UA-89306807-1

Panggilannya Akhi

"Nini, tak habis pikir aku dengan tiga anakku. Sudah letih kusuruh ia carikan mantu." Longlongnya pada ibuku yang baru saja turun dari jok motor berjalan tergopoh mengambil tangan ibu.

Aku pun pergi menyelam hariku. Belakangan ini memang sudah tiga kali ibu mengulang cerita yang sama tentang keluarga Bu Dian, sahabat karib semasa SMA ibuku. Beliau memiliki 3 orang putra yang ketiganya alhamdulillah sudah selesai pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang mapan. Indahnya lagi, mereka laki-laki yang shaleh. Sangking shalehnya tidak memberatkan diri memikirkan kekasih hati. Mungkin kekasih dimata mereka akan datang pada waktunya. Tapi, kapan waktunya? Siapa yang pertama? Akhi pertama? Akhi kedua, atau akhi sulung?

Aku sendiri tidak menjadi timbul pikiran apa saat ibu bercerita, namun... sore hari ini ibu melanjut ceritanya. Yang entah angin apa, aku pun bertanya, "Bu, emang mereka itu usia berapa aja?" Tanyaku yang sama sekali tidak kenal ketiganya.

Ibu memaparkan identitas ketiganya. Luar biasa. Akhi-akhi itu... kenapa kalian bersembunyi. Riak suara hatiku mengalun. Merona inginku bertanya lagi, "Bu, salah satu dari mereka adakah yang cocok menyeimbangiku?"

Lagi ibu menjawab tanpa sungkan seolag segala curahan Bu Dian tadi dapat ia lepaskan segera. "Bu, yang wajahnya tidak terlalu tua" aku memberi tekanan pada kata 'tua' karena wajahku yang diusia 22 tahun ini terbilang masih sangat muda. Aku sering dianggap adik kelas oleh siapa saja, dan aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau dikira anaknya. Adudu parah bikin geleng-geleng kepala saja.

Akhirnya aku meminta nomor kontak akhi sulung yang paling muda dan seperti ada panggilan dari hati untuk menghubunginya segera. Ibu? Apa yang kau pikirkan dengan anakmu ini? Aku malu-malu beranjak dari teras rumah dang menekan nomor ponsel akhi sulung tanpa ragu.

"Assalamu'alaikum akhi..." salamku yang ia jawab tenang.

"Akhi Azir, ini ana Nanda anaknya Bu Nini."

"Eh, Nanda yaa... afwan Dinda ada apa gerangan? Ibu sehat?" Bicaranya lembut seakan aku adik perempuannya.

"Alhamdilillah, selepas pulang dari rumah akhi ibu semakin sehat saja"

"Ah Dinda, pandai kamu memang" ia mudah malu ternyata, dan apa... dia memanggilku Dinda?

"Akhi besok punya waktu bertemu" tanyaku pada point utama.

"Besok akhi kosong, mau pergi?" Kejarnya juga ternyata, pikir otak kecilku.

"Iya boleh akhi" sekarang aku yang malu.

"Kemana indahnya, Dinda?" Tanyanya membuat hatiku cetar-cetar.

"Nanti saja tempatnya akhi, ada tempat yang ingin dinda kunjungi" Ops! Kenapa aku ikut terpanggil diri dinda? Malunya aku.

"Akhi jemput, atau?" Ia pandai melerai, aku lega.

"Tak apa akh, kita jumpa di sana saja baiknya" tolakku yang tidak mewajarkan budaya antar jemput selama tubuh ini sehat.

Kami menutup telpon dengan salam, dan rindu berjumpa seakan nyangkut di ujung tenggorokan.

Aku, mendekati ibu dan membayar ceritanya.

Akhi, apa hatimu sedang melonglong juga di sana, aku merasakan riang bukan kepalang Bu Dian mendapati anaknya akan bertemu kekasih.
#bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers