UA-89306807-1

Teman dan Sahabat

Seperti judul di atas, itu katamu, kalau kita adalah teman dan sahabat. Untuk ungkapannya, aku sangat berterimakasih atas kehadiran yang senantiasa diterima kemana pun kamu bawa. 

Bahasa Prancis yang ditulis oleh salah satu muridnya, dengan arti
'terimakasih telah menjadikan kita teman'

Hari ini, kami menghabiskan waktu bersama. Berawal dari aku yang ingin bertemu dengannya, tetapi ia tidak bisa pergi jauh dari pekerjaannya, maka aku menghadirkan diri. Waktu pun mendukung, karena ia telah melapangkan waktu kerjanya untukku dan murid yang ingin ke laut.
Aku tentu girang. Sangking girangnya aku berkali-kali melarang keras kepala ini untuk tidak berpikir sesuatu yang belum terjadi.

Tadi, kami bertemu, menjalani waktu dan yang kulihat darinya adalah wajah penuh masalah. Ia berkali-kali menyembunyikan isi pikirannya. Tapi aku tahu. Aku hanya selalu saja beku ketika ingin mengatakan sesuatu di depannya. 

Akhirnya, dipintu mobil sambil menunggu dua muridnya mengganti pakaian selepas mandi ia berkata kalau kesalnya cuma kepada dua muridnya. Jelas saja, ia kesal atas rencana dua muridnya yang mengatasnamakan rekreasi sekelas. Tapi, ketika aku datang malah cuma ada dua. Tak lebih dan tak kurang kami jadi berempat. Selebihnya, ia harus menanggalkan kedai yang menjadi mata pencahariannya dimana pembeli ingin membeli hanya untuk mengantarkan dua muridnya sampai ke rumah karena mereka tidak pergi dengan kendaraan.

Aku hanya bisa menemaninya dan sesekali menenggelamkan rupanya yang begitu dewasa dalam menanggapi celotehan dua muridnya yang sama sekali tidak peka atas konfik hati orang dewasa. Maka kuberanikan berkata padanya, 'kamu sudah dewasa, sikapmu seperti ayahku'. Ia mengelak dengan berkata belum dewasa seperti kataku, ia masih sulit mengontrol emosi. Tapi bagiku, ia sudah menguasainya lebih cepat dibandingkan beberapa teman seangkatannya atau lebih tua darinya.

Apakah itu?
Memuliakan tamu.

Sekesal-kesal apa pun pembeli yang datang, ia harus tetap tersenyum dan berbicara baik. Itulah bagian yang mendewasakannya. Dalam memandang, mengutarakan, dan menerima. 

Dalam rinai hujan, kita pulang dan raut mukamu masih tidak kembali. Aku ingin melihat seulas senyummu sebelum pulang.

Selepas shalat, berpamitan dengan Mamak dan Kakaknya, lagi kuberanikan diri ungkapkan kegundahan sedari tadi. 'Maaf, kamu terlalu banyak letih'. Setangkap kataku ia langsung berkata, 'Bukan karenamu, sama sekali bukan, jangan berpikir yang tidak-tidak, aku kesal pada mereka karena mereka tidak mengeset acaranya, dan membuat kedai tidak terurus. Ayolah jangan...'.
'Kalau gitu sebelum aku pulang, aku ingin melihat kamu tertawa'.
Ia tersipu dan tersenyum kemudian berkata dengan raut wajah yang kutunggu sedari tadi, 'yaa jangan dijadikan pikiran ya...'.
'Ya, aku pulang ya...'
Tersenyum dan meninggalkan garasi rumahnya. Rumah yang senantiasa menerimaku dengan penerimaan yang hangat dikala hujan, penerimaan yang sejuk dikala terik sang mentari. Dalam perjalan pulang, aku melihat pelangi melengkung indah membuatku ingin berkata padanya itu senyumanmu jika kamu melihat apa yang aku lihat. Tulus dan sederhana, itulah arti dari teman dan sahabat yang telah kita jalin sejauh ini.

I wanna be with you. :)

2 komentar:

  1. Kalimat kakak bagus sekali. Jika diikut kan lomba cerpen mungkin kakak bakalan menang. Kalau saya walaupun suka buat cerpen. Kalimat yang saya gunakan tidak bisa sebagus kakak buat.

    BalasHapus
  2. Ah kamu merendah Tra, malah tulisan kamu juga bagus kok. Sering2 nulis aja. hehe
    Mkasih yaa Tra, :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers