UA-89306807-1

Kamulah Pelaku Itu

Kupikir, kita saling mencinta. Ternyata, aku salah.
Kuakui, itu salahku. Setidaknya, DULU. Tapi, beginikah balasan untukku. Kejamnya, kau cincang hatiku dengan jawaban lantang, 'IYA!'. Seolah, aku durja.

Untukmu kekasih, dia sahabatku, dan kau tentu tahu itu. Kukenalkannya padamu. Aku percaya, ia akan menjagamu. Baik, sangat baik, bahkan, diluar skenarioku. Ya! Aku bukan Tuhan. Bukan pencipta skenario. Tololnya, bagaimana mungkin aku memberi kunci pada maling.
Kau ingat? Ketika kita tertawa lepas, rambut ikalku tersapu angin. Aku berlari meninggalkanmu sengaja. Balasmu menarik tali ranselku hingga putus. Kamu, yang kukenal paling benci kutinggalkan. Sekarang, kau tak lagi menarik ranselku, tak lagi menarik rambutku, tak lagi menyembunyikan sandal jepitku. Kamulah, pelaku itu.

Aku pikir, kamu jahat. Tapi, ternyata aku salah. Kamulah pelaku itu, sahabatku. Kutitip ia untuk kau jaga. 

Kau jaga ia lebih dari yang kupunya. Sekarang kita bicara, kau telan ludah sendiri.

Aku pun sama, kutelan ludah sendiri. Kamu pergi bersamanya. Kini dan nanti, semoga aku cukup dengan kecuranganku kepadamu, kekasih.

Sahabat yang kamulah pelaku itu, jaga ia, jaga, walau bukan lagi sebuah pesan, melainkan tanggung jawab. Bahagiakan ia. Bukan aku orangnya, kamulah pelaku itu.

Temani ia, kamulah pelaku itu yang kubenci ingin kucaci.

~~
Terinspirasi dari kisah seorang sahabat, dan semoga pasangannya tabah.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers