UA-89306807-1

Cinta Kita Sama Rata


Pagi ini dingin menusuk tulang. Jariku yang alhamdulillah bukan sebelas ini menggelitik kedinginan. Sudah beberapa kali kumembalut-lepas diri dari jaket yang kebesaran dan berganti selimut. Ini kedinginan yang sudah menjadi-jadi. Laptop sebelas inc yang kuberi nama Pion menatapku angek (kesal merasa dipermainkan) tiap kali aku tak berhasil menulis apa pun. Ditambah lagi keluargaku yang masuk keluar kamar tanpa permisi, namun itu sudah wajar. Selama mereka tidak mengajakku bicara, aku tak punya emosi untuk marah apalagi mengusir. Seperti halnya yang sering kuusir itu adalah adik atau kakakku yang sengaja berdiri mengintip apa yang sedang kutulis.

Ibu duduk di kasur kamarku. Menatap kearahku yang duduk di meja belajar sedang mengusap telapak kaki. Aku tahu itu karena layar Pion yang untuk kesekian kalinya memperlihatkan kelopak mataku yang membesar, suram, dan sangat tidak menarik. Layar Pion menjadi cermin yang menangkap bayangan Ibu. Ibu menatapku? Apa ibu juga sepertiku yang membacanya dari layar Pion? Ah, kalau iya ibuku sangat hebat!

Tatapan mata ibu jeli. Tatapan hangat yang dalam sekejap kedinginan yang menjadi-jadi itu pergi. Jemariku pun langsung menekan asal tuts keyboard hingga terbuka kembali layar Pion. Hingga akhirnya aku tak berpaling dan Pion juga tak lagi menangkap bayangan siapapun. 

Aku takut. Aku takut tatapan ibu. Tatapan yang padanya ada syurga atau neraka untukku. Tatapan yang ingatkan aku pada kata-kata nenek pihak ayah ketika Minggu kemarin kujenguk bersama kakak, adik dan ayahku. Nenekku satu-satunya lagi itu sudah renta, melihat kedatangan kami air matanya menetes.

Tatapan mata ibu selalu hangat. Tatapan mata nenek juga hangat. Mata rentanya yang masih berkaca-kaca itu tak mampu menyembunyikan kata, dan nenekku yang tangan dan kaki sebelah kirinya lumpuh itu berkata, kalau kasih sayang nenek untuk ke tiga puluh dua cucunya itu sama, jauh dekat sama rata. Mendengarnya, rasa haru menderu. Kuusap tangan nenek dan kugenggam tangan kanannya. Aku tersenyum. Lalu nenek berkata lagi, alhamdulillah semua anak dan cucu nenek akan menjadi anak yang berhasil. 

Ibu bangkit dari kasur dan menyusul adikku berangkat sekolah, seperti biasa ibu akan mengecek sepeda adikku kalau rantai sepedanya rusak. Aku bebas menulis sekarang, dan rasa dingin yang semakin menjadi-jadi itu bukan main menggelitik ujung jari kakiku.

Lupakan rasa dingin. Tulisanku belum lengkap. Aku terngiang pula tentang ayah, tatapannya yang tajam disertai kerutan di keningnya itu ingin sekali kupijat. Agar emosi dan amarah yang jika benar karenanya kerutan itu membuat rupa ayahku sangat menua segera lenyap. Beberapa hari lalu, mungkin bukan di angka sebelas menjadi tanggal main. Kakakku meminta tolong sesuatu pada ayah. Aku lupa kakakku meminta apa, aku sedang malas bertandang ke kamarnya, oh percuma aku ke kamar kakak karena ia sudah berangkat PPL. Intinya kakak minta bantuan ayah, aku yang sedang meletakkan piring terkejut sedih. Bukan sedih karena jawaban ayah. Tapi benarkah seperti apa yang ayahku katakan itu?

Bukan benarkah kakakku demikian. Tapi benarkah aku juga demikian cocok dengan jawaban ayah? Aku terdiam beberapa lama dengan piring dan gelas di tangan. Kata-kata ayah terus saja mengusik sampai ke tulisan ini. Ayah saat itu menjawab jawaban asing, sama sekali di luar dugaan. Untuk apa peduli padamu, kamu saja tak peduli padaku. Kiranya demikianlah makna dari ucapan ayahku. Benarkah aku tak peduli pada ayah? 

Rasa haru membelah. Sejak kata-kata itu keluar dari ucapan ayahku langsung. Hanya ada satu yang selalu menjadi bukti aku juga peduli ayah, yaa dengan menurut apa pintanya. Hanya itu yang saat ini bisa kulakukan. 

Sejak saat itu. Mendadak aku sangat menurut. Lebih banyak diam, dan patuh. Mungkin itu hanya penilaianku, tolong jangan percaya pada tulisan non fiksi ini yang kian lama seperti curhat di pagi hari dengan dingin semakin menjadi-jadi tak mau pergi.

Apa ayah tahu kenapa aku seperti ini. Melakukukan ini, bersama di kebun lebih lama sampai di suruh pulang yang biasanya selalu ingin pulang. Apa ayah tahu kalau aku tidak mau pulang dari kebun dengan kakakku saat kami bermarahan dan aku memilih pulang dengan kaki, menenteng sebotol minum karena padahal aku ingin pulang bersama ayah. Apa ayah sudah tahu kalau aku juga sangat peduli padanya? Apa aku harus menyodorkan tulisan ini? Bahkan, baru saja ayah meminta flasdisk yang berisi ketikan tugas kantor yang dalam sepekan ini kukerjakan bersama Pion demi ayah, aku merasakan ayah menatap mataku yang menunduk saat menyodorkan flasdisk. Aku tak mau ayah melihat mataku saat ini. 

Hari sudah pagi, matahari masih malu pada bumi. Aku yang harus mengakhiri tulisan ini karena sarapan pagi menungguku, aku jadi ingat lagi sejak kecil Ibu dan Ayah kompak membuatku jera berangkat sekolah tanpa sebutir nasi pun di perut. Ayah dan Ibu tak akan memberikan uang jajan kalau aku tidak sarapan pagi. Walau aku berpura-pura sudah makan dengan meletakkan piring kosong di sumur agar saat ibu atau ayah menghitung jumlah piring sesuai isi penghuni rumah adalah sama. Sialnya ayah dan ibu tahu, aku yang sudah siap mengenakan sepatu dan akan berangkat sekolah di panggil dan di suruh masuk untuk makan. Sial! Ketahuan!

Betapa sejuknya rumah hijau ini dengan kasih sayang dan cinta. Cinta kasih yang tak pernah berat sebelah berhasil dibagi sama rata. Terkadang hanya dengan duduknya ibu di ujung ranjang dan menemani tangisku. Ibu yang marah-marah, ayah dengan caranya sendiri mendidikku. Nenek yang membagi cintanya sama rata. Kakek yang sudah almarhum juga tak kalah besar cintanya yang sengaja menyembunyikan rambutan di bawah ranjang tidurnya hanya untuk cucunya yang jauh. Lalu, pantaskah aku masih mengeja apa yang kulakukan untuk mereka? Tidak, sama sekali tidak. Karena kita sejatinya sama-sama tahu, cinta kita sama rata.

Dingin yang masih meringkih tak mau pergi. Menusuk jemariku sedari tadi. Aku akan mengakhiri tulisan ini segera. Secepatnya. Perut sudah lapar. Kampus tempatku menuntut ilmu, lagi-lagi aku akan hadir terlambat. Sebelum semua berakhir, izinkan kulepas kata. Kalau cinta Ibu dan ayah bukan cinta 1112 (baca: sebelas duabelas). Cinta nenek dan kakek bukan cinta 1112. Cinta keluarga bukan cinta 1112. Cinta aku untuk ibu, ayah, paman, bunda, kakek, nenek, kakak, adik, sepupuku bukanlah cinta 1112 yang lebih dan kurang sama saja. Cinta kita 1111 (baca: sebelas sebelas). Cinta kita sama rata.

I love you full my family. ^_^
 Gambar dari Google

Rumah Hijau, 8;54, 1 Maret 2012
-Puji syukur kepada ilahi dari aku yang mencintai mereka karena telah memberi cinta sama rata-

Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA MENULIS INTERNAL SELAMA 24 JAM, Milad ke 11 FLP Aceh

Selamat ulang tahun yang ke-11 FLP Aceh. Aku juga cinta FLP Aceh sama rata deh. ^0^

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers