UA-89306807-1

Mengenal Apa Itu Cinta Dari Seorang Bapak

Dear Bapakku.
Bapakku juga manusia, punya istri punya anak. :D
Ia adalah pria yang kalau pakai peci, pasti selalu  miring. Tapi kasi sayangnya tak pernah miring sebelah. Bapak yang tak pernah membela si akak atau si adek bila sedang berselisih. Bapak yang tak sungkan mengeluarkan amarah agar disegani demi menjaga nama baik keluarga. Bapak yang selalu punya banyak cara untuk membuatku 'menyayanginya'.

Dari mana kamu mengenali cinta seorang pria dewasa?

Bapakku. Ya! Jawabannya adalah Bapakku. Karena sejak aku lahir, darinyalah aku berkenalan dengan cemburu, rindu, kangen, sayang, doa, sedih, tertawa, menangis, manja, malu, takut, tersenyum, ngambek, marah, janji, lupa, dll.
Ia adalah lelaki yang selalu cemburu kalau aku bicara di telepon lama-lama, ia akan membuka pintu pelan dan dooooooor, 'peu lom hana eh'. Jantung seakan mau copot rasanya.

Belum lagi kalau aku pulang terlambat. Bapak akan bertanya rute perjalanan. Maka dari itu, daripada ditanya-tanya mending di rumah aja. Hittu sih dulu waktu aku di masa sekolahan.


Gimana sama sekarang? Haduuugh sama aja! Malah nambah ketat, Mamak tiap habis Magrib rutin berkunjung ke kamar dan menunggu aku bercerita. Maka jangan salah, mamakku uda duluan dengar namamu ketimbang ketemu orangnya. Siihyy kawanku beken kali waaak. :D


Kali ini aku akan berbicara tentang kasih 'Ayah' tak pernah selesai. Walau pohon tomat sudah layu dan mati, buahnya makin mengecil, dan akarnya terpaksa dicabut. Kasih Bapak tidak akan layu, apalagi mati. Kasih Bapak tidak akan mengecil apalagi dicabut. Tidak! Bapak akan mengganti cara bagaimana kisah kasihnya hidup dengan mengganti slide.

Dalam tulisan ini adalah cara Bapakku dari sudut pandangku, anak keduanya. Bapakku adalah pegawai negeri sipil. Kalian tentu penyimak siaran televisi, 'Bosan Jadi Pegawai'. Haha, mungkin Bapakku katagori yang satu ini. Tapi kalau kulihat sendiri, Bapakku tipe pria nggak mau diam buang-buang waktu. Buktinya. Yeaaaaaaaa, kalau aku duduk nulis ini sih si Bapak ngerti kalau anaknya sedang sibuk nulis dan kagak diganggu. Tapi ini kan malem, nah kalau pagi? Brruuum bruuum... Ambek polpen catat apa aja pintanya. Mulai dari ambil telor ayam di kandang, cuci telor, buang sampah, buang bangkai tikus, lap sepatu, kasi makan ikan,bla bla bla. Hhuuuuuft, kudu kerjain. Kalau nggak? Nah, ini satu lagi Bapakku ingatannya kenceeeng nggak kayak operator yang suka putus-putus. Pagi di suruh kalau Bapak pulang kantor ada satu yang aku lupa. Nang ning ning nang ning nung, Bapak sih kagak pernah marah, cuma diingatin lagi terus pamer gini nih, 'lon mantong ingat!' hahaha. :D

Aku pernah ngebayangin kalau Bapakku tiap malam kerjanya lembur kaya di pilem-pilem gitu tooooh. Pasti aku nggak anggun kaya gini nih, udah sono tuh nendang-nendang kerucut kuning yang di taroh di jalan kalau lagi diperbaiki. Hehe... Pengen nih aku nendang benda polisi yang satu itu. Hoho...

Terus kalau Bapakku kaya benneeer nggak bohong, pasti tuh aku sombong, dandan menor, pakai baju ketat, ongkang-ongkang kaki duduk dibelakang motor. Haduduuuuh nau`zubillah deh yang kaya gini.

Terus kalau Bapakku nggak cemburuan. Naaah ini nih yang aku nggak mau.
Kenapa?
Kan cemburu tandanya sayang. :O

Cemburu adalah perasaan berontak dan tidak senang terhadap satu tingkah. Cemburu itu bisa dirasakan, bisa dilihat dan tak bisa dijelaskan.
Aku sering merasakan rona cemburu dari sosok Bapak. Pernah suatu hari saat teman laki-laki dan perempuan dari kampusku bermain ke rumah, auranya langsung berbeda, Bapak tak akan banyak bicara saat itu, ia akan mendadak bermuka masam dan memilih diam kalau aku berbicara seharian. Aku tak tau kenapa. Tapi kejadian itu cukup sekali dan setooooooooop. Ternyata dan ternyataaaa aku melanggar satu UUP (Undang Undang Pertemanan) yang diberlakukan oleh Bapakku sejak kelas 1 MAN dulu. Ow ow o, apakah itu?
'Jangan pacaran, dan jangan bawa teman laki-laki ke rumah kalau tidak penting'. Nah lho? Ketahuan kan kalau mereka datang cuma buat main, heleeeh! Begitulah cara Bapak melindungiku karna ia tau masa SMA adalah masa paling mudah anak gadis terjatuh dalam jalan kubeu jak lam bate. Tapi, Bapakku kasih kelonggaran. Hihi, boleh bertamu tapi kalau lebaran. Hahaha, jadi kalau dirumahku cuma nerima tamu pas lebaran bagi yang 'ikhwan', yaaa maklum-maklum aje yaa. :D

Berkebun Adalah Berkumpul.
Itulah yang kurasakan setelah menghabiskan waktu bersamanya. Apapun caranya, harus ada waktu untuk berkumpul. Berkebun adalah waktu untuk berkumpul. Bapak bukanlah petani yang hebat, tapi caranya mengumpulkan kami itu lebih mahal dari harga panen.
Bapak bukan buah yang dapak kami petik. Tapi Bapak mempersilakan kepada kami untuk memetik kasih sayang darinya, selama ia mampu mari kita petik bersama.
Selama aku mulai bisa membantu, sudah lumayan banyak tanaman yang pernah kami tanam. Tapi jangan kalian bertanya pakai pupuk apa saja dan berapa untung berapa rugi sama aku. Aku tak akan pernah mau tahu. Yang penting, aku bisa ayoklah!
Setidaknya aku sudah pernah berkebun bayam, kangkung, gabus, timun, cabe, tomat, singkong, kates, tebu, kacang panjang, kacang hijau, apa lagi yaaa? haduh segitu yang kuingat. Oh iya, padi, jagung juga!
Yaaa walau cuma bisa siram, petik, ikat, timbang, yang penting mau? Ayooklah!

Bekebun itu capek! Biasanya capek itu biasa aku lampiaskan dengan ngambek. Dan ngambek adalah bagian dari cinta. Menuruti walau terkadang tidak senang.

Katika aku sakit, aku hari itu mulai membaik tapi masih belum sembuh. Keluargaku pergi ke kebun, sedangkan aku sendirian di rumah. Bapakku mengajak ikut ke kebun. Aku merasa diri tak bisa membantu jadi untuk apa ikut? Ayah menjawab, 'hana peu kerja, jak eh manteng di lampoh mangat theun angen pot'. Ya Allah, Bapak mengkhawatirkan keadaanku yang sendirian di rumah dalam keadaan sakit. T.T (terharuuuuuuuuuuuuuuu sampe kapan pun kalo ingat yang ini)

Maka benar, kasih Ayah tidak akan selesai sampai di sini.

Bagaimana Cara Aku Membalas Cintanya?
Aku jadi ingat masa kecil. Kala Bapak belum pulang kerja. Aku duduk di kursi depan teras menunggu Bapak pulang. Saat itu aku masih punya ilmu menghafal satu buah doa keramat. 'Allahummahgfirli dzunubi waliawalidaiya warhkamhuma kama rabbayani saghira', lengkap dengan artinya, 'Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku sebagaimana mereka mendidik aku sewaktu kecilku'. Menyadari kalau aku seharusnya berdoa agar Bapak pulang dengan selamat samapi rumah. Aku menambah doa kecil hasil cipta sendiri, 'Ya Allah, beu bagah woe Pak lon, bek na peu-peu bak jalan. Amin'.
Ckckck, kalau ingat-ingat sekarang. Kok sampe sekarang itu doa masih suka keluar ya kalau Bapak dan Mamak belum pulang. :O

Aku ingin sekali bertanya, 'Pak, dreon peu yang meuheut dari lon?'
Entahlah. Belum berani tanya. Tapi kalau aku punya sedikit cerita, Bapak akan menyimaknya dan mengikuti ceritaku sampai habis. Bapak juga akan berkenalan dengan temanku lewat ceritaku.

Yaa, namanya juga Ayah. Suka pamer sama rekan kerjanya. Dan lebaran kemarin Bapak ngomong gini sama Pak Camat Mesjid Raya yang baru siap makan siang di rumah kami.
"Nyoe aneuk lon, bla bla bla... Nyan ngon jih awak rayeuk-rayeuk mandum'
Gubraaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Hampir pecah piring yang lagi kuangkat.
Ya Pak, Kawan-kawan aku memeang besar-besar semua. Besar badannya dan besar usianya. Wkwkwkwk, :O

Selebihnya, patuh saja kok repot! Itu sih semboyanku kalo lagi jenuh.

Ini ceritaku, apa ceritamu?

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers