UA-89306807-1

Memecahkan Memoar (lalu) dengan Memoar (baru)

Jadi lebih baik, siapa sih yang nggak mau. Apalagi ninggalin masa lalunya, masa yang memang pasti dan akan tetap di belakang, seberapapun usahamu melihatnya, masa yang tidak bisa dihapus namun dapat diperbaiki di halaman depan.

Itulah yang sekarang terjadi padaku. Aku juga memiliki memoar yang tidak semuanya indah untuk dikenang, bahkan memoar indah (dulu) saja menjadi bumerang yang suka menyerang. Aku bisa saja berang kapan pun, emosi tiba-tiba, mengomel tak jelas, galau tak terhalau, rasanya ingin sekali terlelap.

Seringnya aku terlelap, namun tidak membuatku lebih baik. Aku cenderung meninggalkan banyak pekerjaan, pantas saja mimpiku tertunda terus. Nyatanya, aku masih diikat dengan memoar. Aku harus melepaskannya, dan aku ingat sebuah kalimat dalam novel yang baru kubaca, “Tuhan menyisakan tempat untuk kita kok, Tuhan telah melihat usaha-usaha kita sejak semalam, karena Tuhan Maha Melihat”. Aku harus terus berusaha, walau dalam usahaku masih ada yang kurang, bukankah Tuhan melihat usahaku dalam memperbaiki diri, dan tentunya aku harus terus istiqamah dengan niat. Tuhan akan menyisakan tempat untukku.


Bismillah, semoga senantiasa dalam lindunganNya.
Aamin. ^^

Setiap kali memoar itu mengusik, istigfar kuperbanyak. Saat aku tiba-tiba emosi, pikiranku kalut, aku menyendiri, membiarkan semuanya kembali membaik, aku tidak akan membiarkan syaithan memanfaatkan kondisi itu. Aku harus melawannya. Bukankah Tuhan sedang melihat? Aku harus bisa!

Insyaallah, Allah akan memudahkan, perlahan-lahan aku mulai mengerti betapa uniknya caraNya mengajariku untuk sampai sejauh ini. Ini tidak boleh kendur!

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers