UA-89306807-1

Aku dan Kamu, Sama


“Runaway runaway” kata Darli semangat. “Ayo, runaway, enak lagunya” pintanya lagi.
“Sebentar,” kataku sambil menyimpan rekaman suara Darli ketika menyanyikan lagu sebelumnya. Lalu kuputar lagu sesuai permintaannya dan Darli mulai memetik gitar sambil menyanyikan lagu Runaway layaknya sedang konser bersama The Corrs.

Suaranya bagiku pas. Selalu menjadi kerinduan tersendiri. Maka aku menikmati tiap kali bersamanya, tiap helaan nafasnya, nada suaranya, petik gitarnya, rengek rayuan manjanya. Aku nikmati semua emosi darinya, karena suatu saat, aku dan Darli tahu kalau kami tak bisa lagi mengulangnya. Setidaknya dalam nuansa cinta, ‘aku dan kamu, sama’.

Koleksi pribadi.jpg
“Haha, tuh kan lupa. Ulang say…” pinta Darli membangunkanku dari menatapnya.
“Say, tanganku kemarin kena minyak,” kataku mencuri waktu di sela-sela nyanyiannya untukku.
“Mana?” katanya cuek tapi mengerti.
“Ini” aku menunjukkan jari telunjuk dan seksama ia perhatikan lalu ia meniup tepat dimana rasa sakit itu.
Kontan saja aku terkejut. Dengan sikap cuek ia kembali menyanyi dan memberi kode kalau kakak aku tidak melihatnya. Ya! Saat itu kami sedang berlibur bersama kakak dan pacarnya.

Huft! Aku menghela nafas deg degan.
Beberapa saat kemudian, kakakku dan pacarnya memilih pindah tempat dari hadapan kami. “Pindah dulu ya!” kata pacarnya Inggi.
“Siip Kak! Kami nggak boleh ikut campur urusan rumah tangga orang. Haha…” ledek Darli.
“Say, kita suatu saat juga bakal kaya gitu. Gimana tuh?” tanyaku selepas mereka menjauh.
“Hhmn, gimana ya, pasti kamu yang nangis, haha” ledek Darli lagi. Aku manyun. “Haha, kok manyun, tapi cakep lho… haha, pindah ke sana yok say?”

Aku tidak bergeming.
“Udah donk say, kalau lagi senang-senang jangan dibawa sedih, kalau nanti sudah waktunya sedih tidak bisa dibawa senang lagi. Jangan galau-galau donk. Kan aku masih di sini.” Darli menompang tangannya di atas gitar dan menatap wajahku dalam.
“Kalau nanti kita marahan,” kataku lagi tidak senang.
“Ya baikan,” balasnya.
“Kalau kita pisah” balasku lagi.
“Aku dan kamu, sama. Kita bakal sama-sama mengerti. Aku sayang kamu.” jawabnya kemudian menyanyikan lagu perpisahan terindah.

Aku menangis mendengarnya. Darli cuek tak peduli. Darli terus memetik gitar dan suaranya mengalun mengikuti arah angin. Darli sangat menikmati tiap lirik yang disampaikannya. Darli bernyanyi sambil menengadah ke atas mencari awan. Darli ingin aku mengerti.

Kami tahu, perpisahan terindah itu pasti akan terjadi dan dua pekan setelah itu semuanya datang. Darli dengan lagunya dan aku dengan tulisanku. Ibu benar-benar tidak merestui kisah cinta ini.

******

“Doooooooorrr!” suaraku sambil melempar bola pasir seolah-olah sedang perang.
“Dhuum dhum dhum!” Darli membalas lemparanku, dan semua teman-teman juga ikut melempariku.
“Aseeem gila kalian! Aku di serang!” aku angkat tangan seolah-olah menyerah dalam perang. Darli tertawa terbahak-bahak, puas.

Setidaknya kami sekarang dapat menikmati tawa dengan ritme yang berbeda. Sekarang aku tahu, perpisahan itu tidak selamanya menyiksa, karena aku berhasil mengendarai hati ini dengan pelan-pelan melewati semua tikungan tanpa ada cidera.

“Gimana?” Darli menyodorkan jaketnya dan mengajukan pertanyaan yang dengan mudah aku tahu maksudnya.

“Pelan-pelan bawanya nih, kan 40 m/s. Haha…” tawaku menipuk bahunya. Kedua tanganku berpura-pura sedang mengendarai motor.
“Bagus! Nggak sakit lagi kan?”
“Hu`um, main lagi yuuk!” aku mengangguk, dan langsung mengajaknya main karena aku tidak pandai dalam berbohong.

Satu hal lagi, aku belajar menikmati setiap nada dalam cerita cintaku dulu bersama Darli, baik itu senang atau sedih. Karena saat ini kurasakan waktu sudah maju, dan hari belakang tidak akan pernah ada hari esok.

“Bruuuuuuukkk!” aku terjatuh karena lemparan bola pasir ukuran jumbo dari Bia.
“Lilaaaaaaaa!” teriak Darli cemas.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers