UA-89306807-1

Inspiratif: Dawul Ghazabi Bissumti

Apa yang Anda lakukan ketika sedang marah besar?


Syarifah Aini adalah seorang ibu rumah tangga yang sebenarnya bukan tipe wanita pemarah. Ia dikenal berperwatakan keibuan, dicintai oleh suaminya disayangi oleh dua bocah yang lucu-lucu. Ia terbiasa mengatasi masalahnya dengan tenang. Tapi sebenarnya, kehidupan yang diselami Aini sangat memicu kemarahan. Suaminya pekerja keras, bisa dikatakan ia sibuk dengan perusahaan minyak yang baru-baru ini buka cabang di Sibreh, sebuah daerah kecil yang jauh dari perkotaan. Kedua bocahnya yang lucu-lucu tak jarang mengacaukan hari-hari Aini yang seabrek dengan pekerjaan. 

Aini bisa saja marah. Bisa. Aini punya hak untuk marah.

Pagi-pagi sekali Adit sudah rapi dengan seragam sekolahnya, mengikat tali sepatu rapi dan menunggu Ayah mengantar ke sekolah dengan mobil. Aini segera memandikan Bia yang akan diajaknya ke sebuah swalayan untuk berbelanja. Itu kebiasan Aini, menghabiskan waktu di rumah dan berbelanja kemudian menjemput Adit di sekolah, kembali ke rumah untuk memasak. Itu rutinitas ibu rumah tangga kebanyakan. Tapi, Aini melakukan hal lain bersama kedua bocahnya itu. Sesuatu yang ia perkirakan akan menyenangkan dan membuat anak-anak betah di rumah bersamanya.

Aini memasak kuah asam keueng, dengan sayur tumis kangkung. Kemudian mengecek untuk kesekian kali apa yang sedang dilakukan oleh Adit dan Bia. Adit biasanya akan mengerjakan tugas sekolah atau menggambar, sedangkan Bia bermain memasang puzzle. Tapi saat Aini ke ruang keluarga, hendak mengajak kedua bocahnya memberi makan kelinci-kelinci piaraanya. Adit dan Bia tidak ada!

Aini meneriaki seluruh ruangan yang ada di rumahnya yang tapi tidak ada suara jawaban. Aini keluar mencari kedua bocahnya, mungkin ada di kandang kelinci tak sabaran menunggu Aini siap memasak. Sayangnya, dua bocahnya itu juga tak ada. Aini mengetuk pintu tetangga sebelah dengan harapan Adit dan Bia sedang bermain dengan Aslan dan Mimi. Saat Maryam membuka pintu, dan mengatakan kedua anaknya sedari tadi pagi ke rumah pamannya di Darussalam. Aini semakin cemas, ia merongoh hp di kantong roknya dan memanggil suaminya. Malangnya, no suaminya sedang di luar jangkauan. Aini hampir roboh di rumah Maryam jika tangan Maryam tak menangkap Aini secepatnya.

Aini tidak duduk diam, ia berniat mengecek rumah tetangga lainnya masih berharap anaknya sedang di sana. Tapi lagi-lagi, Aini ingin berteriak keras, air matanya ingin menetes. Seharusnya ia mengunci pintu rumah. Seharusnya dan seharusnya apa yang seharusnya ia lakukan berseliweran menganggu pikiran Aini. Kepalanya tiba-tiba saja menjadi berat. Ia memutuskan kembali ke rumah, dan menghubungi suaminya lagi setibanya di sana.

"Adit! Bia!" pekik Aini di muka pintu. Kedua bocahnya itu terheran dengan teriakan Aini. "kemana saja kalian? Ibu carikan kemana-mana tak ada!" sambung Aini memanas, Adit melangkah ke belakang, bajunya ditarik Bia yang tak kalah takut. 
"Jawab!" suara Aini berapi-api.

"Assalamu`alaikum" salam dari suaminya yang baru pulang kerja.
"Ayah juga!" Langkah Yudi tertahan di muka pintu. "Kemana aja Ayah? Handphone dimatikan, Ayah mau buat Ibu stres di rumah?" todong Aini.

Yudi memberi kode kepada Adit, tapi Adit hanya menggeleng. "Kenapa Bu? Apa yang terjadi? Maharmu hilang? Nanti Ayah gantikan, Ayah menang tender nih"

"Uang saja yang Ayah pikirkan, anak-anak menghilang Ayah tau?" Aini masih nyerocos, panas.

"Hilang gimana, itu Adit dan Bia sehat wal afiat" Yudi jelas belum mengerti.

"Bu, ini" Yudi memberi selembar post it yang ia dapatkan dari karyawannya tadi pagi, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Aini, Adit, dan Bia. Tapi, ia merasakan untuk saat ini Aini hanya membutuhkan apa yang ada di tangannya.

Aini mengambil post it berwarna kuning, tertulis di sana, "Dawul ghazabi bissumti".

"Coba dibalik kertasnya," kata Yudi sambil berlalu, merangkul bahu Adit dan Bia masuk ke kamar. Aini membalikkan post it, dan tertera di sana, "obati marah dengan diam". Seketika saja Aini terdiam, tak bergerak, matanya menerawang sekitar, semesta memandangnya pilu.

****

Tulisan ini diikutsertakan dalam kelas menulis FLP Wilayah Aceh, #ini bukan teori


7 komentar:

  1. copas nih, dari fb :

    aaah... yayaya... aku uda baca... hehehe
    maaf. agak kurang menarik, pesannya sih dapat. Tapi kurang enak dibaca aja, mungkin karna terlalu terburu-buru kali yaa.. afwan. hahaha

    BalasHapus
  2. Hahahhaa, bener2 di copas. Hahahha, makasih yaa udah baca udah komen di fb dan dimari. Hihi... :D

    BalasHapus
  3. Isniiiii, Hihihihihi, seram kali Aini versi Isnii. Okee, ceritanya khas Isni.

    BalasHapus
  4. terus aini langsung diam ga jadi marah ga? :D

    BalasHapus
  5. Hahahaha, cukop ngeri kak aini marah....

    eh, mimi dan aslan kok disebut-sebut?
    teros ke mana adit dan bia selama menghilang?
    jangan-jangan, emang aslan dan mimi yang palsu.. -_-"

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers