UA-89306807-1

Nardha Bima Qasamallah

Aku selalu suka kosa kata baru dalam 'bahasa arab'. Beberapa malam lalu aku dapat SMS yang isinya, 'Nardha bima qasamallah' yang artinya kita ridha dengan apa yang telah Allah berikan'.

Ya! Benar sekali, teman. Terima kasih atas sekalimat yang menentramkan itu.  :)

Aku punya seorang teman, dia bercerita tentang keluarganya sejak masa jaya hingga masa runtuhnya kejayaan tersebut. Aku mendengarkan, sesekali bergumam dan mengeluarkan kata. Bagiku, kata-kataku 'aneh'. Ya! Aku mengingatnya sekarang saja 'malu-maluin'. 

Sekarang, temanku itu menggantikan posisi sosok ayah. Setiap pagi sebelum shubuh ia sudah di pasar untuk belanja kebutuhan pembeli karena ia seorang saudagar muda sekarang. Kata saudagar tersebut seperti membopong beban yang sangat berat seberat goni demi goni belanjaannya.  Setelah pekerjaannya setengah tuntas, dia tetap melanjutkan kuliahnya di kampus. Setelah jam kuliah, ia kembali dengan menyandang kata saudagar muda dimana pembeli sudah berpindah hati.

Aku dan temanku itu masih muda. Aku harus bersyukur lebih banyak lagi jika aku tidak bisa kemping bersama teman, atau mandi laut. Aku harus sangat bersyukur masih bisa ke sana ke mari tanpa ada beban yang menungguku pulang rumah setiap waktu demi roda yang terus berputar. Aku dan kamu harus mensyukurinya.

Sejenak ia berhenti dan berkata, 'almadulillah dek nyeh, manteng cit geutanyoe hana deuk.' * alhamdulillah dek ya kita nggak lapar.
Tersentak hatiku mendengarnya. Dengan kondisinya begitu ia masih melihat diri ke bawah, dalam ketenangan ia tersenyum mengatakannya. 

Selanjutnya ia bercerita tentang dirinya sekarang. Temanku berkata, 'Dek, lon sama lage droen dan nyang laen. Sama! Tapi masa muda lon hana lee dek, masa muda lon ka tuha! Masa muda lon ka gadoh. Tiep uroe bak keude. Lah pie hana deuk. Hahaha' *Dek, aku sama seperti kamu dan yang lain. Sama! Tapi masa muda aku udah nggak ada dek, masa mudaku sudah tua! Masa mudaku sudah hilang! Tiap hari aku di kedai. Syukur tidak lapar. Hahaha.

Mendengarnya aku terdiam saja, sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa untuknya. Sekedar mengangkat beban saja, aku ingin!
Dan, cling...
"Tapi hate droeneuh hana tuha keun?" *tapi hati kamu tidak tua kan?

Ya! Aku mengutuk diri telah mengatakan itu. Aku membuat mukanya tersipu malu. Seketika kami tertawa bersama, kembali larut dalam sharing saling menukar pendapat. Aku selalu merindukan pertemuan yang direncanakan Tuhan, ya... karena dia harus susah payah mencuri waktu walau sejenak saja.

Oya, temanku itu suka sekali dengan Al-Kahfi. Ketika kupelajari kembali terjemahannya, aku juga jatuh cinta. "Nyoe na saket brat, neubaca Al-Kahfi kop bagah puleh.' *kalau sakit, baca Al-Kahfi sangat cepat pulihnya.

Doaku selalu menyertaimu teman. Al-Kahfi telah kukirim untuk kelapangan hatimu. Kamu, temanku yang selalu ridha dengan segala pemberian Allah SWT.


Eiiits, Siapa dia?

Ckckck, :)
Aku belum minta izin untuk sebutkan namanya. Dia mendukung aku menulis bukan berarti aku membuka namanya tanpa izinnya bukan?   :D


 

2 komentar:

  1. Isni, tulisan yang ini lebih menarik saya baca daripada yang kemarin.

    Hehehe...

    BalasHapus
  2. Waaah, jadi terharu saya.Hhhehe

    Terima kasih ya Bang Ben. ^0^

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers