UA-89306807-1

26 Desember 2004

Apa yang kalian rasakan apabila tanah yang kalian pijak meneriakan, 'lariiiiiiiiiii lariiiiiiiiii... jangan pijak aku lagi sekarang!'

Apa yang akan kalian lakukan apabila pohon kelapa samping rumahmu berang, 'apa lihat-lihat? aku nggak peduli sekarang!'

Apa harus marah?

Pada siapa?

Apa harus sedih?

Sedih kenapa?

Apa harus tertawa?

Tertawa kenapa?

Tanpa jawaban, aku hanya bengong menatap kebingungan. Hiruk pikuk orang-orang menjadi pengusik nomor satu yang menyebrangi perasaan kacauku.

Saat itu, aku hanyalah gadis kecil berusia 13th. Polos, lugu, pendiam, nurut, adalah kebiasaan selain cengeng. Ketika bumi seperti menolak kehadiranku, oh... bukan hanya aku saja ternyata... karena di luar sana ada semuaa orang-orang yang kukenal. Bahkan, wajah baru pun baru kulihat, dan tanpa acting mereka berlarian dengan peluh terakhir berteriak kesekian kalinya dihadapanku, bapak, mamak, dan seluruh yang kebingungan hari itu. Apa katanya?

'ie laoet di ek' yaa, dalam bahasa indonesia kalimat itu berarti air laut naik. Sangaaaaaaat singkat, tapi ia susah mau mati untuk mengeluarkan kalimat itu, apalagi untuk menyambung pertanyaan bapakku ia berkata lagi, 'lon dari ujong bate'. Rupanya si bapak itu dari daerah pantai ujong batee, pantai yang berkilo-kilo jauhnya ia terjang dengan kaki sampai ke jalan kampung kami. Apa artinya?

Maka tanpa ba bi bu seluruh warga langsung mengerti. Kami larii saling menyelamatkan diri sejauh-jauhnya. Aku masih kebingungan dengan apa yang orang dewasa suruh padaku. Dalam perjalanan aku melihat pepohonan berdiri kutinggali dengan damai dan tenang. Tanah tidak lagi mengusir. Apa ini sudah baik?

Ternyata tidak. Aku tidak merasakan tanah yang masih berang karena mobil yang kami naiki berjalan mengejar daratan tinggi. Istigfar, shalawat, lantunan ayat suci mengalun di sempanjang jalan. Allah SWT terasa begitu dekat. 


Begitulah yang dapat kuceritakan sekarang, dimana kebingungan dulu telah membuatku lebih mengerti. Hari ini, tepat 26 Desember 2012 sudah 8 tahun kejadian duka itu menggoda Aceh. 8 Tahun tidak cukup, duka itu masih meruah di dalam dada mereka yang kehilangan. Air laut yang memiliki tekanan berkilo-kilogram itu mendobrak apa yang ada. Meninggalkan puing, sisa, bekas, tidak hanya pada tempat yang kami duduki, juga pada diri kami, hati ini masih terluka. Hati ini masih meminta mereka-mereka kembali, tapi... lebih baik mereka sudah di sana. Karena itu cerita yang indah yang sudah direncanakan Tuhan.

Doa yang panjang Aceh kirimkan untuk semua almarhum/almarhumah pada gempa dan tsunami 8 tahun lalu. Semoga tempat di sana lebih indah, dan tunggu kami kembali di sana.

****

Alhamdulillah, keluarga besar saya selamat dari gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu. 200 meter dari rumah kami, air laut surut. Allah SWT menyelamatkan area yang kami jadikan tempat menjamu saudara yang terluka hari duka itu. Mayat dimana-mana menjadi pemandangan yang memilukan. Sungguh, Allah SWT mengajarkan kita sesuatu dengan cobaan yang berat. Sabar dan sabar, semuanya ada hikmahnya.

Kepada teman, kerabat dan saudara seiman yang memiliki luka lebih dalam dariku. Boleh kita berpelukan di surga nanti? Kita hanturkan penenang dan luka ini perlahan-lahan menjadi teburan mawar dengan mewangi sampai ke mereka yang di sana.

Aceh hari ini megah dengan lantunan ayat-ayatNya. Semoga Aceh semakin dewasa dan selamat iman sampai di panggil kembali olehNya. Amin amin amin ya rabbal alamin.

5 komentar:

  1. bencana ini yang alhamdulillah mempersatukan aceh kembali

    BalasHapus
  2. semoga Aceh sadar dengan hikmah ini.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah sesuatu ya mbak,..
    :)

    BalasHapus
  4. selamat malam..
    salam silaturrahmi untuk daerah aceh.. :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers