UA-89306807-1

Kiriman Pesan Tuhan

Pagi sampai berganti pagi kembali. Hatiku tak pernah salah menyebutkan nama seseorang itu. Kering dan basahnya tanah tak menganggu, walau bertambah segundul tanah pagi itu, sedikit pun tak berubah. Memikirkanmu.

Maka apa dalang dari paradoks yang kuciptakan sendiri. Sakit yang merajai. Lesu yang menipuki. Kencangnya tali pinggang pun tak membantu.

Pagi ini langit kembali biru. Sedangkan aku masih memikirkannya. Warna apa pilihanmu untukku hari ini? Biru atau hijau. Dalam dirinya hanya ada dua warna itu. Aku ingin sekali menambahnya. Ah, mungkin itu bukan bagianku.


Dan sebelum pagi membentangkan sajadah. Aku dikirimi pesan oleh Tuhan.
Bermalam-malam, seakan ada sebuah sedotan yang sedang menghirup darah segar di otakku. Rasanya sakit sekali. Semalam, malam yang sama dengan kemarin. Dalam tarikan darah, menahan sakit dalam jaga. Aku terlelap. Lagi-lagi bagiku istirahat terasa begitu menggiurkan.

Sepertiga malam yang menjadi bentang antara aku, ia, dan Tuhan. Didalamnya, aku terjaga karena getar handphone. Kubuka cepat (dalam hal ini aku selalu cepat, tapi akan segera terpelanting begitu kutahu bukan ia) dan aku terpongah mendapati pesannya yang tak kupahami. Hanya dua kata. Tapi aku tak mengerti. Hingga semunya kembali gelap dan kaki tangan semakin merasakan dingin yang sangat.

Kaki dan tangan masih saja sedingin es. Berkali-kali kuteguk air hangat tak banyak membantu. Sekarang, saat aku tersadar dan merongoh handphone yang masih di sisi novel (aku membacanya sebelum tidur). Aku segera membuka list pesan masuk. Sayangnya tak ada pesan yang kubaca semalam. Kemana?

Aku menjatuhkan tubuh kembali. Mengusap raut muka. Mukaku pun merasakan kedinginan yang sangat karena sentuhanku sendiri.

Kali ini aku memikirkan apa isi pesan itu. Ah! Aku malah lupa. Berkali-kali mencoba mengingat mimpi itu. Siapa pengirimnya? Dia?
Bak kesetrum aku sedikit teringat. Tapi ada dua dugaan yang kuciptakan sendiri.
Dugaan pertama, 'jaga, haha...'
Dugaan kedua, 'juga, haha...'
Yang mana benar? Hatiku menembus nomor pertama.
Entah kenapa hatiku memilih isi pesan itu.

Aku mencoba berdamai sedikit dengan hati. Kali inilah aku tidak menyebutnya dalam diriku.
Aku benar-benar memilih damai, maka kusebut itu adalah kiriman pesan Tuhan. Untukku.
Tuhan sudah menidurkanku, dan membangunkanku kembali. Bisa saja aku mati dalam bentang itu. Tapi Tuhan memilih menyelamatkanku lagi.
Aku harus menjaganya.
Aku harus menjaga apa yang ada.
Kata jaga itu begitu luas lingkupnya. Aku tak akan habis menguliti padanannya di sini. Yang jelas, akan kujaga sebaik-baiknya kiriman pesan Tuhan. Dengan menjaga hati.
Mendapati paradoks baru, aku sedikit lega. Memuji diri sembari tersenyum (dalamnya kurasakan kepala seringan kapas, tak ada lagi pencurian darah dari otakku, kalau masih ada pikiran kotor itu nanti, aku akan memilih mengingat Tuhan)

Seseorang, kukirim pesan Tuhan untukmu juga.

*****

#Tulisan ini terinspirasi dari gaya menulis sebuah novel yang kubaca semalam. Tere-Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers