UA-89306807-1

Bukan Nida Tapi Lia


“Abang sudah putuskan..”
“Tidak Bang! Lia tidak mau menjadi cermin bayangan Nida untuk Bang Kiki!” Teriakku dan pergi meninggalkan Abangku.
****

                Senja di Alue Naga, riak air menjilat-jilat tanggul. Awan menggumpal menahan beban, tak bedanya denganku.
                 Kuseka peluh di keningku. Sungguh, aku masih tak percaya padanya. Satu-satunya tumpuan hidupku setelah Ayah dan Bunda pergi. Muliadi, aku biasa memanggilnya Bang Yadi. Aku menyayangi, menghormati serta menghargainya. Tapi, dalam hal ini aku tak tahu harus membangkang atau menuruti kemauannya.
****

Ketika itu, tanpa tahu apa-apa aku diperkenalkan kepadanya. Seorang pria berambut cepak dengan tersenyum menyambut hadirku. Aku hanya berdehem saat itu, tidak terpikirkan olehku kalau kami akan menjalani satu hubungan.
                Aku mulai mengenal Bang Kiki, namun masih tersungging senyum misterius dari bibirnya. Dia mencoba keras menyanyangiku, hingga suatu hari aku tahu itu.
****

                “Cukup Bang…! Aku muak dengan sikapmu. Kau kira aku bodoh? Kau pikir aku ini boneka? Hah, boneka berwajah Nida” Aku tersenyum kecut kepadanya. Rambutnya yang mulai panjang dikipasi angin, ia tercengang dengan kata-kataku. Mungkin dia heran bagaimana aku bisa tahu.
                “Kasihan amat nasipku Bang…!” Aku merasa dipermalukan takdir. Kuambil tas kecil dari bangku panjang lalu meninggalkan taman untuk Bang Kiki seorang. Tapi, ia menahanku. Memelas padaku agar aku tak pergi. Tapi percuma, “Aku Lia Bang…! Bukan Nida”
                “Tapi Nida sudah mati” Kejarnya berharap aku menoleh.
****

                 Rintik hujan mulai jatuh bebas. Mendarat di pipi yang kini mulai bercampur dengan air mataku. Aku menyekanya lembut, satu-satunya gerak sedari tadi. Tapi, aku tidak berniat meninggalkan tempat ini. Gelegar suara petir menciutkan nyaliku.  Aku pun bergegas mencoba berdiri tegak, berbalik arah meninggalkan riak yang menjelma ombak.
                “Mau cari Nida! Berapa Nida lagi yang kau butuhkan!” Sindirku saat kulihat wajah lusuh Bang Kiki menatapku hampa.
                “Lia…”
                “Masih ingat juga kau namaku! Bukannya nama Nida selalu ada di pikiranmu!!” Potongku.
                “Lia, Kamu boleh marah padaku, kamu boleh benci bahkan muak sekali pun. Tapi, seharusnya kau tahu. Benar, Nida sudah mati, dan lebih dari itu Nida juga sudah mati dalam hatiku karena mulai detik ini aku sadar kalau hanya Lia yang hidup dalam hatiku, bukan Nida!”
****

“Saya terima nikahnya Mauliana binti Muhammad Ishak dengan mas kawin 15 manyam emas, dibayar tunai Bang Kiki mengucapnya lantang dan lancar. Kumenatap mata Bang Kiki, kutemukan kepastian dan keteduhan di sana. ‘Ternyata pilihan Bang Yadi tak salah’ batinku.
^^^^

Tulisan ini lolos dalam antologi Flash Fiction ‘Dear Love’.
Oleh: Isni Wardaton




2 komentar:

  1. saalam kenal...Suka sama tulisannya bagus@...

    BalasHapus
  2. Salam kenal kembali, terimakasih. ^0^

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers