UA-89306807-1

Bang Mamat Oh, Bang Mamat

 “Allahuakbar allahuakbar, laailahilallah…

Astagfirullah ya Allah!” Ibu beristigfar sangkit terkejutnya dengan suara takbiran yang mengaung-ngaung di jalanan. Pasalnya, itu bukan suasana lebaran yang megah dengan takbiran.

Allahuakbar allahuakbar, laailahilallah…
Suara itu semakin mendekat. Terus mendekat. Tapi rasanya sangat tidak asing di telingaku.

“Mamaaaaaat! Peukapeukarue gampong kah nyeh?*” itu teriakan Ibu kepada Bang Mamat, abang keduaku yang kurang sehat.

“Allahuakbar allahuakbar, laailahilallah…” Bang Mamat malah tak menjawab, terus meneriakkan takbirnya sepanjang jalan. Aku hanya bisa melongo. Ketika satu persatu anak-anak tetangga keluar dan mengikuti Bang Mamat.

Adduh! Aku hanya bisa tepuk jidad.
Bang Mamat terlahir normal dan sehat, ia mulai tidak sehat sejak SMA karena terjerumus pergaulan bebas, Ayah dan Ibu tidak pernah tau kalau ternyata ia kerja paruh waktu di café bukan untuk keperluan sekolah, melainkan untuk ganja. Aku saat itu tidak pernah tau, apalagi paham kenapa Ayah dan Ibu sangat peduli kepadanya. Memberinya uang dengan cuma-cuma, dan membujuk tiap Senin untuk berobat. Sayangnya, ia tidak sembuh seperti dahulu. Tapi, ketika aku mengerti kondisinya. Aku cukup salut dengan perubahan-perubahan yang ia alami, ya… kecuali sikap anehnya seperti yang tadi itu.

Ini hari Sabtu, selepas membantu ibu mencabut rumput dalam pot bunga. Aku berkemas menggunakan pakaian terbaik, dandanan terapi dan siap ke kenduri walimahan temanku, Yuda. Rumah Yuda ada di desa tetangga, desa Meunasah Mon, jadi aku berangkat lebih awal di sana dengan motor. Sesampai di sana, aku hanya tersenyum kepadanya yang tidak melihat kedatanganku.

Aku tidak pernah terkejut, jika sekalipun hanya aku yang mendapat undangan kenduri, di sana Bang Mamat sudah sampai lebih awal dariku, selalu. Itu selalu terjadi, ia datang bukan karena aku pernah bercerita kepadanya kalau aku diundang Yuda diacara walimahannya. Tidak. Bahkan, jika ada kenduri di mana saja, apakah itu rumah tetangga, kampung tetangga, kecamatan tetangga, selagi kaki sehat Bang Mamat sanggup menjangkau, tak perlu heran ia sudah tiba di sana dengan kardus-kardus minuman gelas, atau di tangannya ada setimba kuah belanga. Dan aku, tidak pernah malu dengan keanehan yang sering ia berikan kepada keluarga kami.

Aku bersyukur ia tidak lagi tergantung dengan obat-obat terlarang, dan sekarang ia ringan tangan dalam membantu masyarakat, tanpa dipanggil sekali pun, ia pasti datang, selalu. Bukan sepiring nasi dengan lauk yang lezat, tapi… kurasa seperti mengangkat jemuranku saat aku tidak di rumah, tak perlu ditanya kenapa, Bang Mamat selalu memberi.

“Abang kamu, Lia?” Tanya Fatimah sambil menyenggol lenganku.

“Iya,” jawabku sambil tersenyum ramah.

Seharusnya aku malu bukan? Abangku menjadi tamu tak diundang (lagi-lagi). Tapi, lihatlah… kurasa tanpa ia, kekurangan dalam persiapan kenduri akan tetap kosong melompong, minuman habis tidak terisi, piring-piring kotor tergeletak begitu saja dibawah kursi. Tapi, siapa yang mengangkut piring-piring kotor itu?

“Kak, meu`ah* kak…” suaranya tepat dibelakang kursiku. Bang Mamat meminta maaf karena tangannya harus menjangkau bawah kursi dimana seorang ibu sedang makan bersama anaknya, dan begitu juga dengan kondisi kursi-kursi tamu lainnya. Tamu sesudah makan menaruh piring kotor di bawah kursi lalu pergi dan kursi kembali diisi tamu. Bahkan, ada kursi yang dibawahnya tumpukan piring sudah menggunung. Bang Mamat membawa ember dan mengangkutnya, tidak ada keluarga Yuda yang mengambil langkah seperti Bang Mamat. Entah kemana mereka, mungkin sedang makan, semuanya sedang makan? Yang kulihat adalah keringat Bang Mamat menetes dalam piring kotor itu.

Pasoe keuno manteng dek*,” kata Bang Mamat ketika aku hendak bangkit membantunya, ia malah memintaku menaruhnya dalam ember yang sudah mulai penuh, pasti itu berat. Itulah Bang Mamat, abangku yang kurang sehat tapi sangat menyehatkan. ^^


__________

· Apa kamu mau ganggu desa ya?
· Maaf
· Masukin ke sini aja, dek

7 komentar:

  1. Wew... ini kisah nyata kak? :v

    BalasHapus
  2. Selepas kesulitan selalu ada kemudahan, Alhamdulillah semoga kita semua senantiasa mendapat hidayah dan lindungan Allah. :-)

    BalasHapus
  3. Ada kisah nyatanya, Aslan. Ada di kmpung kk, tp ga tau sebab knpa dia bisa gitu. Hhhehe ini versi fiktifnya kk. :D

    Azhar, ya... selalu ada hikmah dri Allah. :)

    BalasHapus
  4. abang kandung isni ya, Allhamdulillah akhirnya bang mamat tidak lagi tergantung dengan obat-obat terlarang dan ringan tangan dalam membantu masyarakat,

    BalasHapus
  5. Kak Lisa,, hheehe itu Fiktif kok kak,, ada sih abang2 y gitu di kampung isni, tapi bukan saudara isni, cuma jd inspirasi aja. Hhehhe :D

    BalasHapus
  6. Peugah bak si amat, bek tuwoe, uroe minggu na maulod di meunasah blang..

    ttd
    Pak Geuchik

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers