UA-89306807-1

Cuplikan Kisah Kecil

Aku berharap masih berkesempatan mengubah keputusan lelaki itu. Aku tentu ingin bersama mereka, wajah-wajah dewasa, kebapakan dan kutemukan aura keseriusan dalam berpikir ada pada mereka sekarang. Aku rindu.

Hari itu sahabat pertamaku di sekolah baru di kelas III bernama Khaisul mengirim pesan singkat menanyakan pendapatku kalau kita adain reuni. Aku sih setuju banget, habis sebagian besar aku rada lupa siapa dan seperti apa rupa mereka.

Sepekan kemudian, rapat bersama alumni kelas VI Min Miruek Taman di adakan. Sebelumnya, aku sedang di hari pesta Amy, dan sepupuku bernama Azmul adalah juga teman sekelasku. Teman sekelas yang ternyata tak berpisah di kelas itu, kami turut bersama sampai tamat MTsN, woooooooow aku dan Bang Mun (panggilan kalau lagi baik untuk Azmul) padahal sudah sama-sama pengen bebas, alias tidak ada yang saling melapor kalau-kalau kami nakal di sekolah. It`s oke! Hari rapat itu aku sangat malas untuk pergi one time ke sekolah lama (sekolah Min yang baru sudah pindah 500 meter dari sekolah lama) tempat penuh kenangan itu. Azmul akhirnya mengajakku pergi segera, aku ikut saja. 


Kamu tahu apa yang kurasakan sesampainya di sana? Aku terkejut, ternyata Khaisul tidak bohong kalau sudah rame yang ngumpul nungguin kami. Seumur hidup, ini adalah rapat yang paling ramai aku ikut. Apalagi teman sekelas kami tak lebih dari 30 orang, sedangkan yang hadir hmn... berapa ya? 20 ada nggak ya? Hhehe, dan sebagian dari mereka baru kali ini bertemu kembali, oh tidaaaaaaaaaak aku lupa siapa namanya. Hhhehhe...

Aku punya dua massa sekolah Min, kelas 1 dan kelas 2 bersekolah di Min Samatiga, selanjutnya hingga tamat di Min Miruek Taman tak lain dan tak bukan adalah kampung halamanku tercinta. Dua sekolah yang punya dua sisi cerita yang tak pernah ada pemenang pertama di hatiku. Untuk kali ini aku sedang ingin bercerita tentang aku dan alumni Min Mirta (Miruek Taman).

Ada yang unik masa kecilku di Min Mirta, ketika pertama kali aku masuk kelas langsung ada sang ketua kelas yang usil ganggu aku, mulai dari intipin rok yang kependean, sampe ngekor ke kamar mandi. Di belakang itu ada dua teman sekelas yang sebenarnya anak yang terkenal nakal di sekolah tapi mereka melindungiku. Aku ingat, Dun dan Putra yang entah berapa kali tinggal kelas sampai-sampai mengantarku di depan pintu gerbang sekolah demi keamanan yang aku tidak tahu apa itu. Hahaha...

Putra, terakhir aku bertemu dia ketika kelas 3 MTsn dan dia tetap tak ubah masih memanggilku anak kuman. Aku yang sejak dahulu sudah polos, senang-senang saja dipanggil anak kumannya, habis dijagaiiin. Hahaha....

Aku tak pernah melupakan dua sahabat kami, Rahmi dengan alis tebal dan tinggi semampai menjadi gadis tercantik di kelas kami sudah diambil Tuhan. Herlia, sahabat dekatku juga sudah tiada. Dua wanita yang sama-sama sisipkan kenangan tersendiri telah diselamatkan Tsunami kepada pangkuan Ilahi. Doa kami menyertai kalian.

Saat baru-baru bersama mereka semua, aku yang belum punya teman langsung disambut hangat oleh juara kelas, Khaisul. Berikutnya kami menciptakan ide pergi sekolah pakai jilbab kayak kakak kelas lima dan enam. Setelah hari sepakat itu kami betulan memakai jilbab, dengan rok seksi hahaha, baju sekolah pendek lengan tetap kekeh pakai jilbab. Hingga satu persatu teman cewek lainnya ikut memakai jilbab. Naik kelas, ganti pakaian, dan itu kesempatan merayu ibu mencarikan rok putih apa saja boleh asal panjang. Aku udah nggak mau lagi pakai rok pendek, habisnya ada satu teman cowok suka usil. Iigggh... Hahahaha
Tetap bersama

Ah iyaaaa, ada satu accident yang buat aku menangis terheran-heran. Pasalnya ada kejadian teraneh di kelas VI. Kami yang sudah harus semakin akrab mempersiapkan hari-hari akhir sekolah malah dikejutkan dengan tas ranselku yang robek. Ya! Robek! Kamu pasti tidak akan menyangka kenapa bisa kalau kuceritakan seperti apa sobekannya. Haduuuh, sampe sekarang aku masih heran. Sumpah! Pasalnya seperti ada yang sengaja menyilet benang jahitan tas, alhasil tas ranselku terbelah dua. Robeknya sungguh tak masuk akal kalau tertarik paku atau aku terlalu berat membawa buku karena aku yang sedang rajinnya belajar lebih menenteng seplastik buku daripada sengaja membopong isi tas sampai pundakku bungkuk.

Tapi, kalau semua dugaan itu tidak mampu menjawab misteri robeknya tas ranselku. Siapakah pelakunya? Siapa yang menyilet tas ranselku setragis itu sampai-sampai aku merangkul buku dengan tangan membawa pulang dan bercerita terheran-heran pada keluargaku. Oh, itu tak bisa kulupakan!

Setelah aku letih histeris sendiri, dilanjut histeris bersama teman cewek dan bertambah histeris plus heboh sama teman cowok yang pada mulai acting dan saling berekayasa kronologis kejadian naas itu. Aku hanya bisa diam menatap miris nasip tas yang lebih besar dengan tubuhku. 

Setelah berdebat panjang, akhirnya kabar naas itu sampai ke telinga dewan guru. Pak Karim, Bu Nas, Bu Soraya mengambil alih mencoba memecahkan misteri teraneh masa kami.

Dan akhirnya kronologis kejadian itu dikarenakan si Din dan Syauqi (anak kandung Bu Soraya) berkejaran di kelas. Aku tidak mengerti, itu kronologis yang tak masuk akal. Bu Soraya langsung memutuskan kalau biar beliau yang bertanggung jawab karena anaknya terlibat. Bu Soraya mendekatiku dan berbicara lembut (padahal guru kileh hobinya cubit-cubitan, hhehhe) berkata besok tasnya ibu bawa sudah seperti semula. Aku hanya mengangguk saja.

Setelah kejadian itu, aku rada canggung beberapa hari bersama mereka berdua. Dan teman laki-laki lain mulai melindungku, menanyakan hal-hal kecil atau meminta diri antar sampai rumah, atau sekedar pulang bareng sampai depan lorong. Tapi, semuanya lekas membaik. Aku dan Syauqi atau Din kembali barteran PR, karena Din jagonya Matematika. 

Terlepas dari masa kecil yang lugu. Kini aku dihadapkan dengan harapan besar teman-teman seangkatan 2003 Min Mirta untuk bisa ikut serta acara reuni yang sudah disepakati berlangsung di Lhok Nga pada tanggal 18 Maret 2012. Bukankah itu tenggat waktu yang sangat jauh, kami ingin berbagi cerita panjang kali lebar. Tapi apalah daya, Khaisul, Dun, Akbar terus saja memintaku merayu ayah agar memberiku izin pergi. Sekali lagi, keinginan berkumpul kandas sudah selepas suara tegas ayah memutuskan aku tidak boleh banyak kali main jauh-jauh. Aku sama sekali tidak berkutik.

Usil aku bertanya pada Azmul apa Bunda kasi izin dia pergi Minggu depan. Jawabannya berhasil buat aku gerah binti palak, "Yang kon-kon katanyoeng, peu aneuk manyak mantong han geubi jak?" *Ada-ada saja pertanyaan, memang masih anak kecil tidak dikasih pergi?. Arrrggh....! Aku geraaaam. 

Aku tertawa kesel dan memintanya bicara pada ayah, sialnya dia tidak lebih berani dari aku. Karena ayahku disegani oleh keluarga. Lalu, bagaimanakah kisah selanjutnya? Minggu depan, akankah aku bisa bersama mereka yang kurindu atau....

Aku berharap masih ada kesempatan untuk mengubah keputusan Ayahku. Huhu...

4 komentar:

  1. Mantap euy bisa nulis panjang.
    Iri kami, jarang bisa nulis curhatan sepanjang ini

    BalasHapus
  2. Whahaha, kalo curhat pasti kami juara satu kak. #pede kali, wkwkwk

    Itu semalam kami tulis langsung posting pas lagi 'bad mood'. Hhhehe...

    BalasHapus
  3. hmmmmmm....
    ngebayangin isni pulang sekolah ngerangkul buku2... heheeee

    BalasHapus
  4. Hahahaa, beraaaaaaaaaat ey... :D

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers