UA-89306807-1

Gandeng Tanganku, Yah!

Jika aku diperkenalkan beradu pandang sekali lagi. Aku kan sampaikan kata-kata terakhirnya untukmu. Ia tak pernah lelah menunggu. Tapi, kau terlambat. Begitu pun aku, aku tak kuat. 

Bacalah dengan seksama, kau bisa mengulanginya sepuasmu. Tapi tidak dengan waktu.

Hari itu aku menggandeng lengan kanan, Hafni menggandeng lengan kirinya. Kami tertatih melewati ubin kekuningan. Kami berjalan, polesan bedak membuka kulit putihnya dan memucat. Kukira ia akan tumbang. Tapi, aku bersyukur ia hanya tumpah. Aku acuh. Hafni menyapu mukanya. Mataku lurus. Aku benci berjalan seperti itu. Terlebih lagi karena Hafni harus menanggungnya terlalu dini. 

Tahun berlalu, kali itu keramik putih terlalu bening. Lagi-lagi Hafni menggandeng tanganku dan tersenyum bangga atas peringkat doktorku. Kukeluarkan senyuman dan kuusap kepalanya, kukecup pipinya dan kubisikkan, 'maaf ya kak... kakak bunda buat lebih tua dua puluh tahun'. Hafni hampir ngakak, seperti biasa dia paling suka terbahak. Ruang formal itu behasil mengunci mulutnya dan berbisik, "nanti kakak juga bakal tua kok nda, jadi bunda tenang aja".
Dan Rabu lalu, seharusnya aku menggandeng lengannya dan berjalan penuh cinta dan bangga bersamanya. Melalui setapak demi setapak, merasakan helaan nafas, sesak, buih di mata, hati bergejolak, rindu membuncah, benci yang membara, ingin tapi percuma, sosok ayah tidak ada lagi.

Sayang, ini kali terakhir kuhaluskan panggilan untukmu. Maaf, kami tidak bisa menepati janji untuk tidak menunggumu. Kami yakin, kau akan pulang.

Titip Lisa, gandenglah ia. Aku takut, tangannya kosong.

2 komentar:

  1. Salam kenal. Senang bisa membaca karyanya ... :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas kunjungannya. ^^

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers