UA-89306807-1

Realita: Separuh dari hidupku

Ini masalah hidup atau mati. Kau akan terus hidup bersama atau kau sebenarnya telah dimatikan secara tak sadar dan sayangnya kau menganggap dirimu hidup, lebih memalukan kau menganggap diri telah bermanfaat banyak sedangkan realita aku hanyalah sebuah nama, dipanggil... diteriaki... disebut... dan dilupakan.

Siapa di sini yang sekarang menjadi boss?
Siapa di sini yang sekarang manjadi pelindung?
Ada Tuhan dalam dirinya sehingga kau kejar ia?
Ada malaikatkah di sana?

Tidak, pahit kutelan jawabannya sama. Tidak.
Kenapa aku harus mencari jauh pada diri mereka? Aku punya!

Ada boss dalam diriku, ada jiwa pelindung di sini, ada Tuhan, malaikat. Aku tak perlu bersusah payah mencari, aku dilindungi dengan pelindungan yang akhirnya titik jenuh itu bobol, kawan!

Ini tentangku. Penulis blog yang cenderung menyelesaikan masalah dengan hati dibandingkan akal pikirannya. Aku, aku sempat bersitegang keras dengan seorang sahabat memastikan diriku akal pikiran dan hati telah menyatu dan tidak bisa kubagi tau lagi untuk memilah.

Ia sahabtku sepertinya lelah mengajariku malam ini, pascanya ia juga pernah mengoreksi bagian ini.
Aku penulis blog ini, sudah tua wahai usia. Tapi masih rentan galau dan ambigu, ragu penuh ketidaktegaan bercampur dengan embel-embel ketulusan.

Aku mengatakan pada diri untuk yang kesekian kali, aku belum dewasa hanya dengan bisa bahkan sangat bisa memaafka setumpuk dosa yang dipertunjukkan kepadaku. Memaafkan perkara paling mudah bagiku, dalam kondisi aku rela sakit alias tersakiti asal mereka tidak sakit. Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin mereka tidak sakit? Oh, ganti! Siapa yang menjamin mereka peduli bahwa kamu bersakit-sakit melindungi diri? Mereka tidak tahu, bahkan jika diberi tahu sekali pun, mereka tetap tidak peduli.
Benar saja koar malam sahabatku yang kurekam pesannya. Aku harus menepisnya lagi? Oh, tidak.
Jejak nasehat sahabat
Suatu hari yang terus berganti terjadi, aku mencoba melindungi agar dilindungi, memaafkan agar dimafkan, menyayangi agar disayangi, dan segala hukum alam simbolis mutualisme lainnya. Hay girl, ini bumi, mereka dan kamu manusia!

Pekikku yang cenderung berbicara dengan diri.

Aku sesekali harus bisa marah, setidaknya pura-pura marah. Agar mereka tidak selintas berlalu, menganggapmu pohon kedondong di tepi jalan, selain jadi pagar kau dicabut dibuang dibakar mati dengan kulit kering jadi kayu bakar obat nyamuk sapi di tengah malam.

Sesekali aku harus tegas, hy girl... sesekali aku harus diam. Anggap saja mereka salah dan mereka yang harus menerima perasaanku, bukan aku. Oke, aku juga... jelas saja aku menggunakan perasaanku, bahkan takarannya telah over! Sehingga, aku dipergunakan atau dibuang karena rasanya aneh.

Sudahlah, aku cukupkan mengoceh. Semoga aku hidup dan bahagia dengan karakter yang jauh-jauh hari masih harus kubina.

2 komentar:

  1. menjadi dewasa artinya harus siap dengan ujian galau :D

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers