UA-89306807-1

Dua Tangkai Resah

Aku bingung dengan diriku sendiri, dengan perasaanku. Apa yang kurasakan.

Hari ini, panggilan telepon terus berdering. Padi yang tak kunjung kering mendadak awan kelabu mengiring langkahku ke halaman rumah Cek Di. Di sana dengan terburu-buru kami memindahkan butiran padi ke dalam goni. Mengangkatnya ke teras rumah. Dering panggilan masih terdengar di luar rumah. Aku enggan masuk dan memilih menunggu awan memarahiku. Hanya ini yang dapat kulakukan.
***

Seperti malam Jum`at lainnya, aku dan ibu sudah menjadi langganan tetap shaf shalat sunnat tasbih di mushala kampung. Rasanya damai, tenang, aku tak ingin bangun dan menggulung tikar. 
"Sar, aku tinggalkan tikar ini untukmu. Aku pamit duluan" kurasakan Bilal menepuk bahuku dua kali dan aku tak bergeming. Ia pulang dan Ustadz menghampiriku. Ibu, dimana ibu? Kutemukan ia sedang berbincang dengan beberapa wanita paruh baya. Aku menatap wajah ustadz, lelaki yang juga pamanku dan menyalaminya.
***

Aku pulang dengan ibu. Membawa pulang dua tangkai resah. 
***

Hujan sedang memukul wajahku. Tak seberapa dengan tamparannya di pipiku. Aku melangkahkan kaki ke depan demi mendapatkan pukulan lebih. Perih di dalam lebih terasa. Kubuka mata, hujan menusuk dua bola mata. Tusukan dalam diri yang terasa. Aku berlari ke dalam ruang, meninggalkan bercak tapak kaki di lantai rumah membuat repetan ibu mengikutiku. Panggilan itu mati, bodohnya kutunggu deringannya yang percuma.
***

***kisahnya buntu***bersambung***

2 komentar:

  1. Bisa jadi cerbung nih klo terus-terusan bersambung :D

    BalasHapus
  2. Hhahahah iyaa kak seharusnya gitu,,, ckckck.... :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers