UA-89306807-1

Namaku Intan

Namaku Intan. Aku adalah anak broken home, makanya aku di sini bersama ibuku. Sudah sepekan kami berdua di sini. Kami hanya berdua, ya... dua, tidak lebih tidak kurang. Ibuku masih muda, manis, ceria, penyabar, kuat, dan yang paling aku banggakan darinya adalah kata-katanya, 'Jangan menunggu bahagia, baru tersenyum. Tapi tersenyumlah, maka anakku Intan pasti bahagia', ucapnya beberapa menit yang lalu.

Ibu sedang terlelap saat kuputuskan untuk berjalan-jalan di lorong rumah sehat Fakinah. Tanganku mengenggam gagang pintu erat, menarik hembus nafas dalam-dalam. Dan yang kurasakan adalah ketenangan saat melepaskan nafas. Tak ada kelebat yang mampir dalam pikiranku. Aku melepas tangan dan memulai langkah, karena sekarang aku tau kalau keadaanku adalah baik.

Mereka bilang aku mewariskan sifat ibu. Sedangkan tubuhku menurun dari ayah yang tinggi dan kekar. Tak sampai berototlah badanku ini, hanya saja aku menggemari latihan bela diri. 


Bangku tunggu penuh. Ini hari yang paling ramai selama sepekan kami di sini. Sepertinya ada yang kecelakaan. Dan benar saja, ambulance baru saja meninggalkan halaman depan dan kamai IGD penuh pasien. Isak tangis menjadi nyanyian pengantar yang menyakitkan. Tak sopan pula kalau kututup telinga di hadapan mereka maka kuputuskan meninggalkan keramaian dan kembali ke kamar ibu.

Tapi, seorang gadis menangis terisak seorang diri sambil memeluk tembok. Ia terlihat seusiaku. Hanya saja ia  tidak memakai jilbab yang membuatku tak tertarik untuk menemaninya sebentar saja. Aku mempercepat langkah ingin istirahat sejenak.

"Intan..." panggil ibu. Aku paling mudah terbangun kalau ada suara, apalagi kalau suara ibu.
"Ya, Bu?"
"Bangun nak, shalat ashar dulu sudah jam 5"
"Ya Bu..." 

Aku langsung mengambil wudhu' dan shalat. Usai shalat kupapah ibu mengambil wudhu'. Sebari ibu shalat dengan berbaring, aku digerakkan oleh hati untuk keluar kamar. Aku berjalan dengan gerakan hati hingga ke halaman depan, keramaian tadi siang sudah mulai sepi. Tapi gadis tadi masih saja menangis sendirian. Tak bergeming sama sekali dari tempat awalnya. 'Tidakkah ia capek?' pikirku.

Oleh gerakan hati tadi, mungkin dialah yang dimaksud. Maka kuputuskan mendekatinya, membelai rambut poninya yang jatuh menutupi mata sembabnya. Kontan saja ia terkaget.
"Kamu tidak capek berdiri terus?"
Gadis itu diam saja.
"Kenapa kamu di sini? Siapa yang sakit?"
"Teman saya kak kecelakaan"

Duuh, aku di sapa kakak.

"Owh yang tadi siang itu ya?
Si gadis mengangguk saja.
"Terus kenapa kamu di luar? Sudah jenguk dia? Gimana keadaannya?"
"Saya nggak tau kak, dia nggak mau saya jenguk" jawab gadis itu dan matanya ingin menangis kembali.
"Kok gitu?"
"Dia marah sama saya kak, dia sampai bilang gini, 'nggak usah jenguk aku, mau aku jadi mayat sekalian haram bagi qe melayat!', kak... Ita takut..." cerita gadis yang bernama Ita.
"Ita nggak perlu takut sama kata-kata teman Ita. Yang haram halalkan sesuatu itu siapa?"
"Allah kak"
Aku tersenyum. "Yaudah, tunggu apa lagi. Jenguk saja. Itu kan yang Ita takutkan?"
"Tapi kak, "
Aku mengangkat alis.
"Nanti dia marah" tambah Ita.

Aku menggelengkan kepala.
"Dia kan sedang sakit. Paling dia diamin Ita. Hhehe... udah jangan pikirkan hal buruk dulu kan Ita belum coba. Kalau yang Ita takutkan adalah hukum dari haramnya, itu bukan hal yang harus Ita jalankan."

Sekarang Ita sedang berpikir.
"Tapi kakak temanin Ita bisa?"
"Hhmn, boleh deh... Tapi Ita shalat dulu dan pakai jilbabnya yaa... kan sayang jilbab Ita cuma buat lap ingus. Hhhehehe..." candaku.
Ita malu-malu tersenyum dan menggunakan jilbabnya asal-asalan.

2 komentar:

  1. -kata-kata sifat ada baiknya dideskripsikan,
    jangan hanya dibilang 'tua, ceria, keren, dll'.
    tunjukkanlah dgn penggambaran, misal utk
    mengatakan seseorang yg tua, kita bs menulis
    'perempuan itu menyisir rambutnya yang mulai
    beruban'.

    -perhatikan hal-hal kecil, seperti kata kerja yang tidak berpisah dengan imbuhan. 'disapa' bukan 'di -spasi- sapa'.

    -Robert Frost bilang, “No tears in the writer, no tears in the reader. No surprise in the writer, no surprise in the reader.” Jadi ya ketika kita ingin buat pembaca menangis, apakah sebelumnya kita menangis saat menuliskannya?

    -karena cerbung, ada baiknya saat cerita bersambung pembaca dibuat LEBIH penasaran.

    -karakter Intan perlu pendalaman. pembaca perlu tahu lbh bnyak. misal kenapa dia broken home, dll.

    alhamdulillah. itu aja deh. aku pun masih amatir dlm tulis-menulis. moga bermanfaat yaa. ditunggu kelanjutan ceritanya.

    BalasHapus
  2. Siiiip. Tunggu edisi revisinya yaa. Nanti kritik lagi. XD

    Kami udah lumayan lama nggak nulis cerpen atau cerbung, hihi... keenakan ngeblog. :D

    Terima kasih atas masukannya. :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers