UA-89306807-1

Omong Kosong!

Dua minggu lalu, aku adalah anak baru di SMA Bina Harapan. Menjadi anak baru bagiku adalah omong kosong. Karena aku harus memulai semuanya dari awal. Menggunakan seragam yang baru. Menggantikan buku-buku tulis yang bersih. Semuanya serba baru. 

Setelah Ibu pergi, Ayah pindah ke Banda Aceh. Seragamku baru. Tetap saja bagiku ini omong kosong. Aku tidak tertarik.

Karena rumah baru kami tidak begitu jauh dari sekolah baruku, Ayah membelikanku sepeda baru. Sebenarnya itu bukan sepeda baru, tapi ketika sudah di tanganku. Itu adalah baru, baru kumiliki. Aku pun berniat menjaganya.

Hari itu adalah hari pertamaku. Aku mengeluarkan sepeda baru, mengenggam stangnya erat, dan aku berangkat dengan rasa malas melambaikan tangan kepada Ayah. 

Ada ketakutan ketika pertama kali menaiki sepeda itu. Karena tempat duduknya terlalu tinggi dan aku menggunakan rok panjang, jujur saja aku tidak nyaman. Tapi mau bagaimana, aku mencoba menghargai keberadaannya dan berkata kita akan bersama apa pun yang terjadi. Hingga sampai di sekolah dan aku memarkirkannya dengan rapi. 


Halaman sekolah itu sepi. Dan ternyata itu terlalu pagi. Aku masuk ke kelas berniat beramah tamah pada siapapun yang kutemui. Sialnya tidak ada siapa pun di kelas, jadinya aku tersenyum pada bunga di taman, dinding hijau yang norak dan kaca yang mengkilap. Aku termangu sampai kelas penuh. Omong kosong yang menyebalkan aku harus berdiri di depan dan berkata ini itu. Apa aku cukup membuat teman baruku ingin duduk di kantin setelah ini? Sialnya sampai pulang, aku sendiri. Omong kosong! 

Aku menarik sepedaku kasar. Kasak kusuk menyinggung lengan seseorang. Aku tidak peduli. Mengayuh sepeda dan membawanya pulang. Kusimpan dan kugunakan esok lagi, hanya untuk  kelanjutan kisah omong kosong gadis kaku.

Keesokan harinya, aku melakukan hal yang sama. Esok harinya juga sama. Dua pekan dari hari itu adalah hari ini. Gadis kaku itu masih kaku, menggunakan sweeter merah tua dan melempar senyum seperti yang Ayahku sarankan. Harap-harap, aku di terima. Sialnya, aku sudah sejak awal tidak bisa menyukai kesemua ini. Tetap kaku dan bertambah ragu.


Kupukul stang sepeda keras. Air mataku menetes sudah. Menendang cagak kasar dan memaksa ia keluar dari barisan. Kasak kusuk kerjaku dengan mata sembab. Aku tak bisa melihat jelas area parkir. Tetap kupaksa karena aku hanya ingin pulang. Sialnya, sepedaku terjatuh dan menimpa sepeda di sampingnya, di sampingnya, di sampingnya dan semua sepeda yang ada di situ jatuh berantai. Pekik dan tangisku makin pecah. Akhirnya aku berlari dan kuputuskan sudah tak ingin lagi kembali. Aku benci omong kosong di sini. Aku benci.


Hari ini, aku sudah di rumah memeluk lengan Ayah. Aku akan kembali ke sekolah lama. Aku senang. Karena itulah yang aku suka. 
:)

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers