UA-89306807-1

Kotaku Istana Sultan


(23/4/14) Rabu pagi yang cerah. Kota Banda Aceh terlihat ramai disepanjang jalan. Saya bersama Repho (sepeda motor) hendak ke Peuniti untuk memperbaiki handphone. Karena teknisi belum datang, saya meninggalkan Hp di sana lalu memutar setir motor tanpa tujuan. Saya baru sadar kalau tujuan keluar rumah pagi itu hanya untuk memperbaiki Hp.

Matahari pagi Banda Aceh sedang panas-panasnya. Mobil dan motor di hadapan saya berhenti. Entah kenapa saya malah ikutan berhenti dan memandang kagum Mesjid Raya Baiturrahman dengan gagah berdiri di tengah kota. Sekejap kemudian, saya memutuskan berbelok ke kiri tak ingin ikut terperangkap oleh lampu merah lebih lama.

Pacuan Repho menjadi lambat dan akhirnya terhenti ketika saya teringat pada sebuah brosur kecil dari Disbudpar Kota Banda Aceh. Tak menunggu klakson mengusir langsung saja saya arahkan si Repho meniti jembatan pertama Museum Aceh. Si Repho terparkir teduh, saya berdiri memandang sekitar. Saya sudah pernah ke sini, tapi kali ini, kenapa saya di sini lagi?

Mungkin wajah mungil saya terlihat seperti anak kesasar sehingga petugas berseragam dinas bertanya pada saya. Saya gelagapan dengan jawaban apa yang akan saya beri. Seketika saya teringat kembali isi brosur yang menceritakan tentang Lonceng Cakra Donya, tetapi pertanyaan yang keluar dari mulut saya malah, ‘Letak istana kerajaan Aceh dulunya dimana ya, Pak?”

Pak Aulia mengatakan bahwa komplek museum Aceh, bahkan sampai perkarangan Mesjid Raya Baiturrahman awalnya adalah istana kerajaan. Saya jadi teringat dengan celotehan Kak Marza dibalik telepon. Ia menceritakan bahwa pada masa Sultan Iskandar Muda, Blang Padang yang merupakan tanah waqaf dulunya adalah persawahan, dimana hasil panennya digunakan untuk biaya operasional Mesjid Raya. Artinya, istana kerajaan dulunya sangatlah luas. (sponsor: situs resmi rsu cut meutia)

Cakra Donya
Saya memisahkan diri dengan Pak Aulia dan mendekati Lonceng Cakra Donya yang terkurung di dalam sebuah kubah dan dirantai besi setebal 9,63 cm. Sejarah menceritakan lonceng buatan Cina pada tahun 1409 M tersebut merupakan hadiah dari kerajaan Cina melalui Laksamana Cheng Ho sebagai tanda persahabatan antara Kerajaan Cina dengan Kerajaan Aceh.

Lonceng Cakra Donya
Lonceng yang memiliki tinggi 125 cm dan lebar 75 cm diberi nama Cakra Donya. Cakra donya sendiri sebenarnya berasal dari nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda, tempat dimana pertama kali lonceng tersebut digantungkan. Sepanjang pelayarannya, ia menjadi saksi penyerbuan Portugis di Malaka. 

Lahirnya Putra Raja       
Saya semakin tertarik dengan sosok pemuda tangguh yang namanya diabadikan dimana-mana. Konon ceritanya beliau dilahirkan ketika matahari berada tepat di atas kepala, kalau orang Aceh katakan, tengoh tjot uroe timang. Dimana burung dari cakrawala turun mencari pepohonan yang rindang. Para petani menarik cangkul dari tanah kembali ke rumah. Ada yang sedang berbaring, ada yang sedang duduk menatap hidangan sang istri. Kala itu, masing-masing sedang beristirahat ketika letusan bertalu-talu terdengar dari pusat kota. Seketika mereka bangkit berlari mengambil senjata dan bergegas kalau-kalau kapal musuh telah membanjiri di Kuala hendak menyerang negeri tercinta.

Sebaliknya, orang-orang yang tinggal berdekatan dengan istana, suami dan istri, menteri, hulubalang atau para tetua besar, hamba raja mendengar letusan itu bersorak riang. Yang sedang berbaring bergegas berias, berkemas tak luput dengan kerudung, baju tengkuluk, dan rencong kelewang hendak menuju istana yang sedang dikarunia bahagia. Bahwa seorang putra raja yang sembilan bulan ditunggu telah lahir ke dunia.

Kalau saya cuma bisa memacu Repho, putra tercintanya Puteri Raja Indra Bangsa jagonya dalam memacu kuda. Sedangkan ayahnya bernama Sultan `Ala ad-Din Mansur Syah yang merupakan keturunan Raja Makota Alam. Sejak kecil putra raja tersebut dikenal dengan nama Perkasa Alam

Berdasarkan hasil analisis dari beberapa sumber yang ada menegaskan bahwa beliau lahir sekitar tahun 1593. Perkasa Alam pun menjadi cucu kesayangan `Ala ad-Din Riayat Shah Al-Kahar (Kakek sebelah Ayah). Kecintaan sang Kakek memberinya mainan kuda mas dan gajah mas. Juga dua biri-biri yang dapat bertarung, lalu gasing dan kelereng (panta) dari emas atau dari suasa, sayangnya saya tidak menemukan mainan lucu tersebut.

Seperti layaknya saya di masa kecil yang dinina bobokan dengan nyanyian hikayat Aceh, Kakek Perkasa Alam juga mendendangkan kisah Iskandar Zulkarnain. Siapa sangka, bimbingan sang Kakek membentuk kepribadian teguh beberapa tahun ke depan. Cucu tersayangnya pun dikenal dengan nama lain Tun Pankat Darma Wangsa.

Dibalik Keagungan Nama ‘Sultan’                                       
Sejak remaja ia sudah memiliki balatentara barisan muda yang juga sahabat dan teman main masa kecil. Bahkan barisan pemuda ikut mengantar kala merantau dan menjemput ketika berita duka menoreh luka, perang saudara didepan mata. Saya bergidik tak menyangka, kehausan terhadap kesultanan juga mengalir dalam darahnya.

Dikisahkan bahwa Sultan `Ala ad-Din Riayat Syah (kakek pihak Ibu) memiliki dua putra yang kala itu mulai memperebutkan pergantian tahtanya. Oleh kedua putranya, Sang Ayah mereka kurung dan kemungkinan meninggal dalam penjara. Maka putra sulungnya mengambil gelar Ali Riayat Syah dan memegang pemerintahan Aceh; sedangkan adiknya menarik diri sebagai gebernur di Pidir.

Mengetahui kedzaliman yang dilakukan oleh kedua paman kepada kakeknya, Perkasa Alam menyusun strategi yang pada akhirnya berhasil memecah-belahkan keduanya. Sayangnya, perjuangannya saat itu berakhir di penjara dengan kaki dirantai oleh pamannya sendiri. Kabar perang saudara itu tercium oleh Portugis. Portugis datang dengan pasukannya siap melancarkan serangan. Suasana menjadi semakin genting saat itu.

Menyadari kelihaian sang ponakan dalam bidang militer, akhirnya dibebaskan Perkasa Alam dari penjara dan diberi kedudukan sebagai panglima. Sebuah cercah cahaya pun semakin terang karena si paman meninggal hari itu. Tak menunggu lama, untuk menggandeng nama Sultan, langsung saja dikirimnya pembunuh bayaran untuk membunuh pamannya di Pidir.

Penobatan Sultan Iskandar Muda
Dari beberapa sumber yang saya baca menyatakan bahwa Perkasa Alam dinobatkan sebagai Sultan pada tanggal 6 Zulhijjah 1015 H atau 4 April 1607 M yakni pada usia tergolong muda 14 tahun. Sultan muda mempunyai balatentara dari barisan pemuda, maka gelar pun diambil yang berkenaan dengan semangat muda, hingga kini lekat dikenang dengan nama Sultan Iskandar Muda.

Perwatakannya yang tegas berhasil menaklukkan banyak kerajaan. Sesuai dengan nama kerajaan-kerajaan yang berhasil ditaklukkannya, Iskandar Muda menggelar dirinya dengan Raja Aceh, Raja Deli, Raja Johor, Raja Pahang, Raja Kedah, Raja Perak, raja Barus, Raja Passaman, Raja Tiku, Raja Sileda, dan Raja Pariaman. Selain gelar tersebut, di Aceh ia dikenal dengan gelar Meukuta Alam atau Makota Alam yang didapat setelah berhasil menaklukkan beberapa kerajaan tersebut. 

Keturunan Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda mempunyai tiga anak. Anak pertamanya bernama Puteri Sri Alam, yang merupakan buah hati Sultan dengan Permaisuri dari Reubee, yang kelak menjadi Sultanah di Aceh. Anak keduanya dari selir yang berasal dari Habsyi, Sultan Iskandar Muda memperoleh anak lelaki bernama Imam Hitam, yang kelak menurunkan Panglima Polim. Anak terakhir Sultan Iskandar Muda adalah Meurah Peupok, diperoleh dari istri selir yang berasal dari Gayo yang kelak dihukum rajam sampai mati oleh Sultan Iskandar Muda karena berzina.

Mate aneuk meupat jrat, mate adat pat tamita, (Mati anak jelas kuburan, mati adat-istiadat tak akan jelas keberadaannya). Sebuah hadih maja (kata bijak) yang pernah saya dengar dari Bapak saya. Sultan Iskandar Muda menjadi satu-satunya Sultan Aceh yang berani dan adil dalam mengadili rakyatnya, walau itu anaknya sendiri.

Saya kembali mendekati Repho sambil merapikan jilbab. Melihat petugas sedang duduk menjaga tiket masuk di bawah Rumoh Aceh, saya semakin penasaran dengan penjelasan Pak Aulia. “Adik keluar saja dulu dari jembatan pertama ini, lalu masuk kembali lewat jembatan kedua, sebelah kanannya langsung dapat dilihat makam Sultan Iskandar Muda,” tutur Pak Aulia. Saat itu saya terkejut. Ternyata makam Sultan berdekatan dengan posisi saya. Betapa malunya saya yang baru tahu. Bukan karena baru tahu sultan telah mangkat, bukan…! Saya malu karena tak acuh selama ini. Saya memang belum pernah masuk kalau jembatan kedua. Padahal, dari pintu masuknya terpampang jelas keterangan seperti gambar di bawah ini;

Jadi, pertanyaannya, kemana saja saya selama ini?

Saya semakin ternganga ketika badan saya berpaling, segerombolan ikut masuk dari pintu yang sama. Bisik-bisik saya bertanya pada salah satu pengunjung, dan ternyata mereka dari Padang yang rutin datang ke Aceh tiap mendekat Ramadhan. Subhanallah. Maka menyusuplah saya bersama mereka. 


Sultan Iskandar Muda meninggal di Aceh pada tanggal 27 Desember 1636, dalam usia 43 tahun. 421 tahun beliau telah tiada, tapi harum namanya tercium dari segala sudut kota Banda Aceh. Ternyata, hikmah saya keluar hari ini luar biasa besarnya. Saya menjadi semakin tahu dan menambal kegagalpahaman selama ini. Pantas saja masa kepemimpinannya, ia dikenang dengan Sultan yang paling berpengaruh, Aceh menjadi kerajaan besar dan kuat di belahan barat Nusantara.


Gedung Juang dan makam Sultan Iskandar Muda
Saya melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 10.15 wib, saya harus kemana lagi? Teknisi Hp baru tiba di toko pukul 11.00 wib. Tak mau berpikir lama, saya kembali memacu Repho ke arah Taman Putroe Phang. Pilihan tempat yang paling saya sukai. Paling sering saya ke sini sendiri, kadang menyelesaikan tugas atau sekedar menulis. Tapi kali ini tidak dengan keduanya, saya hanya ingin minum yang dingin di salah satu kursi sambil memandang Pinto Khop.
Taman Putroe Phang
Aaah, iya! Saya tak boleh melewatkan bagian ini, ini kan masih perkarangan Istana Sultan Iskandar Muda. Dulunya sang permaisuri bermain di sini, dan sekarang saya yang bermain-main di sini. Yaa dong, kan saya juga permaisuri dari suami saya nantinya. Ehem!

Ingatan saya semakin bersahabat setelah menegak minuman dingin. Pada tahun 1613 atau tahun 1615 tentara laut dan darat Sultan Iskandar Muda pernah melakukan penyerangan dan berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu. Nah, dari sinilah berawal kisah cinta Sultan terhadap Putri Kamaliah, atau kerap kita kenal dan melekat dalam nama taman ini, Putroe Phang.

Tradisi pada zaman dahulu menceritakan bahwa kerajaan yang kalah harus menyerahkan glondong pengareng-areng (hasil rampasan perang), upeti dan pajak tahunan. Termasuk juga menyerahkan putri kerajaan sebagai tanda takluk. Kecantikan dan budi bahasa halus yang dimiliki putri berhasil menarik hati Sultan dan memperistri sehingga jalinan persaudaraan tetap terjalin baik.

Taman Putroe Phang, tiap kali saya kunjungi selalu sejuk, bersih, indah dan nyaman. Saya membuang bekas minuman ke dalam tempat sampah basah sebelum keluar dari Taman Putroe Phang. Sekitar 30 meter dari pintu gerbang Taman Putroe Phang, saya langsung terhubung dengan pintu yang di dalamnya ada bangunan unik bernama Gunongan. Romantisnya Sultan membangun bangungan berbukit-bukit tersebut untuk permaisuri yang merindukan kampung halaman sebagai tanda cinta. 
Gunongan
Rakyat Aceh memberi gelar untuk Sultan, Poteu Meureuhom Meukuta Alam yang artinya Sultan almarhum Mahkota Alam. Pun dalam peribahasa Aceh lekat dikenang nasihat Putroe Phang;
Adat bak Poteu Meureuhom Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Bentara. Adat Meukoh Reubong, Hukom Meukoh Purih, Adat jeut Barangkaho Takong, Hukom Han Jeut Barangkaho Takih.
Artinya; adat istiadat asalnya pada almarhum Sulthan Iskandar Muda dan hukum dari Syiah Kuala (ulama), Qanun dari Puteri Pahang, Reusam dari Bentara (Uleebalang). Adat dapat dipotong seperti memotong rebung, Hukum seperti memotong sagak (ujung buluh keras), Hukum tak dapat diatur dengan semena-mena (melainkan wajib berdasarkan Qur`an dan Hadist).

Hari itu tanpa sadar saya telah menjelajah istana Sultan Iskandar Muda. WOW! Walau akhirnya Hp tetap dalam keadaan kurang sehat, hari itu saya bawa pulang senyum dan rasa bahagia. Sangking geregetnya hati, hingga tak terasa sudah sampai perkarangan istana orang tua saya. Kalau istana raja dipenuhi dengan ketegasan Sultan, istana kecil kami juga sama, Bapak adalah raja, dan kami patuh kepadanya. ^^


Referensi bacaan:
1.     A.D. Pirous, dkk, 2005, Aceh Kembali ke Masa Depan, (Jakarta: IKJ Press bekerjasama dengan KataKita).
2.    Denny Lombard, 2007, Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)).
3.    H.M. Zainuddin, 1957, Singa Atjeh (Biographi Seri Sulthan Iskandar Muda), (Medan: Pustaka Iskandar Muda).
4.    Harry Kawilarang, 2010, Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki, (Banda Aceh: Bandar Publishing).
5.    Zakaria Ahmad, 1972, Sekitar Keradjaan Atjeh dalam tahun 1520-1675, (Medan, Monora).


42 komentar:

  1. Semoga segera bertemu dengan sang Maharaja ya, Isni :-)

    BalasHapus
  2. Keren bahasannya dek..macam ikot jalan2 juga pake repho nya... hehehe

    BalasHapus
  3. Dek, maaf OOT. Resensinya dimuat di Kompas Anak kemarin. Apakah sudah tahu?

    BalasHapus
  4. Bang Nawir, makasih abg ya... ^^

    Kak Haya, iya Kak baru juga tahunya kemarin dri teman-teman. Telat tahu dan ternyata koran edisi hari Minggu sudah tak dijual lagi di Banda Aceh. Huhu
    Mksih ya Kak kabarnya dan smngat mnulisnya. ^^

    BalasHapus
  5. Ngefan sama Sultan Iskandar Muda? aku jadi membayangkan sosoknya mirip seperti Muhammad Al Fatih.

    BalasHapus
  6. Iyaaaakkk dunk, Sofi. Hhehe... ^^

    BalasHapus
  7. kren bnget ni ceritnya. terbawa dlam crita.
    yg gk baca rugi ni

    BalasHapus
  8. Sepertinya bisa jadi referensi video my beautiful aceh kami nii :)... mantap isni!

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah klau Rama menikmatinya. Makasih ya, Rama sudah mampir. :)

    BalasHapus
  10. Yang bener Kak Rahma? Hihi boleh-boleh. Ini jg hasil melumat banyak referensi. ^^

    BalasHapus
  11. hoooo.. baru tw diriku :/
    makasih kak :D

    BalasHapus
  12. Hohoho, rupanya ada yang baru tau jugak. Haghag... :D

    BalasHapus
  13. murdani_haikal29 April 2014 14.38

    Kisahnya seperti membawa kembali ke zaman Sultan. Oke untuk bacaan generasi kini dan masa akan datang...

    Saran: kisahnya dipadatkan kembali/detailkan lagi.. pasti lebih keren lagi

    BalasHapus
  14. duh, isni kayak anak keshil kesasar. tapi anak keshil yang ini jago nulisss. aiih, sainganlah kitaa xixixi.

    BalasHapus
  15. Sultanah Isni Al Miruk Tamani :)

    BalasHapus
  16. kak isni memang keyyeen ;)
    muter2 tanpa tujuan malah ngehasilin tulisan
    congrat ats resensinya kak :)

    BalasHapus
  17. hiyaa... Isni kesasar sendirian? truk aja gandengan! haha...
    Aceh mmg penuh sejarah. moga menang ya! :) #ting

    BalasHapus
  18. Kapan y bisa nulis teratur dan detail kya gini. ckckc. :D.
    eh, baru tau juga ternya Sultan Iskandar Muda punya banyak gelarnya :D

    BalasHapus
  19. Cara santai jelajah Istana Sultan, dimana lagi kalau bukan di kota Banda Aceh. Ayo segera berkujung kawan ke kota kami.
    Asik tulisannya, berasa seperti membawa diri langsung ke sana.

    BalasHapus
  20. keren artikelnya kak.. bantu komen juga ya http://ikhwangrafis.blogspot.com/2014/04/museum-eksotis-yang-sarat-dengan.html

    BalasHapus
  21. andai isni dari pahang dan lahir kala iskandar muda memimping Bansa Atjeh maka isni cocok jd putri nya.. bermain diantara gunongan dan pemandian putroe phang.. tapi jika bermain janganlah hingga magrib. karena ada maop....

    BalasHapus
  22. Makasih smua teman-teman yang sudah mampir dan menikmati pertualangan kecil saya. Smoga bermanfaat untuk rakan sekalian. ^^

    Bang Ariel, andaaiii saja. Haha... kami sudah menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda donk. Terus, rakan sekalian nulis tentang Isni. Hhehe tapi, cuma ANDAI. XD

    BalasHapus
  23. maantaaap...
    kisah di negri serban nabi,.anak raja cucu ulama,,.

    BalasHapus
  24. Kemarin itu pas Jelajah budaya kita kan ke Makam sultan Iskandar muda kak :D
    aslan baru sekali kesana...

    untuk putroe phang belum pernah masuk :D

    BalasHapus
  25. Aslan, pas jelajah budaya dg FLP kan kami cuma nunggu di Putroe Phang. Tapi berdasarkan tlisan ini, kk udah dahulu pergi ke Makam Sultan Iskandar Muda krna klian prgi hri Minggu kemarin. Hhehe

    Lha, y kemarin kita nulis jelajah budaya bareng FLP kan itu di Putroe Phang, Aslan.
    -_____-

    BalasHapus
  26. guwe pengen jalan kesana ga pakek motor isni, tapi sambil jogging pagi ato sore, ntar rutenya lewat jalan seblum jmbtan menju ke alu naga.

    BalasHapus
  27. Waw, keren juga tuh misinya. Tp klau Isni nggak kuat. :D

    BalasHapus
  28. nice share isni :) ternyata banyak yang kami nggak tw tentang sejarah aceh, *harus belajar sejarah lg :D

    BalasHapus
  29. Bisa dijadiin bacaan Hamdi nih... berhubung dia suka juga sejarah

    BalasHapus
  30. Desy, skrang udah tau kan? Hehe... lain wktu insyaallah Isni cba nulis sjarah lagi agar kita jd tau lebih bnyak. :)

    Kak Fida, ya boleh banget tuh kak. Ntar Isni bs diskusi sm Hamdi. Hehe
    ^^

    BalasHapus
  31. Mupeng nih lihat Foto Foto di atas kapan bisa ke sana ya?

    Isni ... apa kabar? kangen nih lama tak bersua kata ya? :)

    BalasHapus
  32. Ayook Mbak El kemari, itu baru sebagian lho y seru dan menggiurkan dari kota saya. Datang ya datang ya, ditunggu mbak El. Hehe

    Isni alhamdulillah sehat, Mbak. Iya lama, hehe smoga Mbak El dlm keadaan sehat walafiat jg yaa. ^^

    BalasHapus
  33. mantap Dx telah mengupas tentang kerajaan Aceh semoga sukses Dx a menulis kisah-kisah sejarah-sejarah yg lainnya

    BalasHapus
  34. Keren isni,... :D banyak info baru di blognya isni.. nice! :D

    BalasHapus
  35. Makasih makasih udah mampir. Smoga bermanfaat ya. :)
    hehe

    BalasHapus
  36. Reza, nggak donk. Cuma dipakai frame doank ketika ditata. ^^

    Kak Green, pulanglah ke sini biar kami ajak-ajak. :D

    BalasHapus
  37. kk bagus x tulisannya,,, kagum sama kakak (Y) .
    semoga kelak nanti yanna bisa juga buat satu tulisan yg bs bagusnya keq yang kk buat .... :)

    BalasHapus
  38. Hehehe, makasih Yanna ya. Ya, harus! Biar sejarah ttg Aceh ga luntur dikenang masa. ^^

    BalasHapus
  39. Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setelah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014


    Salam
    Baba Studio

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers