UA-89306807-1

Four-a, Speak Please!



Taaaaaaaaaraaaaaaaaaaaaa teman-temanku yang rajin ngeblognya alhamdulillah, makasih sudah ngelirik admin yang makin hari makin nggak tanggung-tanggung bawelnya kalo lagi semangat nulis sampe kagak kenal lagi tanda titik, lihat saja nih kalimat pembuka saja berkoma-koma kaya lagi kritis aja. Aha!

STOOOOOOOP! Kau mencuri hatiku, hatiku...
#mendadak dangdut, tepok jidat guling-guling dalam selimut

Assalamu`alaikum anak-anak...
Hiks, guek kangen nyapa gitu lagi sama anak murid guek. Beneran kangen tau nggak sih! 
Biasanya tiap kali jam pelajaran Fisika, saya selalu menyodorkan kepala ke dalam pintu sembari mengucapkan salam, daaaaaan... dengan kocaknya mereka bakal ngikutin intonasi gimanaaaa pun saya memberi salam. Subhanallah, pahala dapat semua. :D

Siapa sih yang saya bicarain, yaa tak lain dan tak bukan adalah kelanjutan dari entri sebelumnya, bisa dibaca di sini..
Hehe, di sebelah kan saya janji bakal nyambungin kocaknya anak 4a itu kayak bejimana. Nah, ikutin aja tulisan ini sampe habis. Okay. Cekidot. :D

Hmn... adaaaa satu kejadian yang omegoood, kenapa tiba-tiba kelas menjadi diam bagaikan malaikat lewat. Ya lho saya lagi di kelas 4a, kelas yang terkenal baru bandel dan bandel suaranya tak ketulungan, ya lhoo saya nggak salah masuk kelas karena tadi sudah membagikan kertas ulangan dan bercengkrama ria, ya lho saya lagi nulis di papan tulis materi pelajaran, tapiiii kok ada yang aneh yaaa? Apa?

Saya pun berhenti menulis dan memeriksa kemana perginya malaikat, apa malaikat membawa anak-anak kabur. Ah tentu bukan pikiran elit. Dan ternyata, bocah-bocah itu masih di kursi duduk masing-masing, LENGKAP, nggak ada yang bangun seperti biasa sukaaa banget keliling kelas sendiri. -_-

So? Kok... saya pun memasang tampang heran. Yaaalaah siapa yang nggak heran. Sejurus kemudian kesemuanya cekikikan sambiiiiiiiiiiil menahan tawa.
Apa-apaan sih?

Jelas, saya berhasil dibuat bingung. Maka tak saya pedulikan, lanjut menulis di papan sambil meminta mereka mencatat di buku. Tapi, kesemuanya kembali terdiam dan saya heran lagi. KOK TUMBEN!

Apa ada terobosan baru yaa cara ngerjain guru PPL? -_-

Apapun itu, santai sajalah.
Kemudian saya pun bertanya kepada anak-anak apa sudah menyalin semua biar saya hapus papan.

Sial!

NGGAK ADA JAWABAN.

Saya akhirnya menyebut, 'Aulia, sudah catat yang ini?'
Aulia pun tak terkendali menjawab, 'belum mi'

Plak! Plok! Pluk! Plak! Puk! Puk!

Suara apa itu?
'Haiiiiii apa-apaan kalian? Kenapa pada serbu Aulia?'
Tidak ada yang menggubris. Kesemuanya (oke kecuali Munir, Putra, Khadafi sepertinya tidak suka kekerasan, haha) buru-buru beranjak dari kursi dan masing-masing memberi Aulia sekali pukulan.
Ooops. :D
'Oke, sekarang siapa yang berbicara dia adalah bla bla bla dan kena pukul!' kata Aulia dalam bahasa daerah kami yang sudah saya terjemahkan. :D

Dan syalalalala saya akhirnya mengerti kenapa mereka bagaikan malaikat lewat, terdiam tampa kata, karena sedang bermain. Oh oh oh good ide.

Tapiii,
'oh, jadi kalian lagi main tahan suara gitu... oke oke boleh, tapi pengecualiaanya donk... pengecualinnya kalau umi yang tanya, jawab ya...'
'nggak mi, nggak ada pengecualiaannya'
Perdebatan singkat itu tetap dimenangkan oleh mereka, permainan tahan suara kembali dimulai. Saya pun kembali menulis di papan.

Singkatnya. 
'aduuh, terharu umi sama kelas kalian, sudah berapa kali umi ngajar, baru hari ini kelas kalian patuuuh kali... nggak ribut... yaa biar lagi tahan suara' ujarku menggoda mereka berbicara sembari memancing nama mereka saya sebutkan, yang ada hanya cekikikan tidak ada suara.

'kalian tu lucu tau kalau lagi tahan suara, Mirza... biasanya cerewet banget...' Mirza adalah anak yang paling cerewet tetapi paling nggak mau kalah dan salah dalam menyelesaikan soal, yaa paling rajin. Mirza yang kusebutkan namanya hanya menjawab dengan bahasa isyarat sambil mendadah tangan. Aku kembali cekikikan. Tak tahan saya sama polah mereka yang menahan tawa itu. Wkwkwk...

'baguus sih, kalian jadi punya catatan lengkap ya... jarang-jarang kalian mau nyatat kan' mereka nggak tahan ketawa tapi tak ada yang bersuara.
'gimana, umi hapus yaa...' ujarku hendak menghapus.
Siswa di kursi yang hanya berbicara isyarat tak terdengar, maka mereka memukul meja dengan tangan, jika saya tak menggubris selayak mereka tak menggubris pertanyaanku, mereka memukul meja dengan kaki.
'Fauzul!' Fauzul yang miliki tampang paling reman memukul meja dengan kakinya karena tangan ia gunakan terus mengejar catatan yang akan saya hapus. Ah, tumben rajin. -_-

Dan, pagi itu saya tidak mendapat jatah tanya jawab karena percuma bertanya mereka tidak menjawab. Saya pun berpikir keras bagaimana cara membahas materi, bagusnya catatan mereka sudah lengkap. Yaaaaaa! Nanti akan saya katakan apakah itu. :D

'bagus yaa kalian mau nyatat, sekarang catat contoh soal ya kita bahas soal satu karena waktu ada 10 menit lagi'
Kau tau? Mereka masih berbahasa isyarat sambil menunjuk-nunjuk jam dinding yang sudah mereka percepat 15 menit. -_-

'yaaa... kapan lagi kalian mau nulis rapi kalau nggak sekarang, ayoo sedikit lagi biar minggu depan kita bisa praktikum...' kataku sambil menulis soal di papan. Tapi, anak-anak tak lagi bergeming. Saya pun heran, tadi pada ribut pukul-pukul meja memberontak sudah capek, sekarang malah sepi lagi... jangan-jangan... pada masuk asrama, kan kamar asrama mereka cuma 5 meter dari kelas. Aduuuuuuuuuuuuh! Segera saya membalikkan badan dan ternyata mereka masih di kelas, lebih tepatnya masih di kursi masing-masing, sama sekali tidak berpindah apalagi berkutik, TIDAK SATU PUN karena semuanya sedang PURA-PURA TERTIDUR.
Oh, baiklah. Kalian menang LAGI.

Akhirnya saya menyerahkan waktu 10 menit terakhir beristirahat dengan mereka. Hingga satu dari mereka bernama Fauzi bangkit dari kursi minta permisi ke kamar kecil. Tapi, dia malah berdiri di pintu luar dan berbicara kepada temannya yang masih menahan suara. 'speak... speak... speak...' kata Fauzi. Tapi, entah karena beneran kecapeaan nulis, semuanya mereka yang tak lebih dan kurang beranggota 13 orang tapi kalau di kelas bagaikan 30 orang. Semuanya tidak menyadari sebelum saya berkata kepada mereka, 'hei... dia speak... Fauzi speaking', kau tau reaksi mereka? Sekejap itu pula semuanya lenyap dari bangku berlari mengejar Fauzi sampai ujung asrama, kau tentu tahu apa yang mereka lakukan di sana. 
'biasaa mi, anak muda'
Kalau begitu, saya jelas maklum selagi mereka berbatas kenapa harus kita ataskan lagi?
Yaa begitulah mereka, belajar sambil bermain. Yaaa... why not? Kau cuma perlu mengikutinya saja, dan nikmati sebenarnya mereka sedang mengirim sinyal cinta untukmu. Kau mau tau kawan maksud sinyal cinta itu?

Baiklah, saya tak ingin tulisan ini terlalu panjang di sini. Nantikan di entri selanjutnya. Semangat bermain sambil belajar. :)

5 komentar:

  1. keren tulisannya kak :)
    tapi kok gak ada spasinya di tiap paragraf kak?
    agak sulit bacanya :)

    BalasHapus
  2. Hahaa, kk juga baca ulang dan cekikikan membacanya... haha ada2 aja 4a itu smpe skrang masih lucu. hihi

    iya yaa, lupa kk edit pas kk repost. Diedit skrang deh, tq Aslan... :)

    BalasHapus
  3. kau kok sabar banget isni. aku punya murid gitu paling2 pulang ke rumah sambil nangis. di sekolah aku jitakin hihihihi

    BalasHapus
  4. tulisannya keren, blognya cantik, hurufnya juga menarik, kayak komik ngitu, betah pokoknya mampir kemari, oya blognya sudah kak follow ya, biar bisa mampir lagi kemari

    BalasHapus
  5. Nesya,, hehehe.... harus betah donk karena itu profesi. Krna qt kudu pande ambe hati mreka. :)

    Kak Lisa,, yaa mksih kak atas kunjungan baliknya. :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers