UA-89306807-1

Membantahi Hati


“Hat, sudah jangan minta ini itu. Aku nggak tanggup!”  Aku menggepal tangan kesal.

Hati tetap merayu. Kali itu aku turutin. Tapi hasilnya, aku nggak sanggup. Aku pun murka. 

“Cukuuuup! Berhenti meminta! Sudah kukatakan aku nggak sanggup! Itu bukan kehendakku. Aku sama sekali tidak bisa mengabulkannya. Aku tidak bisa menciptakan kondisi itu lagi. Tidaaaaaaaaak!” aku garang.

Hati menunduk lesu. Sebenarnya aku tidak ingin melukainya dengan kata-kata yang berat. Mungkin salahku terlalu memanjakannya ‘dulu’, atau aku yang termanjakan sebenarnya. Ya! Dulu, itu dulu. Aku mampu menciptakan kondisi yang diinginkan hati. Aku selalu bisa menuruti keinginan hati. Dulu, itu dulu!

Setelah roda berputar. Sampailah pada, ‘aku harus berubah’. Dan setelah yang perlu digaris bawahi beberapa pergi, derap langkahku harus terus berlanjut. Membawa hati dan tidak lagi memanjakannya. Aku tak punya harta untuk membeli cinta, apalagi membeli waktu.



Sudahlah, kudekati hati. Aku tidak suka sikap Pangeran Yoo Baek yang terlalu keras menuntut Dewi Bia (baru siap baca komik.red). Maka, duduklah di samping hati dan berkata pelan padanya. “Tak selamanya ingin kita itu jadi nyata. Tapi percayalah, bila waktunya tiba kita tak perlu mengumbar cinta pada mereka apalagi menukarnya dengan harta. Bukankah kita telah melingkarkan kelingking sebagai tanda janji, kalau kita saling mengukuhkan. Siapa lagi kalau bukan kamu, hatiku? Siapa? Mereka? Peduli apa mereka pada kita yang miskin nan hina. Bicara saja takut salah. Aku butuh kamu, ayolah. Siapa lagi kalau bukan kamu?” Hati mendengarkan tutur kataku.

“Maaf kalau tadi aku terlalu keras membantahmu. Aku selalu selamat karenamu. Walau awalnya selalu saja kita seperti bocah tolol. Haha” aku terkekeh mencoba melucu dan melirik Hati yang memperhatikanku. 

“Aku tidak bisa meminta mereka. Dan sekarang, aku hanya ingin kamu mengerti. Hati, kamu percaya kan padaku?”

Hati mengangguk.

“Terima kasih. Aku selalu mengikuti kemauanmu, karena apa katamu adalah benar. Tapi, aku tidak bisa meminta mereka menirukan cara kita bercinta. Tidak ada yang bisa mengerti. Aku juga tidak ingin bergantung pada mereka, maka aku butuh kamu terus mendukungku. Aku ingin mandiri bersamamu.”

“Ya! Aku selalu mendukungmu.” Hati menjawab dan tersenyum.

“Terima kasih, Hat. Aku tak akan pernah melupakan kesetiaanmu. Bisa kita mulai kembali?”

“Tentu”

Tos!

3 komentar:

  1. Isni, ini cerita tentang apa? Bosan...

    BalasHapus
  2. Isniiii... perfomance blog-nya udah jauuuh lebih apik. Udah lama kakak nggak main ke mari. Tapi, bukankah itu harusnya "mengepal", sayang? Bukan "menggepal"? :)

    BalasHapus
  3. Bang Ben, waaaaaaaaaa ditanyai. Cerita-ceritaan. :p

    Kak Aini, silakan main-main kaak. Hhhehe mkasih ya kak. Tulisannya ntah kpan y jauh lebih apik. Hoho... ^0^

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers