UA-89306807-1

Dibalik Tawa Muslih


“Muslih! Nggak baik terlalu ria”

“Hahaha… malah perut buncit Ayah yang kejepit pintu,” lanjut Muslih tak mau tahu. Sebelum menyeruput teh hangat, sebuah hp bergetar dan terbahak-bahak tawanya saat membaca nama Ayah.

“Maaf, Dik. Ayah sudah tidak ada. Ayah sudah meninggal”

Seketika tawa Muslih padam.

“Apa maksud Anda?”

“Ayah kamu di Klinik Khansa sekarang” tangan kirinya lunglai melepas cangkir, menoleh pada asal kepulan asap.


_______selesai_______

5 komentar:

  1. hmm... singkat.
    Muslih dan Muci orang yang sama ya?

    BalasHapus
  2. Flash Fiction 100 kata kak, iseng nulis buat materi kelas menulis bsok di Rumcay. Datang ya kak... :D

    Iya itu sama, tp disunting aja ya biar ga mumang y baca. Hehhe

    BalasHapus
  3. flash fiction... wah seru juga ya, hebat gaya berceritanya ... :-)

    BalasHapus
  4. Kok saya gak ngerti, yaaaa????? *haduh akibat jarang baca cerita kali ya akhir2 ini

    BalasHapus
  5. Nggak ngerti dbgian mana, Sofi? :D

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers