UA-89306807-1

Please, Papa! Aku Diteror lagi!

Selamat Jum`at Mubarak!

Cuaca Banda Aceh kembali panas. Suhu badan pun berubah tak menentu. Mengenali keadaan kota yang tak menentu ini mengingatkanku pada penantian panjang (lagi-lagi) terhadap perubahan jadwal kuliah Fisika Statistik.

Untuk kesekian kalinya kami mahasiswa Papa (sapaan.red) menunggu janji. Beliau berjanji akan mengkonfirmasi segera jadwal kuliah setelah konfirmasi hari Rabu kemarin beliau namai dengan ‘lupa’, dan konfirmasi hari Kamis kemarin beliau tunda dengan konfirmasi hari Jum`at ini. Dan kau tau? Berapa kali hari ini pesan dari teman-teman menanyai perihal yang sama, dan aku menamainya dengan ‘teror’ terhadap konfirmasi jadwal yang dijanjikan Papa. Sayangnya berapa pun jumlah peneror tak juga mempan, aku tetap tidak punya jawaban apalagi memutuskan.

Untuk kesekian kalinya pula aku memasang positif thinking terhadap Papa. Mungkin beliau sedang sibuk dan tidak sempat membuka pesan anak, tidak sempat mengangkat telepon anak. Mungkin kami yang terlalu rewel bertanya hal yang sama. Baiklah kami akan menunggu saja, Papa.

Berbicara tentang beliau, Papa adalah pria yang sibuk luar biasa. Aku sempat berpikir, bagaimana ia mengatur waktunya? Misalnya untuk mengusap kepala anaknya (anak kandung.red). Ah, tentu beliau sangat professional dalam bidang itu.

Beliau sangat pintar. Berwibawa. Dosen-dosen lainnya selalu menyanjung nama beliau di depanku. Dalam keadaan sesibuk apa pun, beliau tidak akan memberi asisten untuk membimbing mahasiswanya. Itulah beliau, walau terkadang dimataku  ia adalah dosen yang ter-nganga. Kenapa ter-nganga? Karena ia membuatku heran dengan jawaban atas pertanyaan. Oops, dan yang paling aku suka, ia membuatku nyaman dengan diriku sendiri, seperti anak kecil, aku bebas bertanya apa saja tanpa perlu memasang lebel malu karena menanyakan hal remeh temeh, dan sangat menganga aku dibuatnya dengan jawaban diluar dugaan. Aku ter-nganga!

Misalnya dengan pertanyaan, kenapa Kelvin yang jadi SI (Satuan Internasional)? Kau tau jawaban beliau apa? Dengan wibawa beliau memberi jawaban, ‘karena kalau pakai Celcius kita harus membubuhi derjat (°) ditiap °C. Bayangkan saja misalnya saya punya tugas dan harus menyelesaikannya secepat mungkin, berapa waktu yang harus saya keluarkan hanya untuk menekan insert, klik object dan lainnya? Ya! Untuk menghemat waktu.’

Semoga kalian tidak ter-nganga seperti kami. -__-

Sebenarnya, beliau adalah dosen yang on time dan aku paham bahwa beliau selalu berusaha adil dengan waktu. Tapi apa daya, waktu terus berjalan dan kita tidak bisa bergantung padanya. Bisa aku pahami dengan jawaban-jawaban beliau dibalik telpon genggam kami masing-masing, beliau menjawab dengan pasti, ‘ya, kita kuliah nanti, tapi saya datang sedikit terlambat karena ini ada rapat’

‘baik, Pak, dapat dimaklumi, terimakasih, assalamualaikum’, jawabanku hampir itu-itu saja tiap kali menghubungi Papa.
Dosenku jam terbang padat.

Sebelumnya, ini merupakan mata kuliah untuk kedua kali menjadi mahasiswanya pada semester yang berbeda. Semester 4 lalu, aku pernah nekat mengambil mata kuliah ini bersama dua rekan seangkatan dan bergabung dengan rekan letting di atas kami. Aku menjadi kaku di kelas dan segan. Tapi aku dapat mengenali sosok beliau lebih lama dan secara seksama: tidak berubah beliau apa adanya dan sangat luas wawasannya. Jadi boleh dikata, aku mengenal lebih lama beliau dibandingkan rekan seangkatanku sekarang. Setidaknya itu karena aku berhasil mencintai beliau dengan mendapat nilai C dan memilih ikut ulang, itu anugrah yang menimpaku karena aku tidak masuk kuliah selama 3 kali pertemuan. Dan baginya, itu fatal! Pertemuan pertama, aku izin ikut final dengan dosen lain, dan dua pertemuan lagi karena aku kecelakaan saat itu.

Sudahlah, mengulangi sesuatu yang menganga itu tidak membosankan. Apalagi dengan memasang tower positif thinking dekat-dekat rumah hati, itu menjadi baik-baik saja.

Tapi, bolehkah sekali saja aku bernegatif thinking, Pa? Sekali saja. Di sini, dalam tulisan ini aku masih menerima teror dengan pertanyaan yang sama. Pa, apa yang harus aku jawab sekarang? Apa yang harus aku putuskan? Aku tak punya hak. Tapi mereka menerorku menanyaimu lagi-lagi. Pa, aku malu menjadi anak yang rewel hanya bisa memenuhi layar handphonemu dengan jumlah panggilan gagal dan satu pesan.

Aku memutuskan untuk ikut-ikutan. Seperti kata temanku, ‘ikut-kut aja! Buat seru-seru!’. Biasanya kami di Fisika diajukan pertanyaan dimana kasus dalam soal itu seringnya diminta mengabaikan gesekan udara, atau mengabaikan kecepatan awal. Untuk menjawab soal ini, aku akan mengabaikan ‘pengertian’ untuk memahami keadaan lebih tenang.
^^^

Gambar dari google.

Mengenang sebulan yang lalu, rasanya aku tak percaya kalau waktu benar-benar unfair! 30 menit sebelumnya, Papa berkata akan datang perkuliahan. Siang itu hujan turun lebat, sempat rindang dan kembali lebat. Menerima jawaban bahwa Papa akan masuk kuliah setelah sebulan penuh kami ditinggal tanpa kabar karena ternyata beliau ke Malaysia, kami pun berusaha menembus hujan dan datang ke kampus dengan basah kuyup.

Sesampai di sana, satu persatu teman-teman sampai dengan keadaan yang sama seperti aku: basah kuyup. Tapi Papa belum juga sampai. Kami berpositif thinking mungkin terhadang hujan.

Hujan pun reda. Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk menghubungi Papa kembali. ‘hmn, tunggu ya jangan pulang dulu karena ini saya masih ada rapat, saya kira tadi rapatnya cuma sampai siang dan kita bisa kuliah, saya sebentar lagi ke sana’, jawab Papa dibalik telpon.

Menunggulah kami dalam kedinginan.

1 massage!
Aku membukanya: dari dosen MK Fisika Kesehatan yang isinya beliau mengabari kalau tidak ada kuliah nanti sore, beliau minta maaf.

Sorak riang teman-teman pun terjadi.

Tapi riang itu hanya sebentar, karena kami mendapat kabar dari teman kalau Mutia kecelakaan motor. Kakinya patah dan sudah dibopong tukang becak ke tukang urut. Kami kalut.

Teman-teman saat itu kembali menerorku untuk memastikan jadwal kuliah karena sudah hampir habis jam kuliah fisika statistik. Aku pun menghubungi Papa dan mengutarakan kebohongan berdasarkan polling suara bahwa kami tidak bisa menunggu lagi karena ada kuliah. Papa pun menutup telpon dan semuanya berlalu tanpa ia ketahui kalau Mutia kecelakaan karena mengejar waktu kuliah, sayangnya waktu sedang mengabaikannya. Mutia mengejar maut tanpa ia sadari, dan sampai sekarang Mutia masih di pondok menjalani pengobatan. Jelas saja ia tidak bisa ikut perkuliahan seperti kami, tidak bisa ikut final, dan ia jauh lebih sedih dibandingkanku menemukan  satu nilai C mata kuliah Papa, sedangkan Mutia… Semoga Tuhan melindungi ilmunya dengan penjagaan yang diluar batas manusia.

Sudah, Pa. Aku sudah ikut-ikutan. Sekarang aku mau kembali normal. Selepas Jum`at, semoga sudah ada konfirmasi. Satu-satunya mata kuliah yang menahan 34 mahasiswa Fisika Statistik untuk liburan, kebanyakan teman menamainya dengan ‘pulang kampong, ey!’

Cukup sekian curhat. Salam meneror!

Foto bersama para teroris setelah ikut final Metodologi Pendidikan. ^0^


0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers