UA-89306807-1

Analyzers: Hari Wisuda

Biar nyambung, baca dulu Prolog: Diary Analyzers

Cuaca di Banda Aceh 27 Februari kemarin panas subhanallah. Untuk kesekian kali pula kudengar teriakan, ‘aku hauuus’ dari Agam dan Inong yang menyebut dirinya dengan Analyzers. Aku sih EGePe aja yah, ngapain coba sampe segitunya. Bela-belain pesan papan bunga. Ngumpul-ngumpulin duet kan repot beneran lho. Apalagi untuk teman yang sekelas lima tahun yang lalu. Eh, kurang kerjaan apa? Udah kaya kalian sekarang ya? Bukannya dulunya kere abis, sampe ngutip sampah cuma untuk bisa berangkat ke Medan. Hello… bubar aja lagi deh! Perut kalian pasti pada demo, lapar kan? Lagi pula, mereka yang wisuda toh masih ga jelas kapan keluarnya dari gedung putih auditorium Ali Hasjmy.

Sial. Aku kok malah merepet sendiri jadinya. Tapi syukur walhamdulillah sih, mereka beneran ninggalin papan bunga itu berteger penuh nestapa di sana. Tapi, lho… kalian kok pada meliuk-liuk kayak ular ngekorin mangsa. Yang Inong mengikuti yang Agam melewati mobil dan motor yang terparkir bolong-bolong menuju sebuah gedung putih. Lha, itu kan gedung akademik UIN Ar-Raniry. Ngapiin juga ke sana?

“Baah! Aku yang kuliah di sini malah nggak tahu kalau ada mushala di sini”

“Syukur deh, aku pake rok, ckck”

Yaah, ternyata mereka mau shalat. Gokilnya, ketika Dara memasuki toilet dan tiba-tiba keluar.

“Maunya si Dara ga usah keluar dulu, trus tiba-tiba yang cowok-cowoknya pada masuk dan aaawww… Dara, sejak kapan suami kamu menikah dengan laki jadi-jadian” bisik si Ash pada Isni.

Gedebuk! Gedebuk!

“Maka terjadilah aksi pukul memukul dengan tas emak-emak ala Dara, aaa… lucu lucu lucu banget… itu kan toilet cowok haha” Ash masih menceritakan khalayalannya kepada Isni. “Aduuh, aduh, aku kebelet kebelet kebelet…” tiba-tiba Ash yang masih berbedak minimalis mukanya berubah penuh sengsara. Tangan kanannya berkali-kali membuka pintu toilet yang ada gambar cewek pakai rok. Malangnya semua toilet terkunci dan ekspresi wajah Ash betul-betul matang sekarang. Kulit putihnya mulai mencurat rona merah, bisa jadi gosong jika Dara tidak memberi solusi.

“Udah, masuk aja, aku jagain”

“Bener tu? Jangan pulak qe kabur, Dar” bibir Ash bener-bener bakal dower beneran jika Dara tidak mendorong paksa tubuh ceking Ash.

“Banyak kali bicara” Dara memegang gagang pintu itu selagi para cowok menunggu cewek siap berwudhuk terlebih dahulu.

Mushala kecil itu bener-bener dingin, cocok buat Dara ngisi liqo`. Tapi kebiasaanya sih bukan liqo`, tapi ngegosip. Seperti yang terjadi di ruang kecil yang dingin karena terpasang kipas angin.

“Oi, mereka udah keluar” seru Ma`u yang tiba-tiba membuka pintu. Ketika melihat Dara dan Ash sedang menyapu bedaknya di muka. Ma`u malah ikut nepuk-nepuk pipi yang ga berubah juga kulitnya setelah dibedakin.

Maka mulailah aksi tawaf menuju papan bunga kembali. Diantara kerumunan orang, sesekali kaki Dara, Isni, dan Ash injit-injitan melihat kemana Julia memimpin jalan. Rame beneer halaman Audit, hampir tidak ada lapak untuk mereka berdiri di satu tempat yang sama.

Mataku mencari-cari teman karib yang wisuda hari ini, Bella pun muncul langsung saja tertangkap pelukan cium pipi kiri kanannya. Hijau gaunnya, senyum lebarnya bener-bener lengkap bahagianya. Apalagi dengan kehadiran Analyzers bersama papan bunga berukir nama bersanding gelar yang diraihnya susah payah. Mata Bella berkaca-kaca dan mulutnya berulang kali mengeluarkan kata terimakasih.

Tapi, bener-bener emang Analyzers. Kok bisa sih mereka tiap ada yang wisuda, adaa aja yang nyambut dengan tangan terbuka sambil berteriak histeris. Apalagi ketika gadis yang baru pulang Australia tiba-tiba saja muncul.

“Cuueex” Cuaca panas bener ditambah lagi suara histeris memanggil nama seorang gadis berkulit hitam tapi manis yang tiap kali di potret pasti senyumnya melebar dan tangan kanannya memberi lambing peace.

“Bella, eh Rahmaah fotoo, fotooo” pinta Analyzers pada Rahmah yang gerah dengan make up wisudaan mulai meleleh karena panas.

Bercak keringat tiba-tiba saja turun dari dahi meleleh sampai ke dagu ketika mataku menangkap kehadiran Kodrat, salah satu cowok Analyzers yang juga wisuda hari itu dengan harapan pengen banget liat topi toganya nggak muat dikepala. Emang pikiran usil itu nggak baek yah, tuh muat-muat aja di kepalanya. Kalau dilihat-lihat yaa, emang udah kodratnya gitu kali ya, dari dulu bahulu kala, nggak ada yang berubah. Setidaknya berubah jadi doraemon kek, kungfu panda kek, eeh… ini… masiih aja bulat.

Maaf nih ya, kok tiba-tiba aku teringat sama si Meri murid yang lagi ngikut ujian try out Kimia. Setelah seharian diserang soal yang berjibun, entah angin apa yang menganggu matanya sampai begitu muak melihat soal Kimia. Dan apa yang ia lakukan adalah, melingkari lembar jawabannya dengan pinsil 2B sambil mulutnya komat-kamit membacakan, ‘bulat bulat bulat bulat bulat, bulat bulat bulat bulat bulat’

Eh, hehe… bulat bulat bulat bulat bulat aja kamu masih. Ooops, bisa murka Pak Tentor jika kulanjutkan bahasin dia. Ingat ya pembaca, bulat bulat bulat bulat bulat, bulat bulat bulat bulat bulat.

Suweer, aku lega banget ngeliatnya masih bulat. Peace! Wkwkkwk… tawaku lebar banget tuh. Sorry, tapi nggak ada yang bulat nggak akan lengkap stok norak Analyzers yang sekarang sedang bersiap-siap menuju rumah Rahmah dalam agenda makan-makan. Ini nih yang nggak bisa dijauhin. Hahaha…

3 kwek kwek wisuda ^^

Selamat wisuda yaa buat kalian bertiga, semoga ilmunya berkah dan basmi pengangguran kayak (nunjuk angin), hehe....

5 komentar:

  1. Wah, selamat ya, buat yang wisuda..!

    BalasHapus
  2. isni kapan wisuda? #kemudiankabur

    BalasHapus
  3. Ikutan mengucapkan selamat... senangnya :))))

    BalasHapus
  4. Nesyaaa,, aku udah wisuda semester lalu lho, kan udah inboxan kita. Lupa ya? :(

    Makasiiih Sofii,,. Nazri... ^^

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers