UA-89306807-1

Cerita Baru Kita, Cint.

Telaaaaaaaat.
Rabu siang kemarin aku lagi-lagi telat. Kali ini bukan kesengajaanku, melainkan motorku yang di pakai oleh Kakakku  untuk pergi kampus. Di simpang jambotape, SMS masuk dari Pina yang isinya begini, 'Cint, masuk'. Membaca pesan itu aku langsung teringat tentang baju lab yang harus kukenakan sebelum masuk kelas laboratorium Fisika.
Sesampainya di parkiran aku langsung berlari masuk kelas, tergesa-gesa membuka sepatu sambil menarik si kain putih dan memakainya di depan pintu lab, halah binti alah, entah kenapa susah sekali kupakai itu baju, kuraba-raba sisi lengan tak juga kutemukan pada si kain putih itu. Teman-teman sudah pasang muka lucu dan tertawa cekikikan buatku melirik kain putih dan ternyata adalah handuk. Hahaha, maklum saja aku lupa kalau handuk sengaja kubawa karena bakal nginap di rumah kakak nantinya. Sayangnya kisah tolol itu cuma berakhir ketika lampu merah simpang Jambotape berganti hijau, ketika sampai di parkiran (beneran nih...) aku dapat lagi satu pesan dari Pina sembari tersenyum dan buru-buru aku mebacanya, 'Jangan lupa pakai baju lab dulu ya cint.' Hihi.. aku langsung mengambil baju lab dan memakainya, tak peduli itu orang-orang lihat, ya ketimbang itu handuk yang kubalut macam orang mau naik haji. Labbaikallahumma labbai... hehehe... :D

Di meja putih yang panjang.
Dengan ngos-ngosan aku langsung ambil posisi. Duduk manis kedip-kedip mata sama teman, 'udah lama?'.

 
#Liaaaatlah, si Upin (panggilan sayang mamak aku untuk Pina, haha) lagi serius kali ngintipin garis bias. Peu na deuh lon inan, Dek Nong? :p

 #Didalam foto itu ada Yaumil (sepupu Pina), Pina dan aku.

Lanjut ceritanya, :D
Beberapa lama kemudian pun terdengar suara Rahmi  berkata yang membuat seisi ruang gabuk, 'Pak, ada kawan yang sakit'. Singkat cerita si Pina yang sedikit alhamdulillah nyasar di Fisika yang lumayang paham tentang 'menangani orang sakit' langsung menyuguhinya air dan minum obat. Teman kami itu sudah beberapa kali jatuh pingsan di kampus karena sakit jantung. Teman kami itu bernama Fani. Oleh Ady, Munawir  langsung mencari bantuan kepada pihak akademik.

Fani semakin kambuh, jantungnya semakin karuan, ia menangis berkali-kali mengatakan 'sakit sakit sakit'. Mendengarnya Pina sangat kecewa, 'Fani, Fani, ingat kata dokter kemarin bilang kan? Kalau sakit jangan bilang sakit sakit sakit, istigfar, ngucap Fani ngucap. Semakin kita bilang sakit maka semakin sakit'. Tapi Fani semakin tidak mengetahui keadaan. Kami mengangkatnya dan menidurkannya di meja putih yang panjang tadi.
'Jangan di gituin, tidurkan saja dia' kata kakak letting kami karena Pina setengah menyanggahi bahu Fani dengan lengannya sebagai bantal.
'Nggak bisa kak, dia butuh oksigen' jawab Pina seperti doker perseeeeh.

Keadaan semakin menakutkan, dari Isma kami dapat kabar kalau keluarganya Fani sedang di Jakarta. Benar-benar harus segera ditindak lanjuti.
Lama tak ada kabar mobil siap pakai, aku berlari menyusul dua temanku tadi. Di depan ruang akademik aku bertemu dengan seorang Bapak, melihat kegabukanku ia bertanya 'Kenapa'. Kujawab sekilas, 'Ada kawan sakit jantung'. Sang Bapak dengan santai menjawab, 'Kalau sakit jantung, pakai saja jantung pisang'. Astagfirullah. Aku terkejut mendengar kata-kata beliau langsung buang muka. Maaf Pak, bukan waktunya untuk becanda!

Sebentar kemudian, Pak Is (PD 3) langsung menyuruh kami membawa Fani ke parkiran. Aku berlari ke ruang dan mengabarkan berita itu.

Sebenarnya, Fani harus ditangani di RSUDZA. Karena yang Fani butuhkan adalah oksigen, kami membawanya ke RS Fakinah.

Di RS Fakinah, aku, Pina dan Isma yang masih lengkap dengan baju Lab membantu Fani turun dari mobil.Karena aku paling dekat dengan jendela mobil, aku mendengar Pak Is berkata, 'Lepas baju lab dulu! Mereka kalian perawat sini, nanti nggak dilayanin lagi!' sambil melepaskan baju lab Munawir dan menyangkutnya di kursi depan mobil.

Di ruang IGD. Fani sedang kami dorong ke barisan, seorang dokter bertanya, 'Dek, praktek dimana?'
Mendengarnya aku setengah ketawa. Ya! Karena kami masih dengan baju lab di ruang itu. 'Fisika' jawab Pina. Aku pengen ngakak di tempat. Hahaha... Gayaaa li aku nggak tahan langsung buka itu baju.

Masih seolah dokter muda karena Pina belum melepas baju putih lab itu, ckck, sedang membuat Fani ketawa. Halah hai Nong, aneuk gop saket ka peugeut meupikiran lom. :D
'Makajih Fani tem laju operasi, paleng han, meuteumeung kalon Monas. Lheuh nyan nteuk kajeut duek pelaminan, hana peu you cieet. Theun ju saket, pike kamoe galak meunoe, hana kuliah gara-gara Fani saket sabe. Hana Fani, kamoe rugoe.' Haduh ini anak kok blak-blakan kali bicaranya. Hihi...
Ya! Kawan kami si Fani ini, jangankan menerima anjuran operasi jantung di Jakarta, kontrol di poli jantung saja kagak. Itu kami ketahu setelah sampai di RSUDZA dengan menyewa ambulance.

Aku dan Pina permisi shalat dhuhur dan meninggalkan Fani yang dijaga Isma. Di perjalanan aku bilang, 'Pake baju lab lagi yook... terus masuk kamar pasien, tanya ini itu terus...'
'Hahaha... gilaaak Qe! Praktek dimana? Kedokteran? Akper? Bidan? wkwkwkw... Kedokteran jurusan Fisika waaaaaaaak...' aku naik ketawa sampe lupa turon. :D

Pas mau pulang.
Ba`da ashar kami ada jam kuliah lagi di Surin. Sedangkan kami sedang di Lampriet, berempat. Isma memilih menemani Fani dan aku pulang bersama Pina.
Sebelumnya, aku menawarkan solusi pulang kalau kami sudah di Lampriet untuk dapat kembali lagi ke Surin. Ya... demi menghindar 2x naik labi-labi. 'Aku pulang sama Pak Is, terus balik ke Lamprit jemput Qe, kita pulang ke Surin. Cammana?' tanyaku sama Pina.
'Boleh, ini kunci motor aku Qe tarok rumah kost Dek Yon ya!' Pina memberikan kunci motor. Tiba-tiba aku berubah pikiran. 'Haha, kayaknya memang bakal lebih seru kalo kita naik labi-labi ya Cint?' aku tertarik ide Pina.
'Ya laaah, kapan lagi coba kita gini. Hahaha... aku udah lama nggak naik labi-labi lagi. Kiban?'
'Bolehlah, sekali lagi kita buat cerita yang seru di jalanan.' balasku.

Kembali ke adegan pamit-pamitan, Fani dan Isma menitip kunci motor untuk dibawa pulang ke rumah kost kawan kami.

Perut keroncongan luar binasa. Kami membeli sesuatu yang mengganjal dan naik labi-labi. 'Hahaha, gayaaa ja, kunci motor 4 buah di kantong. Tapi pulang naik labi-labi. wkwkwk' tawaku merapa kunci motor di kantong rokku sudah bergemericing saat kusentuh.
Pina minta turun di simpang  agar bisa belanja peralatan Ultah ke-1 ponakannya di PP. Alhasil pulangnya kami sangak raheung di jembatan gedeee kagak tahu mau naik labi-labi pulang kemana. SMS sahabat kami Usrah yang sering pulang ke Surin dengan Labi-labi.
'Ni tunggu depan taman sari aja, terus tunggu labi-labi Ule Lhee distu ya.' balas SMS Usrah.
Kami pun berjalan melewati sungai sambil berangkulan, tertawa, rasa sakit kaki mutar-mutar PP pelan-pelan menghilang. Kalau aku boleh jujur, aku pernah berpikir demikian suatu kali ketika lewat jembatan itu, 'Coba kalau bisa jalan bergandengan tangan, berangkulan dengan sahabat di jembatan itu. Aku pengen!' Ternyata dengan cara itulah aku merasakan begitu nyata keinginan jadi nyata.

'Ikhlas ikhlas, kalau ikhlas semuanya nggak terasa Cint. Ambek heppi aja kita. Kita masih diberi kesempatan merasakan apa yang Dek Yon dan Usrah rasakan, kek mana mereka pulang pergi tiap kali pergi.' Kami terus berjalan sambil terus saling memetik hikmah kejadian hari ini.

'Eh, tapi kita tadi blak-blakaan kali sama Fani ya.' kataku sesampai di rumah kost Dek Yon dan Usrah yang tak percaya mendengar cerita kami. Dari mereka kami tahu kalau ada jalan pintas nggak usah capek jalan kaki gitu, hihi...
'Ya lah, harus. Daripada dia gitu terus.' tegas sahabatku tegas. Ia selalu tegas, keras, dan paraaaaaaaah. Hahaha...
Nice moment. Sekarang Fani sudah mulai rutin cek up ke poly jantung, semoga janjinya kepada kami mau operasi jantung tak berakhir di mulutnya saja. Lekas sembuh Fani, wanita yang tegar, keras kepala, rajin, dan satu hal yang aku kagumi darinya kalau dia pandai sekali buat kue. Hhhuaaa..... Fani cepet sembuh biar kita bisa main tepung dan buat kue Tar.
Barakallah fi umurik, Fani. Oya, aku lupa bilang.

Ketika aku hendak pamitan, aku mengaktifkan hp-nya yang sedari tadi mati. Saat hidup, alrm berbunyi. Aku tak mengerti apa maksudnya. Ternyata itu alrm pengingat kalau hari dimana kami membopongnya ke rumah sakit ini dan itu, adalah hari dimana usianya genap sudah 21th. Semoga Tuhan masih berikan kita jatah nafas untuk sempatkan bahagia orang tua. Amin.

La tahzan, Allah menyertai hambanya. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers