UA-89306807-1

Ternyata Aku Rindu Laut/19 Februari 2012

Sejak semalam aku sangat semangat mempersiapkan semua ini. Karena hari Sabtuku telah penuh dan tak sempat berbelanja, aku keluar bersama adik dan berbelanja sedikit buncis, beberapa wortel, dan beberapa kentang, dan dua rasa nutrijell. Ehmn, nyammi! Aku berencana esok paginya tinggal menggoreng adonan menjadi bakwan dan jelly bersama kakakku tentunya.

Paginya kami langsung mengolah bahan, memburu waktu agar segera berkumpul dengan teman-teman panyoet lainnya.

Setelah menunggu Dovie di Geulanggang, kami bergegas ke sekret FLP untuk mengambil terpal. Setelah itu kami bertiga langsung ke taman Putroe Phang. Setelah menunggu beberapa lama, kami pun memutuskan berangkat dan bagi teman yang belum sampai akan menyusul. 

Dalam perjalanan, kami berniat membeli nasi bungkus. Wuuuiis, kompaknya semua motor rombongan kami ikut berhenti, menunggu si Bapak membungkus nasi pakai ayam. Enyaaak!
Daaaan tancaaaaaaaaaaaaaap!

Lampu`uk babah dua. Mantaaap!


Di ujung laut Lampu`uk kami menggelar terpal tepat di bawah tebing. Setelah mencari-cari bongkahan batu tebing apakah ada atau tidak yang kiranya menandakan pernah terjadi kejadian tebing ambruk menelan korban. Haghag... kami langsung duduk melingkar seperti orang-orang mau tahlilan. 

Perutku sudah lapar sedari tadi sejak melihat lauk di warung. Kukeluarkan dua tupperware berisi nutrijell dan bakwan. Hup! Aku meletakkan di tengah (lebih di hadapanku siih... ckck) dan dalam sekejap itu tupperware sudah kosong. Ganaaas eeey! Kalian lapar juga ternyata. Wkwkwk....

Menunggu lama-lama aku jadi bosan, mereka kan sukanya menggambar. C-paas udah menggores di buku death note (habih buku gambarnya mirip buku di film Death Note, hehe)  Dovie. Dyo sibuk dengan komik Naruto. Aku? Angkat kaki keliling terpal satu kali, duduk gelisah melihat nasi bungkus dengan mata kelaparan. 

Dovie ternyata lebih kelaparan dari aku, dia yang merampas bakwan masih menduduki posisi paling pertama dalam membuka nasi bungkus. Yosh!Nggak tahan lagi satu persatu tangan anak Panyoet pun menyentuh nasi. 

Sambil makan dengan lahapnya tak diduga tak disangka tak diundang seeokor anjing menonton kami makan. Oke, sekarang posisi Dovie yang kelaparan dikalahkan oleh tatapan si Dog mengemis minta jatah. Hahaha... 

Makan kue uda, makan nasi uda. Mau apa lagi? Mandiiiiiiiiiiiiiiii.

Terpal kami lipat kembali dan menaruhnya di tebing, sedangkan kami berjalan-jalan di bibir pantai dan memutuskan duduk di bibir pantai sambil menunggu C-paas dan Dara mengganti kostum renangnya, hahaha...
C-paas dan Dara baru ganti kostum


Aku langsung memilih duduk di atas pasir tanpa alas. Kemudian teman-teman panyoet ikut duduk memandang pantai.
Aku iseng mengenggam pasir, menepuk-nepuknya sampai padat. Buuukkk! ‘hahaha...’ tawaku saat lemparan bola pasir tepat mengenai kaki Dovie. Dovie mulai meniru apa yang kulakukan, aku mengulanginya dan. Buuukk! Buuukkk! Perang bola pasir (selanjutnya kami sebut bola salju karena kami seakan-akan sedang bermain dengan salju).

Kakakku Marza sudah mengeluarkan perkakas menggambar, bersama kak Riska sedang mencoba memindahkan keindahan laut ke dalam kertas HVS.

C-pass sudah dengan celana borju kepanjangan langsung duduk di pasir. ‘Yoook kita menggambar di pasir. Masing-masing buat sesuatu dengan pasir.’ Kata C-paas bersemangat. Kak Marza meletakkan gambarnya dan ikut bermain pasir dengan kami.

‘Woooy! Jangan mundur diam-diam niat menghancurkan kuburan aku!’ pekikku pada Dovie dan aku memeluk kuburan berukuran 3 cm itu.
‘Apaa, kuburan digambar waaaakkk...’ serang Dovie.
‘Itu yang aku bisa. Ni kubuat satu lagi.’ Puk! Puk! Aku menepuk gunulan pasir dan sudah jadi dua gundulan tanah berbentuk kuburan. ‘Ini namanyaa... apalah kalau yang di pake sama cowok pas kawin?’
‘Hah, apaa tu’ Dovie nggak tertarik.
‘Inii, ya! Topi linto! Haha’ kataku akhirnya tepat.
‘Mana da gitu, hahaha’
‘Hmn... Candiborobudur deh...’
‘Wkwkwkwk, ini candi prahmanan’ kata Dyo yang sedari tadi serius dengan pasirnya. Eh, bukannya tadi Dyo bilang mau buat istana pasir. ==`

Aku mendadak lupa Dovie buat gambar apa. Hahaha

Aku menepuk pasir yang sedikit lembab dan, ‘Paaas!’ panggilku sambil memperlihatkan tanganku menepuk-nepuk pasir yang membentuk bola. C-pas memperhatikan ulahku yang seakan-akan ingin melemparinnya. Buuuukkk! 

Woy maiiin jagan mandii cepet kali, XD


C-pas dengan muka begonya masi nggak percaya kalau aku berani melemparnya tepat di badannya. ‘Pecaya aku! Betulan dilempar! Hahaha...’

C-paas sudah menggali tanah sedalam 2 cm, kukira ia akan membuat kolam renang. Ternyata ia menggambar seseorang yang sedang duduk di kursi dan menonton TV. Aku hampir tak percaya kalau yang ditonton itu adalah TV, habis nggak nampak. Hahaha... :p

Kak Marza menggambar negeri Lam Langet yang konon itu adalah cerita yang sedang ia garap menjadi komik. 

Melihat Dovie dan aku yang sudah menyiapkan bola salju, C-paas juga ikut bangun dan membentuk bola salju. Aku mendekati C-pas. ‘Paas, dua lawan satu.’ Kataku.
‘Yook’ kata C-pas mendekatkan bola salju. ‘Kumpulkan tenaga, kita serang Dovie.’ Pekik C-paas semangat. Kami pura-pura menjadi two angel yang akan melawan evil dengan bola salju adalah tenaga dalam.

Buuuuk! Dovie melempar kami. Dan kami membalasnya. Buukkkk Buuukkk!
Sayangnya lemparan tenaga dalam duluan keluar, alias tak mengena sasaran karena Dovie lari. Hahahaha...

Aku dan kakakku
Tak lama kemudian akhirnya abang fotografer datang juga. Padahal aksi perang tadi kalau di foto bisa jadi ide ngomik. Ckck...

Aku masih belum puas karena tidak bisa ikut Dovie, C-pass, dan Dara mandi air laut menipuk Bang Nawir yang baru datang tepat di punggungnya. ‘Oh, qe dek minta kulempar ya. Bolee bolee...’ serangnya mulai membuat bola salju, dan aku juga. Buuuuukkk! Lemparan Bang Nawir asli, sakit, pedih mengenai punggungku. Aku membalasnya. Tak kena. Membalas lagi. Ia mengelak. Kalau kena pun cuma percikan pasir. Sumpah! Lawan yang salah. Lemparannya sakit-sakit kali waaak!

Bang Nawir sekarang sudah menyusul C-pass cs mandi laut. Aku, Dyo, Kak Riska, Kak Marza dan Firdaus cuma main-main air. Dovie tiba-tiba lari seakan dikejar lumba-lumba, Dovie lari memecah air, percikannya sukses mengenai bajuku (tak sampai basah sih... hihi).
Bang Nawir muncul dari laut

Dovie pandai berenang, dan C-pas pandai melampungkan badan tapi tidak bisa berenang persis seperti berang di tengah laut kalau di lihat dari bibir pantai. Mereka tak puas-puas mandi laut sampai muka merah dan di serang kantuk, akhirnya C-paas memutuskan pulang duluan. Kami pun hendak pulang, ee malah ada yang baru datang. Bang Ilham datang-datang minta kami jangan pulang dulu, ternyata ia membawa berkas berisi ADRT Panyoet. Hmn... dan selanjutnya aku, Kakakku, dan Dyo pulang. Tinggal di sana Kak Amy, Bang Ilham dan Bang Nawir. Bagaimana kisah kalian setelah kami pulang, hah? Tulis sendiri yaa... hahaha. :p

2 komentar:

  1. Iaa kaak... asyik karena baru kemarin ayah kasih izin, biasanya ga boleh sih... mungkin karena ada kakak kali ya, jadi percaya. Hehehe... :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers