UA-89306807-1

Menjadi Pendongeng (kado untuk bang birul)

Tulisan yang Anda baca ini saya dedikasikan kepada sosok abang yang kerap saya sapa Bang Birul. Ia tak lebih adalah manusia biasa bukan robot. Dia abang yang berbakti kepada orang tua sesuai namanya Birrul Walidain. :)

Bang, langit pagi masih saja mendung. Kecil-kecil nyamuk masuk lewat celah jendela. Gigil-menggigil kaki sampai tangan memanggil sehelai kain. Segelas minuman putih tidak tersentuh. Yaa begitulah pandangan yang jika monitor ini kusingkirkan.

Semalam, Adek bermimpi menjadi pendongeng. Ceritanya begini Bang.

Minggu petang, dimana langit jingga dilewati merpati pulang. Adek bersama empat teman yang baru tadi pagi sampai di kampung orang sedang berbincang-bincang dengan warga. Tiba-tiba suara berkumpul mengusik bincang-bincang yang lagi seru-serunya. Kami bertanya-tanya kenapa. 

Warga pun berpindah lapak. Maka kami pun mengekor saja.

Di sana... tepat di waduk yang entah apa namanya, adek melihat jelas kepala ibu/bapak/orang-orang yang menutupi perkara apa gerangan yang terjadi dibalik itu semua. Maka menyusuplah adek pada celah raga warga. Sekejap kemudian, Abang tahu apa yang Adek lihat di sana?

Ah! Tak lain hanya seorang anak kecil, okeh, dia berusia sekitar 9 tahun dan lebih kecil dari adek pastinya. -_-
Ia jelas tampak sedang merajok pada ibu bapaknya.
Tidak ada yang mendekat. Si bocah tiba-tiba saja berteriak histeris seakan pita suaranya akan segera putus kalau ibu bapaknya tidak menyingkir. 
Ibu menangis dalam genggaman tangan bapak yang setapak mulai menyingkir. "Naak, jangan..." suara si Bapak perih.
Setelah si bapak menyingkir, dengan sisa-sisa suaranya ia kembali berteriak kasar pada warga untuk pergi. Warga tak bergeming dan prihatin.
Adek turun pelan-pelan karena tanah berbatuan itu setengah menurun. Warga histeris, bocah pun mulai mengancam. "pergi, atau aku akan loncat." bentaknya.
Adek tetap saja menjaga langkah pelan-pelan dan sekarang berada disampingnya. Ia memberi muka masam dan hendak meloncat. Terlihat dari raut wajahnya keraguan.
Maka Adek berkata pada si Bocah, 'takut?'
"Nggak!"
"Perlu bantuan?"
"Nggak! Pegii kubilang!"
"Gimana kalau kakak duluan yang loncat?" Bocah membuang wajah masam dan melihat ke arah Adek. 
"Jangan!"
"Kenapa jangan?"
"Nanti kakak mati"
"Bahkan aku sudah pernah mati"
"Hah?"
"Ya? Kamu kenapa mau mati?"
"Bukan urusanmu!" Bocah membuang muka.
"Bagaimana kalau kita loncat sama-sama saja. Ayuuk?"
"Gila! Itu batu, bisa pecah kepalamu, mati darahmu!"
"Kok tahu? Kan belum kita coba"
Bocah menggigit kelelahan.
"Kenapa kamu mau melakukan ini?"
"Ufa tidak mau menambah beban ibu bapak, kalau Ufa mati kan mereka tak perlu repot-repot lagi membagi uang jajan, makan, Ufa mau mati saja biar bapak nggak perlu marah-marah pada ibu." Bocah itu bernama Ulfa.
"Terus kalau Ufa mati, ibu bapak bisa bahagia?"
"Ya!"
"Sama bodohnya denganku"
"Aku tidak bodoh!"
"Dulunya aku mengira, dengan menyerahkan hidupku pada maut, pergi, mati, aku dapat membahagiakan orang tua, orang-orang yang kusayang dan menyayangiku. Tapi, saat aku dilahirkan kembali dengan ingatan tentang mereka baru saja kembali, aku... kakak yang sedang disamping Ulfa ini, aku telah menelan ludah dan mengeluarkan air mata yang lebih banyak, dan suara yang jauh lebih keras, tapi... tidak ada yang dapat mengembalikan bapak. Bapak kakak meninggal karena kakak. Mereka tidak bahagia, tetapi menderita."
Tanpa sadar Adek dan Ulfa mengeluarkan air mata. Adek menarik badan kurus Ulfa dan memeluknya erat. Tidak ada kata-kata yang tercipta lagi. Saat air mata bersamaan pelukan Ulfa tidak dilepaskannya. Ulfa, hanya seorang bocah yang terluka.

Nah, sebenarnya itu pun bukan mimpi, hmn... mimpi atau khayalan adek ya? -_-
Soalnya adek suka ngayal sih... maklum lagi kejar ide OBOM. :D

Hihi, intinya jalan masih panjang. Jangan menyerah dan jangan mudah puas tetapi senantiasa bersyukur. Selamat hari jadi yang ke-23 Bang yaa... semoga mimpi maupun khayalan abang yang belum jadi nyata, segera jadi nyata. Cemunggggggggggggggguuuud eeaaa abang... ^0^

Happy birthday. ^0^


6 komentar:

  1. Pas buka blog isni, hampiiiir aja saya jantungan. Musiknya menghentak dan bikin kaget, hehee

    BalasHapus
  2. Wuiiiii...komen pake moderasi euy.
    maklum dah, seleb blog, komen mesti dimoderasi :p

    BalasHapus
  3. Hahaha, iya nih kak baru ganti templete, jadi html-nya pada gimana-gimana gitu... -_-

    Ya dooonk, seleep gituh lho... :p

    BalasHapus
  4. Selamat ulang tahun yaa buat bang irul ...

    :))

    BalasHapus
  5. bang birul seumuran ama abang ane :-D

    BalasHapus
  6. kalau galau musti move on, jangan bunuh diri

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers