UA-89306807-1

Kertas Sobek

Tuhan membekaliku sebuah buku putih. Bersihnya tanpa cela. Secoret garis pun tak bertinta. Tuhan hanya memberikannya padaku. Secara pribadi, terserah mauku. 

Maka aku pun hidup tidak memilih. Pasword hidupku adalah welcome, jadi kupersilakan siapa saja yang mau mengisi buku pemberian Tuhanku.

Sama dengan mereka lainnya. Seseorang itu mengisi di lembaran yang berbeda. Ia sendiri memilih halaman akhir dan terasing dengan kertas putih yang mulai terisi goresan tinta. Seseorang itu sebut saja namanya Hada. Aku sedang suka nama itu.

Hada sedang semangatnya mengisi cerita paling banyak, berwarna, tapi sayang ia terlalu terburu-buru dalam menuliskan semua itu. Entah sedang dikejar waktu. Atau takut kalah taruhan.

Jadi, di sebuah halaman. Ia melakukan kesalahan terlalu banyak. Ada coretan di sana sini. Awalnya aku merasa itu suatu kewajaran dan mengampuninya. Tapi lama kelamaan iya tak juga berubah, semakin ceroboh. Ia semakin memberi coretan bertumpuk dan sangat tidak enak di pandang. Oya, sebelumnya aku tidak menyediakan penghapus dalam mengisi bukuku. Jadi mereka yang telah menuliskannya tidak berhak menghapus dan malangnya ia kalang kabut dan takut malah merobek lembaran itu.

Hari ketiga barulah kutau kalau ada sobekan. Aku kecewa. Bagaimana tidak? Begitu keberi kepercayaan, ia menyobeknya. Dan kemana ia membuang kertas sobek itu sekarang? Aku menemukannya di dalam tong sampah milik kelas tetangga.

Dan kau tau apa yang ia tulis dalam kertas sobek itu? Ah! Benar dan wajar saja ia menyobeknya karena jelas sudah ia adalah pengecut.
'Maafkan saja aku di sini. Maafkan saja. Aku tidak ingin menyakitimu lagi karena terpercayanya aku di matamu.'

2 komentar:

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers