UA-89306807-1

Happy Birthday, Khalis

Kali ini aku ingin menuliskan tentang satu-satunya laki-laki di rumah hijauku selain Bapak. Laki-laki itu bernama Amir Khalis.
Amir Khalis adalah murid bapakku di masa dahulu ketika ia mengajar, pemuda itu sangat pandai dan rajin, oleh bapakku sangat menyukai kepiawaiannya. Dengan bangga pula bapak menyematkan nama Amir Khalis kepada adik laki-lakiku. Nah, Amir Khalis yang akan kuceritakan ini adalah satu-satunya adik laki-laki kandungku. 

Masa Kecil

Waktu umurku sekitar 4th dan kakakku 5th (kali selisih usia 1 tahun 6 bulan), ketika itu adik kecilku itu baru bisa duduk. Tuhan menganugrahiku sesuatu yang aku suka, tentu aku menyayanginya. Maka disuatu hari kami (aku dan kakak) yang sudah rapi dengan baju dan bedak di muka pun berebutan adik laki-laki untuk memeluknya, aku menangis kencang nggak mau melepaskan adikku itu. Karena sadar akan di foto mungkin ya... Ckckck... alhasil Mamak ikutan masuk kamera dengan menggendong Khalis sedangkan aku dan Kak Lena duduk sisi kiri dan kanan. Klise!

Menarik Ulur
Bapakku senang bukan kepalang mendapati anak ketiganya itu adalah laki-laki. Bapak yang sangat ingin memperlihatkan keahliannya ini itu sebagai laki-laki, dengan senang hati mengajari adik kecilku itu berbagai hal. Mulai dari membuat layang-layang, untuk yang satu ini Bapakku paling jago membuat layangan model baju. Kau pernah melihatnya? Layangan itu persisi baju. Aku suka menempelkan di tubuh seakan-akan aku sedang menjadi layang-layang dan terbang bersama tarik ulur empat tangan laki-laki itu. 

Masa itu, kami sekeluarga masih di Samatiga (Meulaboh). Rumah kami tepat di belakang kantor bapakku. Dengan halaman yang luas itu kami jadikan halaman menarik ulur layangan. Dua anak perempuannya tak mau kalah dengan satu anak laki-laki, ketika musim panen buah nipah (buah yang tak pernah kulihat lagi setelah pulang selamanya dari Samatiga, rasanya manis dan bentuknya seperti buah kelapa kecil) Bapak tak merasa capek menggendong kami di bahu kiri dan kanannya saat melewati air paret. 

Ayok! Berenang!
Bagiku, tempat masa kecil yang paling menyenangkan adalah Samatiga. Kata sahabat kecilku, pantai yang tepat di seberang jalan rumahku itu sudah bagai Bali, ramai sekali pengunjungnya pasca tsunami.
Di pantai itu, lagi-lagi Bapakku tak mau membuang kesempatan. Sebelum ke pantai, Bapak sesekali mengajak Khalis ke sungai atau got proyek untuk mengambil bube*alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu. Bapak melakukan itu subuh sekali dan sepulangnya adalah tugas aku dan kakak mengeluarkan ikan yang terperangkap di dalam bube tadi. Tak cukup di situ kami akan melanjutkan libur minggu dengan bermain di pantai. Cukup berjalan kaki, sampailah kami. Hari masih pagi, masih kuingat beberapa ibu dan anak mencari keong. Sebelah kanan kami ada segerombolan muda dan kaum tuha sedang menarik jala besar yang akrab kita sapa tarek pukat.
Bapak mengajak kami main air. Senang, aku dan kakak langsung berlarian mendekati buih. Khalis yang berdiri saja ditarik Bapak dan di paksanya mandi dan berenang. Hahaha, Khalis tidak bisa berenang, aku dan kakak bisa lho... pake gaya batu lagi. *mulut ternganga, ketawa gede.

Loncat Ke Banda
Seperti meloncat saja, kami sudah tiba di Banda. Surat pindah kerja Bapak di terima karena kondisi sangat tidak memungkinkan kami bertahan dari ketukan pintu tengah malam, atau suara peluru mengejar pihak GAM.
Di sinilah adik kecilku melanjutkan masa kecilnya di TK Bunga Bangsa. Sedangkan aku duduk di kelas 3 dan kakak kelas 4 MIN Miruek Taman.

Raja Keikhlasan
Khalis kecil sudah besar, Khalis yang dulunya kubuat nangis dan aku dibuatnya menangis sudah punya sosok yang bisa dia usili dan Khalis besar sangat-sangat usil dengan adik bungsuku bernama Nuzul Fitria (sekarang kelas 5 Min). 

#aksi curi poto gara-gara foto usil tadi pagi tersimpan dalam flash yang tertinggal sama temanku. -_-"

Kak Lena, aku, Khalis dan Nuzul paling sering bertengkar, dan pasti ada yang menangis. Di usia yang sudah besar ini, seakan terpilah dua, aku paling sering cek-cok dengan kakakku, dan Khalis dengan senang hati mencolek Nuzul sampe perkara besar dan datang orang yang lebih besar, 'hoh parang, cok, tak taku laju peu meupake cilet-cilet'* ini parang, ambil, potong leher, apa berantem kecil-kecilan, kata Bapakku.
Khalis tumbuh tinggi, berkacamata, cukuplah begitu kuceritakan sekilas. Khalis anak kandung Bapakku ini tidaklah sepintar Khalis anak murid Bapak. Tapi, ia tetap raja keikhlasan bagi istana yang akan dibinanya suatu masa nanti. Sementara, yang kita bina adalah istana Bapak, yang telah susah payah ia mulai dari niat dan tulus dalam menyayangi kita penghuni istananya.

Bagiku, yang sangat menginginkan sosok abang kandung. Kehadiran sosok adik laki-laki yang tumbuh besar adalah keberuntungan tersendiri. Maka tak salah bila kuberi nama Khalis Siilucky pada akun facebooknya.
Beberapa bulan lalu aku lagi-lagi kecelakaan motor. Kaki kananku terkilir dan sakitnya luar biasa sampai aku tak bisa jalan normal dua minggu. 

Hari H itu rumah kosong, aku dibantu teman ke tempat urut. Setelah itu sendirian menunggu penghuni rumah pulang. Sore harinya aku tak tahan pada rasa panas dibalik balutan perban di kaki. Khalis datang dan membuka ikatan perban dengan sangat pelan dan hati-hati, sedikit pun aku tak merasa sakit saat pelan-pelan ia juga membersihkan obat tumbuk yang dilekatkan oleh tukang urut. Tak sampai di situ, Khalis mau menggiling bawang putih dan menempelkannya lalu membalutnya sampai selesai. Lima belas menit kemudian, balautan itu terpaksa kubuka kembali. Bukan karena Khalis. Bukan! Jelas bukan sekali. Justru aku yang keliru besar pada ramuan obat yang sebenarnya. Kakiku makin kepanasan karena kerja si bawang putih itu yang segera diganti Mamak dengan ramuan yang sebenar-benarnya adalah buah halia yang di giling pakai batu giling. Hanya itu, tapi aku bisa lupa apa kata si tukang urut. Haddduuuuuuh.
Dari ini semua, aku tau kalau adikku ini orangnya lemah lembut.

Lanjut ke kenangan selanjutnya.  Masa kecelakaan itu sungguh tak kuinginkan. Musim ujian membuatku tak sanggup memikirkan kuliah. Alhasil nilai aku semester kemarin anjlok.
Tapi dibalik nilai C, aku masih bersyukur mengenali mereka yang menyayangiku tulus. Sahabat yang tulus menggendongku naik tangga demi hadir ujian final Fisika Matematika. *alhamdulillah yaah badanku kecil. :D

Adikkulah yang dengan senang hati mengantar dan menjemputku di kampus. Menungguku sebelum aku mengirimnya pesan minta jemput. 

Aku tak sanggup membayangkan kalau di rumahku tidak ada laki-laki selain Bapakku. Bapakku tentu akan kewalahan mengatur waktu demi kesempurnaan menyayanginya secara adil.

Seperti Bapak, khalisku tumbuh besar tidak boros. Aku dapat menemukan uang sakunya berceceran di kasur. Alhasil, tabungannya dimintai Bapak pun ia setujui. Bapak memintanya untuk Khalis juga, yakni membeli seekor sapi dengan menambah uang Bapak yang sampai dini sore sapi itu masih di rawatnya.

Lalu, tidakkah aku menangis haru melihat apa yang ia lakukan setelah menjemputku sore hari? Ia masih harus ke kebun untuk memotong rumput, kembali ke kandang memberi makan sapinya. Lalu ia kejar-kejaran dengan waktu azan, bergegas memandikan tubuh yang letih dan bergegas ke pengajian. 

Ketika aku sudah sembuh, tempat yang paling aku ingin pergi adalah pasar untuk membelikan ia sesuatu. Menemukan hadiahku, ia memang tak berkomentar banyak. Tapi, jelas ia membuatku sangat senang kala tiap kali melihatnya pergi shalat Jum`at selalu mengenakan baju itu itu saja.
Dari sini aku mengenal, kalau adikku ini orangnya adalah menghargai.

17+
Angka itu begitu menakutkan. Ketika dulu kulaluinya, rasa melayang membawaku terbang. Aku tak sampai terjatuh saat itu karena papan tulis selalu menontonkan kecemburuan yang lebih besar jika sedikit saja aku tak memperhatikannya.

Adikku, ketika tahun nanti berganti lagi. Bawa cerita tahun yang sudah berlalu sebagai kisah yang lebih menarik, karena adikku ini sudah bagaikan magnet.
Kenapa kukatakan magnet?
Anak gadis orang sudah mulai bertanya-tanya siapa lelaki itu?
Mereka sedang menyelidiki siapa kamu.
Mereka sedang berusaha menembus pertahananmu sebagai lelaki dingin.
Adikku, tetaplah bersikap dingin pada mereka.

Tak usah kau hiraukan apa kata temanmu bila mereka katakan kacamatamu itu buatmu ‘cupu’. Karena bagiku, CB ‘cowok berkacamata’ itu miliki aura yang melekat padanya sikap wibawa.
Tak usah kau dengarkan apa kata temanmu, ‘nggak gaul nggak punya cewek’. Karena bagiku, gaul itu ketika mereka bisa menerimamu apa adanya dan berteman denganmu dengan pergaulan yang sehat.
Tak usah kau dengarkan apa kata mereka, ‘nggak merokok itu nggak keren!’. Karena bagiku, perokok itu akan menjadi penyesalan terbesarnya kala ia menyadarinya. Kau jelas tau kalau kakakmu berteman dengan mereka yang cowok, percayalah mereka sekarang kesusahan untuk berhenti merokok. Bukankah Bapak kita juga tak menyukai rokok?

Tak usah kau pedulikan ajakan mereka, ‘payah! Jadi cowok nggak boleh keluar malam’. Bagiku, mengabiskan malam dengan keluarga adalah apa yang mereka cari dan tidak mendapatkan, makanya mereka keluar dari rumah. Adikku, bersyukurlah pada nikmat Tuhan yang berikan kita Bapak dan Mamak yang sampai detik ini masih seatap melindungi kita. Kau tau? Diluar sana, mereka menginginkan apa yang kita rasakan tapi tidak ia temukan.
Tapi aku juga mau merasakan masa muda, Kak...
Bapak dan Mamak tau apa yang terbaik bagi anaknya. Buktinya, mereka masih percayakan ketika kamu pergi buka puasa di luar dengan teman sekolah, bisa menginap di kedai Mufat sambil bakar ayam, bisa nonton bola bareng dengan temanmu. Mereka mengizinkan, karena mereka percaya padamu dan mereka yakin kamu tidak melanggar. Satu lagi, orang tua siapa pun mengkhawatirkan anaknya dengan memastikan siapa teman yang pantas membersamaimu. Bertemanlah dengan mereka yang baik, karena adikku adalah teman dan adik terbaik.

Tak usah kau hiraukan kata mereka, ‘bekawan dengan Khalis nggak seru. Masa pergi ke Sabang aja nggak bisa rayu orang tua’.
Sekali lagi, Bapak, Mamak, Kak Lena, aku, dan Nuzul pun ingin merelakan kepergianmu hari itu. Tapi hati kecil berkata, ada waktu yang lebih tepat untuk ke sana. Semua dari kami mengkhawatirkan kepergianmu dengan teman sebayamu itu. Percayalah, Tuhan sedang menyiapkan cerita lebih sehat untuk kau cicipi.

Apa lagi ya?
Udah deh, kalau ada yang masih kurang menguras rasa haru membaca ini. Ayoook kita makan. Yang ulang tahun harus traktir tapi. :p

Barakallah fi umurik, ya dek.
[̲̅̅H̲̅][̲̅̅A̲̅][̲̅̅P̲̅][̲̅̅P̲̅][̲̅̅Y̲̅]  [̲̅̅B̲̅][̲̅̅I̲̅][̲̅̅R̲̅][̲̅̅T̲̅][̲̅̅H̲̅][̲̅̅D̲̅][̲̅̅A̲̅][̅Y]
Kadonya mana?
Dalam toples permen itu ada dua kupon. Kalau lulus UN, tujukkan kupon pertama. Segera kita hunting apa yang kamu mau. Kalau lulus SNMPTN, tujukkan kupon kedua. Ayook kita hunting apa yang kamu mau. Gimana?
Hhhhaaa ga aseeeeeeeeek masa hadiahnya masih di toko!
Hahaha…. :p

Mau jadikan kupon sebagai hadiah ulang tahun ke-17th atau mau menghadiahkan kelulusan sebagai hadiah atas usahamu di masa genap 17th?
Kamu bisa mendapatkan keduanya itu dengan sedikit saja belajar lebih giat. Aku yakin, adikku Amir Khalis pasti bisa! 

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers