UA-89306807-1

Permintaan Intan

Sudah beberapa malam ini Sikma terpaksa bersembunyi dibalik awan. Ia rindu pada wajah cantiknya. Ia rindu dipuja puji bagi yang melihatnya. Malam ini, ia benar-benar rindu dan semua hasrat itu harus terpenuhi. Sikma sudah memasang tekad untuk meminta izin pada sang Ratu Mili, Ratunya para bintang di langit. Maka, petang dini hari tadi Sikma beserta temannya sudah rapi dengan wajah berseri. Mereka akan sangat bergembira dan senyumnya akan bertambah merekah lagi bila hasrat mereka disetujui Ratu.

'Selamat malam Ratu. Maaf, jika saya mengganggu Ratu' Sikma akhirnya menjumpai Ratu Mili.
'Tentu tidak menganggu, sayang. Ada apa Bintang Sikma?' Ratu selalu saja ramah dan Sikma tersenyum untuk memulai ceritanya.
'Untuk itu, izinkan kami keluar malam ini Ratu. Kami rindu akan hiruk pikuk manusia.' Sikma memelas.
'Tapi langit sangat gelap. Bahkan, Bulan saja cahayanya tak terang dipandang manusia.' kata Ratu.
'Tapi kalau kita keluar bersama. Alam pasti mengalah.' Sikma tidak menyerah karena ia yakin pasti bisa.
'Tidak, itu akan merusak cuaca.' tegas Ratu Mili. Sikma jelas paham maksud cuaca yang dimaksud Ratu, bila langit mendung, dan bintang tetap menembus awan, sedangkan awan melepas peluru hujan. Ah, mana keindahan yang akan muncul kalau merekai justru berperang.


Sikma belum meninggalkan Ratu yang sedang memilah-milah nama.
'Begini saja, Sikma ingin keluar bukan?' ujar Ratu tersenyum manis.
Kontan saja raut wajah Sikma berubah ceria, 'betul Ratu'.
'Kalau begitu, keluarlah sendiri malam ini dan kamu boleh jadi bintang yang bersinar, ternyata malam ini jadwal kamu piket di luar, sayang... Tapi saya tak yakin sinarmu akan terang.' ujar Ratu dan wajah cantik Sikma kembali hilang senyum karena jelas bukan itu yang ia inginkan. Bukan. Bukan sendiri. Tapi bersama Teta, Nano, Mio, Ve, Te, dan teman lainnya yang sudah siap.
'Tidak, Ratu.'
'Kenapa?' tanya Ratu terkejut karena Sikma menolak keinginannya sendiri.
'Teman-teman juga ingin keluar. Lihatlah Ratu, dibalik tirai itu teman-teman sudah siap. Mereka berharap, bisa keluar.' tutur Sikma dan Ratu bangkit dari duduknya dan alangkah terpukau ia melihat sinar-sinar bintang yang sangat terang.

'Baiklah. Hanya keajaiban yang mampu mewujutkan harapan kita semua.' rona wajah bintang semakin bersinar. 'Sedari dulu, saya selalu memperhatikan seorang anak manusia. Namanya Intan. Tiap malam Intan menunggu seseorang, lewat celah jendela kamar ia selalu melihat langit. Hujan, angin, badai, tak jadi halangan atas rutinitanya. Saya ingin memberi hadiah kepada Intan. Dan hadiahnya, kalian akan menghampiri jendela kamarnya tepat pukul sembilan malam ini. Ingat, kuncikan sinar kalian kepada selain gadis itu dan kabulkan segala permintaannya. Apa pun itu.' titah Ratu semakin membuat bintang tersenyum dan sinar mereka kian terang.

'Baik Ratu. Kami sangat berterimakasih atas kebahagian ini. Terimakasih Ratu...' ujar bintang-bintang bergantian.

Akhirnya, tepat pukul sembilan malam, Sikam dan ratusan bintang lainnya benar-benar keluar menemui gadis bernama Intan. Sikma memimpin formasi hingga membentuk tulisan INTAN di langit. Ketika itu langit mendung sekali, tapi sinar kebahagian bintang-bintang tak kalah bersinar. Intan membuka jendela kamarnya seperti malam-malam lalu, ia tak jenuh memandang langit. Kali ini, mata Intan terpukau pada apa yang ia lihat. Bintang-bintang bersinar indah sekali. Sangat indah. Intan tak pernah melihat keindahan malam seperti ini. 'Subhanallah, alangkah indahnya kuasa Allah.' ujar Intan masih tak percaya.


Sikma maju mendekati Intan. Sangat dekat. Intan dapat melihat tubuh bintang Sikma dengan jelas. Terangnya kasat mata. Tangan Intan bergerak ingin menyentuh Sikma. 'Kamu tak bisa menyentuhku' kata Sikma tersenyum.
'Oh, maafkanku. Kamu bisa bicara? Ini sungguhan? Waaw...'
'Benar Intan. Kamu boleh meminta apa keinginanmu.'
'Kamu bisa kabulkan permintaanku?' Intan tak percaya.
'Iya' kata Sikma tersenyum lagi.
'Kalau begitu, ulangi kejadian apa yang kusaksikan malam ini kepada seseorang yang bernama Aidil.' hanya itu yang sangat Intan ingin minta.
'Itu tidak mungkin.' kata Sikma.
Ve mendekati Sikma dan berbisik, 'Ingat kata Ratu? Kita harus mengabulkan pintanya. Apapun itu.'
'Oke. Akan aku penuhi. Ada lagi? Kamu lihat dibelakangku da jutaan bintang yang juga bisa kau mintai apapun. Mintalah.' kata Sikma bijaksana.
'Tidak, aku tidak miliki keinginan lain selain yang kupinta tadi. Aku ingin ia tersenyum. Aku ingin ia merasakan apa yang kurasakan. Walau, ini semua antara mimpi dan nyata. Datanglah segera padanya sebelum ia keluar bersama temannya. Katakan padanya, akan ada waktu untuk sesuatu, jangan menyerah.' Intan tersenyum dan menngangguk meyakinkan bintang.



'Kamu, tak salah Ratu Mili memilihmu. Segera kami penuhi. Selamat malam, Intan.' kata Sikma lalu pergi dan diikuti ratusan bintang.

Malam ini, bukan hanya milik Intan, tapi juga Aidil. Sudah waktunya mereka merasakan keajaiban.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers