UA-89306807-1

Prolog: Diary Analyzers


Ini hanyalah prolog, tidak lebih. Aku tidak ingin menggeser mereka yang jauh lebih pantas menduduki peran utama dalam tiap halaman nantinya. Aku tidak terkenal. Walau aku dulunya belum menggunakan kacamata, aku termasuk dalam katagori gadis culun. Tapi sekali lagi aku ingin sampaikan permintaan maaf, aku tidak dapat menduga bagaimana kisah ini berlanjut dan menjadi ending.

Mungkin aku adalah hantu. Ruh. Bunglon. Kupu-kupu. Debu. Mungkin, aku adalah kamu.

Aku tidak bertanggungjawab bagaimana kamu menerima halaman selanjutnya atau tidak. Maaf. Aku sudah memulai, artinya. Mau tidak mau, setelah prolog adalah page one.

Sebelum aku membuka page one, akan kuceritakan siapa aku, bagaimana aku memulai semua ini.
Hari itu entah bagaimana mulanya kami bersaing. Persaingan yang menyeretku masuk ke dalam diary konyol Analyzers. Aku tidak berniat menjadi juara. Tapi melihat bagaimana temanku belajar dan menyontek. Aku juga menutup kertas ujianku pada mereka. Eky, bukan nama samaran dan kami tidak dalam keadaan kasmaran. Percayalah, kami punya rahasia dan itu ya rahasia.

Aku mengutuk diri kalah darinya setelah menyemangati ketertinggalannya dalam belajar pada semester satu. Tapi semuanya hanya awal yang baru. Eky dengan wajah bahagia masuk kelas unggul XI Ipa-1 sedangkan aku, murung di muka kelas baruku, XI Ipa 2. Mereka menyebut kelasku adalah kelas inti, pemilik rapor dibawah rangking 4-8 dari 8 kelas X. Tapi, di hari pertamaku bersama teman yang diantaranya kukenal itu, mereka mondar-mandir masuk keluar kelasku. Saat itu aku belum mengenal mana teman sekelas, dan mana yang bukan. Aku keluar, mencari Eky, satu-satunya teman berbincang, mungkin karena kami memiliki mimpi yang sama.

Masih di hari yang semarak itu, memangku tas ransel di pundak masing-masing. Tiba-tiba saja suasana gempar. Banyak diantara mereka minta pindah ke kelasku. Beberapa teman sebaya dari kelas XI Ipa-1 menjumpaiku, menanyakan asal kelasku, beramah tamah, dan akhirnya menawarkan diri tukar kelas, ia berjanji akan mengurus semuanya asalkan aku mau. Itu adalah kelas Eky, tapi itu adalah kelas unggul. Dimana sarangnya jagoan. Aku kikuk.

Bahkan sampai aku pulang dan singgah di toko buku Zikra , sembari memilih novel baru di sana, ada yang mengirimku pesan, menelepon, intinya sama, memintaku tukar kelas, dan kamu tahu jawabanku, maaf tidak.
'belum apa-apa saja sudah diperebutkan' 
Kuharap, kelas yang digariskanNya dalam rute perjalanan hidupku memberi corak yang indah, walau tidak semeriah corak novel yang sering kubaca. Aku berharap, tidak ada kata menyesal di tengah semester.

Dan keesokan harinya, wajah kelasku benar-benar beragam. Ada yang tinggi, tinggi amat, dan yang pendek nggak pendek amat. Yang gemuk tapi anggun banget, yang kecil bawel minta ampun. Ada pula yang putih, maskulin banget, dan yang hitam kagak manis-manis banget. Satu lagi, ketika mereka tertawa, gaduh suasananya.
'dan ternyata... mereka... OMG!'

5 komentar:

  1. Isni... mntaapp lii ni.. kmi dukung jadiin novel ajj.. betolann.. recommended niii cerita....

    BalasHapus
  2. Hhaha, insyaallah disegerakan. Mkasih Badral. ^^

    BalasHapus
  3. whuaaa... whuaaa.. aku bukan pemeran utama kan? hehee
    *eeeh

    BalasHapus
  4. HHahaha, bukan Ky, tenang aja qe. :p

    BalasHapus
  5. baru mau mulai baca ni..ehem..tarik nafaaass....

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers