UA-89306807-1

Gemuruh Rasa


Belum terhirau di terjang sepi,
Tak kunjung diterka, ruang cerita di sudut hati,
Derita mata, perih luka melambung ,
Siapa peduli?
Lama bersembunyi,
Tapi coba dengar seberkas pelangi,
Kumpulan warna-warna dari cucuran mimpi,
Cukup!
Hanya nikmati sorot mata yang menyimpan rindu,
Harap yang jauh menunggu di batas kesetiaan waktu,
Ceceran kasih bening yang mengalir deras mengukir,
Bertahan melawan jiwa yang berontak dalam syair,
Tentang arti senyum dari wajah ranum di awal pagi,
Masih, aku masih menyimpan lembutnya sapa mentari,

Selama catatan dibawa-bawa debu yang tersisa,
Perjalanan di bawah tusukan rinai seakan memberi asa,
Bergetar manis, sendu lagu-lagu yang mengipas lentik mata,
Goresan di lengkungan pipi, dari raut yang isyaratkan cinta,
Aku jauh, hingga jatuh terperosok diguncang satu nama,
Remuk, batinku menampar keringnya hamparan lama,

Luka yang bersembunyi di balik gersangnya ladang penantian,
Di lorong-lorong sunyi, basuhan debu harap lunturkan kesetiaan,
Pupuskan segala rupa warna yang dibawa gemuruh hujan,
Harus kembali, saatnya aku kembali bertanya makna itu,
Tentang sorot tatapan bening yang berhadiah rindu,

Setumpuk harapan, segenggam mimpi yang terabaikan,
Kasih yang redup, gugusan bayang yang pergi meninggalkan,
Sejuta tangan menahanku, membiarkan syahdu lembut beranjak,
Aku berlari mengejar, hingga fajar datang menghentak,
Walau tak sampai, tangis dan keluh membuat langkah lamban,
Maka aku utarakan syair pada angin yang masih berjalan,
Dan aku sisipkan harap, semoga kembali rindu yang kudamba...

Puisi by: Nazri 
Banda Aceh, 25 Mei 2013

3 komentar:

  1. Kereennnn liii kok akhi ariel tu....

    BalasHapus
  2. Hahhaha..

    Gemuruh Rasa pula.. :D
    Macem orang galau..

    BalasHapus
  3. Bang Ferhat, Nazri gitu lho... ckckck

    Nzri, hahha kan ceritanya aku lagi galau makanya minta dibuatin dengan judul itu tu "gemuruh cemburu"
    hhhehe

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers