UA-89306807-1

Surat Untukku 40 Hari Ke Depan


Hai diriku 40 hari ke depan. Dugaanku, kamu masih kecil, berpipi tirus, kurus tapi semakin terurus. Kamu sehat kan?

Hari ini aku sengaja mengirimkanmu surat. Apa ada kue tar di depanmu saat ini? sudah kuduga, tak ada. Dan aku yakin, kamu sudah merencanakan membuat kue untuk diri sendiri. Aku ingin hadir dan memotong bersamamu. Semoga aku dapat hadir. Tapi aku tak yakin dengan apa yang dapat kuhadiahkan. Aku hanya ingin kamu sehat, dan ibu bapak bangga telah melahirkanmu. Mereka tidak menangisi ulahmu kan? Aku pernah berkali-kali mendengar dari temanku, mereka membuat luka dan meneteskan air mata ibunya. Aku juga mendengar, ayahnya marah dan memecah vas bunga. Jaga hati keduanya ya, Isni. Kamu pasti bisa. ^^

Hei, bagaimana kabar bunga mawar kertas buatan kita? Masih marun dia kan? Lha, aku jadi teringat pada mimpi konyolmu. Maaf, aku tak yakin hari ini kamu mengalami mimpimu. Tapi aku masih penasaran dan ingin memastikannya. Apakah ada lelaki yang datang padamu dengan dua tangkai mawar. Oops, dan kamu pernah menjawab pertanyaanku, ‘Dua bunga itu bukan untukku,’

‘Lantas? Untukku?’

Dan kamu membantah, ‘Tidak! Itu, satunya untuk ibu dan satunya untuk bapak. Tanpa mereka aku tak ada’

Aku meleleh mendengar jawabanmu. Tapi aku tak yakin itu nyata sekarang. Tapi sekali lagi aku ingin memastikannya, apakah itu terjadi?

Dan, aku teringat, setiap kali kamu jatuh cinta, kamu menanam bunga mawar merah dan sayangnya tidak pernah tumbuh. Jika pun tumbuh, ia akan mati disaat bersamaan. Aku juga ingin memastikannya, apa kamu masih melakukannya? Menaruh cacing tanah dengan sengaja dalam pot bunga dan mengawasi, bahkan memetik daun menguning. Kamu sangat memperhatikannya, tapi itu tidak pernah tumbuh sampai berbunga. Apakah itu terjadi? Berbunga?

Bagaimana dengan novelmu. Maafkanku yang tak benar-benar duduk bersamamu menemanimu menulis, itu aku lakukan karena pintamu. ‘Aku tak bisa menulis jika diliatin, aku tidak bisa menulis jika kamu mengajakku berbincang!’ katamu ketika aku rewel. Aku harap, novelmu sudah dalam attachmen email salah satu penerbit dan segera diterbitkan. Allahumma Aamin.

Oya, baru-baru ini kamu gencar sekali menulis, apa yang kamu tulis? Kuharap kamu tidak lupa membalas suratku.

Salam sayang dariku, aku harap, harimu indah, temanmu terus menyayangimu dan Tuhan menganugrahimu ketenangan dan rezeki yang halal. Selamat iman dan tetap istiqamah.

Isni, apa kamu sedang menangis?

Menangislah, tak mengapa. Tapi janganlah kamu takut untuk dewasa. Masalahmu kemarin, adalah hadiahNya. Masalahmu hari depan adalah bonusNya.

Semangat slalu yaa... walau lagi-lagi hilang tahun. Doaku menyertaimu.

^0^

8 komentar:

  1. Jangan menangis, Isni 40 hari ke depan:)
    Nanti makin kecil

    BalasHapus
  2. Nanti Ai bikin kue untuk Kak Isni ya :D

    BalasHapus
  3. Nyaan Ai,, dtggu yaa kuenya. #siap-siap nagih :D

    BalasHapus
  4. Iya.. insya Allah Ka Isni. Semoga sampai umur ke hari ultah Ka Isni :D

    BalasHapus
  5. Hahhaa insyaallah. ^^
    Mksih Ai niatnya. :D

    BalasHapus
  6. 40 harinya tanggal berapa ya ?

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers