UA-89306807-1

Keluarga dan Kekeluargaan FLP Aceh

Ini tahun keempat saya di FLP Aceh. Bukan waktu yang singkat untuk kami saling menyayangi, menyatu, dan berbagi. Untuk kesekian kalinya, dan masih yang pertama diantara organisasi yang pernah kugeluti, FLP Aceh bagaikan keluarga. Selain di sana ada sosok Abu RH Fitriadi yang sudah kebapakan dan selalu tidur setelah dua bocahnya terlelap, juga ada Mak Mala, Mak Fida, Mak Aini yang senantiasa membopong anak-anaknya ke Rumah Cahaya hingga meriahlah hati saya yang suka anak-anak. 

Kami juga punya Pak Ciek Ibnu yang senantiasa teduh dan sangat doyan makan. Pak Ciek paling doyan minta bolu pisang buatanku. Sayangnya tidak ada bolu pisang lagi karena ia sudah menjelma menjadi anak kota. Selain Pak Ciek, kami juga punya Bunda Riza Rahmi yang semoga lekas menjadi bunda-bunda tiara akan daku sehingga aku besarlah (eeh jadi nyanyi... hihi...).

FLP Aceh juga meriah dengan hadirnya sosok beruang yang lucu dan manis. Kakak beruang yang satu ini paling solid dan paling bisa diajak berbagi ikan salmon biar cuma itulah satu-satunya santapan yang tersisa di kutub. Selain suka banget sama beruang, kak Ade juga suka banget sama keimutan saya. Ia kerap memanggil saya anak kesyil. Maka jika kalian ada yang berani merebut jatah makanku, bersiaplah di santap beruang. Hap!

Sekedar kalian tahu, bukan kerena sebutan-sebutan sayang itu kami menjadi keluarga. Bukan. Bukan karena ada Abu dan Bunda sehingga lahir anak kesyil. Bukan karena ada badai sehingga beruang terdampar di Nangroe Aceh. Sekali lagi, Bukan! Tapi, karena kebersamaan, dekapan ukhuwah yang terjalin dengan islami. Bubarnya pertemuan lima belas menit untuk shalat itu PENTING!

Kalian yang belum mengenal saya, akan saya kisahkan sekarang bagaimana kekeluargaan ini benar-benar menabuh rindu bertalu-talu.

2009, beberapa minggu setelah UN, saya mendaftarkan diri di FLP Aceh. Saat itu Bapak dan Mamak menyetujuinya karena alamat sekret tak jauh dari rumah yaitu Tungkob. Bermodalkan seribu rupiah saya tidak keberatan naik turun labi-labi demi pertemuan.

2010, itu tahun pertama sekali saya dipercayakan oleh penulis-penulis hebat. Mereka itu adalah Bang Ferhat yang sudah gemuk, Kak Riza yang masih berpipi tembem, Kak Nely yang sepulangnya S2 nanti dibawakan oleh-oleh dari negeri China, Kak Nuril yang akan segera jadi dokter, Kak Ade yang senyumnya itu sangat manis. Oke, Pak Ciek Ibnu juga karena beliua masuk seangkatan dengan saya. Tahun itu tamu besarr datang, pertemuan petang hari dengan proposal merah meriah bergilir tangan. Sangat menarik. Apa? Tawaran tamu besar itu, Mbak Helvy dengan lihainya mempresentasikan isi proposalnya. Akhirnya kami pun sepakat menjalankannya, acara besar itu adalah pementasan teater tanah perempuan, dan saya dipercayakan menjadi bendahara. Uang di tangan tidak pernah lebih dari lima puluh ribu, alamak ini berpuluh juta kasak-kusuk kuangkut sana mari demi pentasnya acara besar itu.

Alhamdulillah, acara sukses. Ukhuwah pun terjalin semakin erat. Bagaimana ceritanya?
Saya, Isni Wardaton anaknya Burhanuddin Abdullah ini paling sulit izin kemana-mana. Saya yang lugu kerap memberi alasan yang sama biar diejek tetap pasang tampang polos, 'nggak dikasih izin sama ayah'. Ya! Saya paling sulit, tapi sejak saya bersama FLP Aceh surat izinnya jadi lancar. Terimakasih FLP Aceeh. XD

Semangat juang, sopan santun, rela berkorban, keikhlasan dan banyak lagi yang saya kecap dari teman-teman FLP Aceh dan saya merasa masih belum bisa membalasnya sampai sekarang. Saya dipercaya oleh orang tua berpergian dengan FLP Aceh. Kemana pun, saya tidak perlu takut meminta izin, bapak pasti ridha. Saya senang bukan main, bisa ikutan rihlah FLP Aceh, ikutan mengumpulkan buku bekas untuk anak-anak, terlibat dalam launching buku, berkenalan dengan penulis seperti Tere Liye biar dianya nggak ingat saya juga sih... Kang Ali Muakhir, aah banyaklah. Mungkin selanjutnya saya yang akan dikenal. Eaaaa... Haghaghag... Amin. :)

Kembali kepada menyukseskan acara besar pementasan teater tanah perempuan. Sialnya acara itu adalah malam hari. Sudahlah saya langsung tidak setuju menjadi bendahara. Saya tidak akan bisa berpastisipasi dengan FLP Aceh. Saya ingin, tapi izin bapak itu bagaikan menangkap durian runtuh. Lebih baik tidak daripada daripada. Tapi, sang kakak-kakak itu tidak mengalah dan saya masi memasang alasan yang masih itu-itu saja. Maka datanglah mereka menemui sang Bapak dan Mamak, meminta anaknya untuk direstui berpastisipasi dengan FLP Aceh. Kak Riza memaparkan dengan rinci dan berhasil merayu Bapak. Selanjutnya, beraksilah kami. Demi menjalankan tugas, tanggungjawab di FLP Aceh, dan bertambah satu lagi menjaga keselamatan anak kesyil ini, mereka tidak pernah mengeluh. 

Kak Riza, Kak Ade, Kak Nely secara bergantian menjemput dan mengantar saya sampai dengan selamat di rumah. Sampai melihat wajah bapak di muka pintu barulah mereka pamit. Yang membuat aku cinta dan sayang sekali pada mereka adalah, tidak sekali pun keluar kalimat, 'jauh kali rumah Isni', kalimat yang sering kujumpai pada banyak teman dan sahabatku di sekolahan maupun di kampus. Rumah saya ada di Lambaro Angan, desa Miruek Taman. Kalau mau datang, silakan banyak pohon kedongdong di rata jalan.

Ah, indahnya memang berterus terang dan menjalin hubungan kekeluargaan. Kepada mereka saya sangat berterima kasih, sejak saat itu cerita saya si anak kesyil ini senantiasa didengar. Dari keuletan mereka berbicara di depan umum, teman laki-laki, orang hebat, saya belajar memulainya dengan berbicara kepada bapak dan mamak. Saya pun perlahan berani bergaul, menyapa dan berlulucon walau terkesan garing. FLP Aceh telah melahirkan keberanian dan rasa menjaga sesama.Walau masih sering bapak melarangku pergi bermain, tapi saat ini saya bisa menerima dan lebih tahu meletakkan pergi itu kapan, kemana dan dengan siapa. Pastinya donk, dengan FLP Aceh tiket kemana aja boleh. :D

2010-2012 saya kembali di sorot lampu pentas. Saya silau bukan main. Tapi saya tidak menolak lagi ketika diberi amanah dan tanggungjawab untuk mengelola keuangan FLP Aceh dengan sepelit-pelitnya. Saya mendadak kaya lagi dengan jabatan bendahara umum. Masa saya menjadi bendahara tidak ada yang berkembang banget, saya merasa diri tidak becus, tapi berhubung saya masih bisa menjadi anak kesyil yang jujur, polos dan tidak boros. Uang berhasil kami kembangbiakkan walau cuma seratus rupiah lakunya sebutir permen karet oleh anaknya Mak Aini. :D

2012-sekarang saya kembali menjadi orang miskin yang harus meminta uang sama bendahara umum. Tidak banyak kegiatan yang bisa saya hidupkan sampai hari ini, dua anggota devisi Rumcay sudah berkeluarga selebihnya sedang nyusun skripsi dan akan KPM bulan Maret ini. Entah, bagaimana nasip Rumcay yang menjadi amanah saya sekarang ini. Mungkin saya harus duduk manis membuka kitab di sana, atau membuat gebrakan masak kuah pliek bareng, nonton bareng, ngerujak bareng, atau atau atau apaalah itu saya butuh tambahan personil. Semoga Pak Ketua yang menjadi juri atas kemenangan tulisan ini menyetujui keinginan saya demi kemaslahatan hidup warga FLP Aceh tercinta yang semoga semakin kaya berbakti, berkarya dan berarti.

Salam membaca! Hidup FLP Aceh!


2 komentar:

  1. ini untuk lomba internal itu bukan?

    BalasHapus
  2. teernyata kkomenta qe masuk spam nyak.. hahaha

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers