UA-89306807-1

Menemukan MIMI

Ini sudah menjadi hari ketigaku di rumah Teh Oci. Teh Oci sengaja memintaku tinggal di rumahnya untuk menjaga tiga anak laki-lakinya yang masih bujang, Riyad, Syahrul, Faikal. Sementara Teh Oci membawa Paman ke Malaysia untuk berobat sakit mata.

Keseharianku di sana adalah menjadi emaknya mereka, pagi-pagi buta bangun menuju dapur memasak nasi dan lauk, bila azan berkumandang mengetuk kamar ketiganya untuk segera shalat subuh, aku pun demikian, selanjutnya menyapu rumah sambari merepet sana sini untuk ketiganya. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mencari-cari kesalahan ketiganya. Mereka pun berang. Apa aku akan di serang?

Berani?

Tanpa uang.

Tanpa makanan.

Ketiganya kembali normal. Menjadi saudara yang manis, bahkan sangat manis. Faikal si sulung sampai mengajakku bertanding playstation, tapi karena itu pertandingan bola aku menggeleng.

Aku dikepung oleh tiga saudara laki-laki, ini hari keempat. Selain ke pasar membeli beberapa stok makanan, aku seperti dilahirkan menjadi janda, mengurus anak tanpa suami.
Hingga akhirnya aku yang berang. Bosan, jenuh. Aku memang bukan yang tertua diantara kami. Jika kuurutkan, Faikal itu adalah abangku, Syahrul dan Riyad adikku. Ketiganya sama-sama berantakan, oke mungkin Syahrul lebih rapi dari abangnya, lebih manis dan setidaknya dia suka membantuku memotong buncis dan wortel. Tapi bukan sekedar memotong sayur yang ingin kutemui di sini!

Pletak!
Aku memotong telenan dengan suara keras. Ketiganya melihatku. 
Apa lihat-lihat?
Tatapanku bicara.

Kenapa?
Ketiganya diam dan memasang tampang penuh ketidaktegaan atas nasip yang menimpaku.

"Ya, setidaknya ada yang bisa dilakukan yang lebih manarik selain memasak dan menyapu, apalagi mengurus tiga saudara sendiri" aku menaruh pisau dan duduk manis menutup TV.

Ketiganya memandangku datar. Sedetik kemudian tertawa, Riyad sampai memukul-mukul bantal. Aku bangkit dan kembali mengolah sayur, mungkin sayurnya adalah ketiga daging hidup itu biar kusop sekalian. 

"Kak, ini kan rumah bekas tsunami, di sini ada orang ke lima lho." itu suara serak-serak basah Riyad. 

"What?" balasku, ketiganya mengangguk. "Kenapa baru bilang?" suaraku meninggi. Ketiganya menggeleng.

Krriiing, kriiingg...
"Itu dia," Syahrul malah menjauhi gagang telepon.
"Siapa?" tanyaku.
"Mimi, kak"
"Angkat dong!" aku melanjutkan memotong sayur, langit mulai menarik senja disertai awan kelabu, sepertinya hujan akan turun dan itu artinya aku harus mengangkat jemuran bukan malah mengangkat telepon.
"Nggak!"ketiganya menolak.

Bah! Apa-apaan kalian ini!
"Kalau gitu, noh angkat jemuran biar kakak y angkat teleponnya" ketiganya langsung kabur ke halaman belakang mengangkat jemuran, dan tinggallah aku sendiri, menekan saklar mencoba menghidupkan lampu tapi sial, listriknya malah padam, syukur nasi sudah terlebih dahulu matang dalam ricecooker dan bumbu seperti arahan Teh Oci, tinggal mengambilnya di dalam kulkas karena semuanya sudah digiling, ah... Teh Oci memang paling pinter mengurus keluarga, aku jadi bisa belajar banyak darinya. Pikiran apa saja yang masih harus kubereskan di dapur mengantarkanku ke gagang telepon yang berdering setelah listrik kembali hidup.

"Assalamu`alaikum?" aku membuka salam.
"Kkrek, hkhehk hhhehkh..."
"Maaf, ini dengan siapa? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Miimii, dibawah koo..." suara becek itu putus, kasak-kusuk yang kudengar tidak jelas kemudian yang terdengar adalah, "Isni, Teh Oci masih harus di sini mungkin seminggu lagi, Paman harus operasi sekali lagi, yang semalam gagal, mohon doanya ya... Maaf ya Is, Teteh Jadi banyak ngerepotin, Isni. Gimana kabar ketiga pangeran Teteh?" nah, itu adalah suara Teh Oci.
"Ah, nggak apa Teh, lumayan buat belajar kalau-kalau jadi janda beneran" Teh Oci seberang sana tertawa keras. "Oh, ketiga pangeran ada tuh lagi angkat jemuran"
"Wah, ketiganya? Tumben, rajin. Ckckck" Teh Oci kembali terkekeh. "Mereka nggak nakal kan?"
"Nakal sih enggak, Teh, nggak pakai pisau tapi pakai bantal"
"Hahhaa" Teh Oci meledak tertawa. "yaudah kalau gitu, minta bantu abang ambilkan uang ya, tadi Teteh udah kirimkan uang belanja untuk seminggu"
"Oke, Tetehku sayang, titip salam buat Paman, semoga lekas sembuh, aamin."
Klik.
Panggilan terputus.
"Gimana?"
"Astagfirullah!" aku terkejudt bukan main, ketiga pangeranku sedang berjejer mulai yang paling kecil dan paling macho badannya, "Apanya gimana?" tanyaku kembali mengambil pisau.
"Mimi?" nah, itu jadi abang kok malah penakut amit, seharusnya ngelindungi adeknya kek, bukan malah ikut-ikutan, apa ini bagian dari skenario mereka, sedang mengusiliku? Oh, bisa jadi!
"Mimi bilang, dia ada dibawaaah... kursi"
"Kursi kamar abang kan kak? Bukan kamar dek yad," aku menahan tawa mendengar ketakutan Riyad si bungsu.
"Nah, kakak lupa tanya di kamar siapa."
Ketiganya masuk, meletakkan kain jemuran dan berangsur ke kamar masing-masing. "Eeeh, kemana kalian?" kejarku.
"Kamar"
"Tidur"
"Mimi bilang dia ada di bawah koo..." seketika langkah ketiganya terhenti.
"Di bawah apa?" 
"Nggak tau, terputus... Teh Oci yang menelepon."

"Ketiganya kembali ke ruang TV. Duduk berderet mulai yang paling kecil, sedang dan besar. Aku yang nggak tahu apa-apa, memandang ketiganya penuh dosa.

"Siapa Mimi yang kalian bicarakan sih?" tanyaku duduk di depan mereka.
"Nggak tau, tiap panggilan telepon itu berdering, selalu saja ada suara aneh."
"Sejak kapan?"
"Sejak Ayah memasang telepon"
Aku terdiam.

"Abang, dek yad tidur dengan abang yaa malam ni..." nah, manja Riyad kambuh, Faikal menolaknya pasti.
Akhirnya makan malam siap juga, selepas shalat magrib kami makan bersama. Selanjutnya menemani Riyad mengerjakan PR, Syahrul sedang push up di kamarnya, sedangkan Faikal dengan tumpukan komik.

Riyad tidur sekamar dengan Syahrul. Faikal masih berkutat dengan komiknya, kuambil satu komik miliknya, melihat gambarnya yang sulit kucerna kembali meletakkannya. Melihat-lihat isi rak buku, sudah menjadi kebiasaanku jika di rumah Teh Oca, biar pun jorok, aku nyaman di kamar Faikal karena banyak buku. Keberadaanku jelas untung baginya, aku membereskan isi kamarnya barulah diizinkan bebas mengacak rak bukunya. Aku mengambil novel dan membacanya di kasur.

"Is, Mimi bilang apa sih?" Faikal membuka kejadian tadi sore.
"Yaa, nggak jelas."
"Terus nggak takut?"
"Hmn, mungkin karena belum merasakannya, emang siapa Mimi itu, bang?"
"Enggak tau, di rumah ini, cuma kami bertiga yang bisa mendengar suara Mimi dari panggilan telepon, dan sekarang bertambah Isni"
"Teh Oca, Paman?"
"Nggak"
"Terus Mimi pernah bilang apa ke kalian? Sesuatu yang bisa digabung-gabungkan, mungkin kita bisa menemukan Mimi?"
"Hahhaa, kebanyakan baca novel kamu, Is" Faikal membalikkan tubuh hendak tidur.
"Weew, jangan main tidur gitu aja, dong..."
"Udah, balik kamar gih. Abang mau tidur."
"Nggak mau"

Kriiingg kriiinggg
"Tuh, Mimi tau Isni belum mau tidur, sana angkat kali aja ketemu Mimi terus Mimi mau temenin Is tidur"
"Abaaaaaaaaaaaaang!" aku menarik bantal dan selimutnya.
"Kenapa?" tanyanya, aku cuma bisa cemberut antara takut dan kebelet pipis. "Kan, Isni berani?"
"Lu aja yang cowok, jadi abang, penakut lagi. Apalah Isni, cewek, adek, ngebiarain gitu aja"
"Terus, abang harus gimana?
Pletak!
Kujambaklah rambutnya yang cepak. Sana abang yang angkat, kali aja Teh Oca ngabarin berita apa tentang Paman.

Sebari Faikal mengangkat telepon. Aku di kamar menunggu sambil membaca novel, lima belas menit kemudian Faikal tak juga kembali. 

"Kenapa Bang? Teh Oca bilang apa?" tanyaku.
"Sssttt..." Faikal memintaku diam. Aku pun diam, jam menunjukkan pukul 00.15 wib, sudah sangat larut. Aku memutuskan menemani Faikal mengangkat telepon dan bersandar di dinding. Aku akan tertidur seperti cicak tidur andai tangan Faikal tidak menguncang bahuku keras.

"Isni, Isni..." panggilya gemetaran.
"Ya, bang?"
Faikal terkulai lemah di lantai. Tangannya menggenggam angin. Tapi gagal. Raut wajahnya memucat, kacamata dimatanya berkabut perlahan ia buka maka yang terlihat adalah air mata yang dipaksa tahan.

Faikal menarik tanganku, lebih tepatnya menyeretku masuk ke kamarnya. Mungkin, ia tidak ingin kedua adiknya tahu tentang kejadian ini.

"Kita tidak perlu takut lagi, Mimi sudah pergi, dia berpesan kepada abang untuk sampaikan kepada Isni, terimakasih sudah bersedia tinggal di sini, menjadi bagian dari keluarga abang, melakukan ini semua seolah-olah isni adalah anak perempuan Mama."
Aku tak mengerti dengan pembicaraan abang diiringi isak tangis yang tersedu-sedan.

"Isni nggak ngerti maksud abang"

"Mimi itu adik perempuan abang yang Mama angkat dari jalanan, dan meninggal karena tsunami. Mimi cuma ingin memastikan kalau Mama tidak kesepian, Mama selalu menginginkan anak perempuan yang bisa diajaknya bicara, belanja, memasak, tapi Mimi tidak sempat membalas semuanya. Mimi bilang, abang harus menyayangi Isni, seperti menyayangi Mimi. Bodohnya abang, abang malah lupa dengan Mimi, itu baru 8 tahun yang lalu, Mimi pasti seusia Isni sekarang, ya... Mimi... seharusnya abang tidak lupa dan tidak perlu takut." Faikal mulai lega, sedikit tersenyum. Aku masih bingung dengan pembicaraannya itu.

"Sekarang abang antar Isni ke kamar ya, Isni harus tidur, besok kan hari Minggu, kita main ke pantai, jadi sekarang Isni harus istirahat" katanya sambil mengacak-acak rambutku, itu itu... kebiasannya waktuku kecil, selanjutnya ia akan menarik sehelai rambutku dan, 

Aw!
Aku menjerit, Faikal kabur.

3 komentar:

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers