UA-89306807-1

Akhwat Juga Jatuh Cinta

Cinta, buah apalah yang katanya lezat-- sekali makan minta lagi-lagi minta. Katanya lagi cinta itu milik mereka berdua saja, yang berdua di jalan setapak, di bangku taman kota, dua tangan bergandengan, ah... katanya...begitu aku mengiranya, menduga dan menganggap cinta itu buah yang mahal sekali harganya dan aku tidak bisa mencicipinya.

Ketika itu saya baru menyelesaikan sekolah Menengah Aliyah dan melanjutkan di perguruan tinggi Ar-Ranirry. Jujur saja, saya bukan gadis alim yang berjilbab besar atau bergamis panjang. Tetapi saya juga bukan gadis jalan, yang berketat ria membalut tubuh. Jadi, saya gadis biasa. Biasa saja sampai pergaulan pun di situ-situ saja. :D

Maka di suatu hari, sebari menunggu dosen hadir. Iseng saya mendekati teman sejurusan yang paling alim, busananya menutupi tubuh layaknya titahNya. Manset di kedua lengannya membuat lengannya aman kalau-kalau tersibak. Bertanyalah dengan memasang tampang polos di depannya, 'Usrah, kamu kan alim banget. Terus apa kamu nggak ada suka-suka sama cowok tuh. Hehe' nyengirku.

'Ah kamu, Ni. Kalau gitu, aku nggak normal donk' jawabnya membalas nyengir.

'Berarti ada ya?' Kataku sumringah seperti mendapatkan dorprise.

'Hehehe, yaa lah, Ni' jawabnya malu-malu.

'Sama siapa?' Kejarku sebelum ia terlalu jauh berlari.

'Yeee... ada deh. Cuma kan yaa suka aja. Nggak usah dilebih-lebihkan.' Balasnya.

Ternyata akhwat pun bisa mencicipi bagaimana rasanya buah cinta. Kalau saya, bisa jugaa donk. Rasanya benar-benar nikmat, bikin rasa kaya suasana. Syaaaelaaaa... asal bisa batasi diri jangan sampai cinta yang mencicipi kita. Oops. :D

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers