu lagi, hati bijaksana.
Anak keshil : apa itu hati bijaksana?
Orang dewasa : hhmn, berpikir secara mendalam.

Maka berpikirlah anak keshil itu secara mendalam. Mengambil srop dan cangkul lalu menggalilah sedalam-dalamnya. Tapi tak jua kunjung dapatkan mata air.

Anak keshil : lebih rinci. Apa itu hati bijaksana?
Hati bijaksana? Kenapa dengan hati bijaksana? Lha, apaan sih hati bijaksana?

Sms berkali-kali kukirim pada orang dewasa itu, tapi tidak juga ada penjelasan darinya. Anak keshil ini memanas. Semakin penasaran di balik dua kata rahasia itu. Rahasia orang dewasa, kawan! Makanya kita harus mencari tahu keberadaanya! Kalau kita tahu, kayaaalah kita. Maka aku pun tak menyerah mencari tahu di balik kata hati bijaksana ‘rahasia orang dewasa’ itu. Lelah menunggu penjelasan dari orang dewasa, aku lagi-lagi menuding orang-orang lain (entah dewasakah mereka, entah, yang jelas mereka bukan orang-orangan sawah, :D ).

Anak keshil : Hati bijaksana itu apa?
Abang sepupuku yang paling setia mengarahkanku ke arah yang lurus dan sesekali menyesatkan itu menjawab, “hana meuphom abang.”
Whahaha, berarti abang CB-ku itu belum dewasa. :D
*tunggu kena lempar kacamatanya. :p

Jreeeng jreeeeng. Sahabatku si pemain bola kelas MIPA Kimia ini dengan polosnya menjawab, “ya, bijaksana!”
Gubraaaaakk!

Plok-plok! Bunda yang selalu menunda membalas pesan konyol akhirnya sampai juga tutur kata nan lembut bagai sutera. :D
Beliau menjawab, “pasti orang yang mengeluarkan kata itu lebih tau.”
Lho, lho, itu kata bukan saya yang menelurkannya. Saya cuma bantu mengerami saja lewat kata kesempurnaan hidup, kok. 

Aaarrrrggghh! Hanya itukah balasan dari orang yang keberadaanya tidak bisa di terka mereka sudah dewasa atau masih keshil kayak saia. :D
*bagi yang tidak merespon pesan sms saya yang ini, awaaas awaaaas tiiiiiiing!

Mulailah aku berfilsafat kembali. Mencoba menelaah saran Bunda, ‘menanyakan pada empunya kata’, ya! Tapi empunya kata sedang di luar jangkauan. Huhu…
Dan akhirnya saya berhasil menodong orang dewasa dengan paket 50 menit bicara. Haghaghag, ketangkaaaaap!!

Maka berbongkarlah rahasia kepada anak keshil nan rewel.
Orang dewasa: “Hati bijaksana, ya berpikir secara mendalam. Dia itu nggak akan langsung berargumen kalau si fulan salah atau si fulan benar. Ketika menghadapi sebuah masalah, ia akan berpikir berkali-kali bakal melakukan apa.
Kan tadi Isni sebutin, cantik, baik , pandai. Kenapa saya bilang hati bijaksana?
Daripada saya jawab jantung bijaksana?
*haghaghag, setujuuuuuuuuuuuu.

Kalau kita pilah, hati adalah perasaan seseorang (bukan benda). Dan bijaksana adalah sebuah sikap naluriah, sikap yang lahir dari pemikiran berulang secara mendalam yang nantinya akan kembali pada diri orang tersebut. Intinya, semuanya akan mengarah pada diri sendiri, semua sikap yang kita kerjakan, hasilnya kembali kita rasakan sendiri.
Bla bla bla bla…

Baiklah, selaku pendengar yang baik dan budiman, akan saya rangkumkan pembicaran antar anak keshil dan orang dewasa. Beginilah lebih kurangnya, kawan.

Dengan hati bijaksana, kita bisa lebih membedakan posisi mana yang baik untuk diteruskan. Karena hidup tidak akan berhenti setelah kita memilih satu solusi. Pikiran awal bisa menerka itu solusi yang terbaik, tapi bila mana kita berpikir sekali dua kali lagi, boleh jadi berubah pikiran kita. Maka memosisikan diri pada arena tengah jauh lebih aman. Dari pada di samping di serempet malah kejedot tanggul. :D
Berpikirlah secara mendalam.

Kalau dikaitkan dengan kesempurnaan hidup. Miliki wajah cantik, baik, dan pandai bukan perkara mudah simsalibin abrakatabra langsung chan_tik, langsung baiiik, langsung pandai. Oh tidaaaaaaaaaaak!
Adapun tiga poin tersebut telah berada pada diri kita, bagaimana saja cara kita memandanginya itulah membuat kita jadi beda, (kalu kata orang kamu nggak cantik, pecaya aja! :p ). *ambek senter ke kiri atau senter kanan. Kali aja ada jampok. :D

Jadi, kalau punya masalah jangan kudu nyalahin orang. Mikir dulu apa dudut, eh suduut persoalan maksudnya. 30º kah, atau 90 º. :D

Kebiasaan kita adalah menutupi kesalahan pribadi dan membuka kesalahan orang lain yang belum kita ketahui kebenarannya. Tapi coba kita mengubah, dengan mengaktifkan kinerja hati bijaksana dalam jiwa kita, pelan-pelan memutar setir, berdiam dan mencoba tersenyum, dan tak jarang kita mampu berkata dengan ikhlas, santun, indah tutur katanya, berhahaja dan bijaksana, “Nggak, dalam masalah ini tidak ada yang salah dan tidak ada yang bisa di salahkan apa lagi menyalahkan si fulan atau si fulan. Nggak ada yang salah! Mari kita kerja kembali!”

Waaaaw, kalau saya pikir-pikir, ingat-mengingat, saya sering mendapatkan kata-kata seperti itu. Berarti, beliau sudah dewasa? Waaaaaaah, beliau sudah miliki hati bijaksana! Saya akan mencurinya, agar saya juga bisa kaya seperti beliau. :D
----------------------

Penghargaan terbesar dari anak keshil kepada orang dewasa ini yang selalu memberi saya stimulus baru. Nurkhalis M Kasim.
Komentator setiaku, Fakhirul Kamal.
Sahabat karibku, Imam Thanthawi.
Sahabat sekepenulisanku, Riza Rahmi.

Tanpa kalian, mungkin rahasia itu tidak pernah terkuak.
Wassalam, kawan.
^^

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers