UA-89306807-1

Meletakkan Marah

Marah merupakan emosional yang dimiliki oleh setiap insan. Marah anugrah yang diberikan Tuhan untuk menyalurkan perasaan yang tak sanggup lagi dikunci rapat di hati. Marah, siapa yang tidak marah. Pernah mendapatkan orang yang berkata ia tidak bisa marah? Bukan, bukan ia tidak bisa, lebih tepatnya dia belum waktunya ia melepas marah.

Paman mudaku pernah berkata menasehati, 'Abang di rumah punya skill yang tidak bisa digunakam di rumah. Abang punya keuletan bicara yang tidak perlu diseminarkan di rumah. Abang punya masalah yang tidak bisa abang bawa pulang ke rumah. Abang punya cinta, emosi, dan perasaan gelisah dan senantiasa mengingatkan diri untuk meletakkannya di depan pintu rumah sebelum masuk memberi salam'.

Emosi bisa berupa tawa, senyuman, kerutan di dahi, diam atau tangis. Masalah bagaikan sang pengikut malaikat maut mengejar. Sedangkan kau terbirit-birit lari dan menyusup tanpa salam meluapkan ketakutan sepah serapah, kekacauan batin dalam kata-kata, tutur bicara menghilang, sopan santun dan rasa cinta bersembunyi di balik pintu. Tak lagi ingat pada diri, emosi menjadi penguasa. Kau saat itu sedang marah pada siapa yang di hadapan. Pada tembok yang tak berbicara. Kau marah pada mereka yang menyayangimu. Sayangnya kau hanya memarahi tanpa ampun, emosimu mengusir siapa saja di sisi hingga sepi menemani dan tangis panjang membangunkan penyesalan.

Lantas, bagaimana mengatasi marah?

'Perasaan marah itu baik. Artinya dia masih memiliki cinta untuk dirinya sendiri. Tapi, letakkan marah pada tempatnya. Kepada siapa dan dimana. Jangan asal memarahi. Jangan asal berdiam diri. Marah itu akan membawa kita dewasa secara tak sadar, lawan dia lawan!' jelas abangku.

Marah menunjukkan termometer kestabilan kita dalam menyelami hidup. Marah mengajari kita bertahan hidup. Tapi menahan marah mengajari kita menjadi pribadi yang kokoh yang tak mudah patah diterpa angin kehidupan.

Kalau aku pribadi dalam mengatasi marah, dengan menyendiri meluapkan marah pada alam. Mengendarai sepeda motor berkeliling kota sambil mendengarkan musik dan ikut-ikutan bernyanyi dengannya sambil tersenyum. Biasanya marah ringanku akan segera reda.

Marah besarku akan reda dengan menangis. Saya tak ingin melukai hati siapa lagi, sudah cukup hati sendiri yang sakit. Saya menangis dalam perjalanan bersepeda motor, berteriak keras pada jalan raya yang lepang. Istigfar menyebut nama Allah, mengingat kasih ayah ibu dan menganggap Allah sedang melihatku, perlahan aku mencoba tersenyum, hingga perlaham amarahku reda dan air mataku telah mengering. Aku pulang dan memberi salam.

Bagaimana denganmu? ;)

Marah, redalah...
Karena masih banyak perasaan emosional lainnya yang berhak tampil di panggung kehidupan, membuatmu tampil manis bersahaja. Kami semua menanti, seperti hujan yang pasti reda.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers