UA-89306807-1

Diary Analyzers: Teman Sebangku

Halaman sebelumnya: Prolog Diary Analyzers


Yang paling ia benci adalah pisah kelas. Itu artinya ia harus memilih teman sebangku. Bermuka ramah. Memilih dan memilah teman. Ia tidak suka. Berdiri di muka kelas menjadi momen yang paling mengasingkan.

Tetap saja. Ia akhirnya harus memilih, bukan?

Siapa yang kamu pilih? Teman sebangkumu, apa kabar dia hari ini? Apa yang paling kamu rindukan darinya?

`Nanti, jika pisah kelas lagi, apa kamu akan ingat, apa isi ceritaku yang lebih banyak tawanya, bagaimana kamu dapat menerima lelucon konyolku, aku… yang sebenarnya adalah gadis pemalu’

Dengan kalimat terakhirnya, ia yakin teman sebangkunya itu akan tertawa terpingkal-pingkal. Kedua tangan bermansetnya berkali-kali memukul meja sambil tertawa.

‘Pemalu apanya, hahaha’ Komplen gadis berjilbab besar menutupi tubuh kecilnya yang mungil. ‘aku akan ingat sesuatu darimu’ sambungnya menahan tawa sejenak.

‘Cara kamu menertawai ceritamu’ tawanya menggelegar kembali. Seisi kelas memperhatikan bangku terdepan itu. Mereka merupakan pasangan yang satunya besar dan satunya lagi sebaliknya. Teman di belakang berkali-kali komentar saat pelajaran dimulai, ‘nunduk lima menit, geser kanan, geser kiri, goooooll’.

‘Satu lagi, sebentar, aku ingat-ingat’

‘Apa itu, Dar’

‘Ekspresi wajahmu’

‘Oh, kenapa dengan ekspresiku, Dar? Aku terlalu manis ya? Eh, Dar, dia itu siapa, aku sebanarnya nggak suka sama dia, tapi dia itu lucu, tapi aku nggak suka’ Topik pembicaraannya bisa saja berpindah seketika, tiap kali pandangannya menemukan hal yang menganggu.

‘Sebenarnya, yang mau kamu bilang, dia itu lucu atau nggak suka, sih?’

‘Aku bingung, Dar’

****

Kelas itu adalah warisan pemilik sementara kelas sebelumnya. Tentu, suatu hari mereka harus mewariskan kelas ini. Kalau boleh jujur, mereka rela, asalkan, lepaskan segala yang ditempelkan pada dinding.

'Konyol! Berhenti keluarkan kalimat memalukan, itu seakan mengatakan, betapa kerenya kalian' Angin saja tahu, betapa kerenya, oh... sebenarnya betapa pelitnya, oh tidak juga, betapa perhitungannya kelas itu.

Perdebatan akhirnya mengumpulkan penghuni kelas. Semuanya. Polling akan segera diadakan. Pintu kelas ditutup rapat. Lewat jendela kaca, beberapa siswa berusaha mengintip, ingin tahu, siapa yang akan mereka demo.

'Ya! Kami akan mendemo dinding kelas' Jendela kaca angkat bicara, sepertinya ia juga ingin di cat.

‘Pertama, siapa yang setuju cat kelas diganti’ Tali pinggangnya tidak pernah lepas. Ia selalu tampil rapi, tapi tidak pada perkataanya yang bisa jadi sangat menyebalkan. Jika suasana gaduh, ia akan mengetuk papan tulis dengan spidol. ‘Masa kita pakai cat mereka, gantii lah,’ Ia berusaha membuka pikiran teman-temannya.

Sesuai dengan polling, pemilihan warna cat juga diadakan polling. ‘Oke, pilihan warnanya coba disebutkan’
  
‘Putih’

‘Orange!’

Semua mata tertuju pada jilbaber penggila warna orange. Tentu saja, mereka menggeser warna orange.

‘Lihat ya, suatu hari nanti, pesona warna orange itu menyala-nyala!’ ancamnya disambut tawa seisi kelas.

'Cream

‘Hitam’

Glek! Tiba-tiba saja kelas menjadi gelap. Teman-temannya menyela dengan pilihan warna lain.

‘Dar, kamu suka warna apa?’ Dara membisikkan sesuatu pada teman sebangkunya.

‘Biru’ Diantara tiga puluh dua pemilik suara, entah darimana pilihan itu bermuara.

Kamu, ingat apa warna kelasmu? Apa yang kamu lakukan dengan dinding baru itu, seakan telah kalian tukar dengan gandum puluhan hektar?

Dinding itu telah menjadi latar banyak foto kita.

5 komentar:

  1. alurnya hebat, dengan tempo yang cepat, hasilnya: suasana penceritaan menjadi sangat hidup, tapi tentu ada beberapa hal yang sangat baik untuk ditingkatkan. malangnya saya tidak pintar untuk mengkritisi lalu memberi solusi. tapi, mengutip kata-kata Mei-Mei dalam serial UPIN & IPIN, saya harus katakan bahwa "Saya suka-Saya suka.." lanjutkan Is (y)

    BalasHapus
  2. Nazri, boleh jalan pulang. :p

    Aulia Kamal, makasih sarannya. Doakan bs dilnjutkan crtanya ya. hhehe ^^

    BalasHapus
  3. Aku sukanya warna pink! *tunjuk tangan*

    Lanjutin, Isni. Aku udah baca dari prolognya sampe sini, belum puas. :D

    BalasHapus
  4. Hahhaa,, makasih Sari udah berkunjuuung. Sering intip-intip blog Isni yaa. Hhehe

    Ini belum masuk konflik, lho. :D

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers